PENANGANAN GANGGUAN MAKAN – Sering kali sulit untuk membuat pasien dengan gangguan makan untuk menjalan: penanganan karena umumnya pasien mengingkari bahwa ia memiliki masalah. Oleh karena itu, mayoritas penderita gangguan makan—hingga 90 persen antaranya—tidak dalam penanganan (Fairburn dkk., 1996). Perawatan di rumah sakit, yang kadang dijalani dengan terpaksa, sering kali diperlukan untuk menangani pasien anoreksia agar asupan makanan pasien dapat ditingkatkan secara bertahap dan dipantau dengan teliti. Berat badan dapat sangat kurang sehingga diperlukan pemberian makan melalui infus untuk menyelamatkan nyawa pasien. Komplikasi medis dalam anoreksia, seperti ketidakseimbangan elektrolit, juga memerlukan penanganan. Pada anoreksia dan bulimia, diberikan intervensi biologis dan psikologis. liarena bulimia nervosa sering kali komorbid dengan depresi, gangguan ini ditangani dengan berbagai antidepresan. Minat difokuskan pada fluoksetin (Prozac) (a.1.,

Fluoxetine Bulimia Nervosa Collaborative Study Group, 1992). Dalam suatu studi multisentral, 387 perempuan dengan bulimia ditangani sebagai pasien rawat jalan selama delapan minggu. Fluoksetin ternyata lebih memberikan hasil dibanding ‘Dlasebo untuk mengurangi makan berlebihan dan muntah; juga mengurangi depresi dan sikap yang menyimpang terhadap makanan dan makan. Berbagai temuan dalam sebagian besar studi, termasuk berbagai studi double-blind dengan kelompok kontrol plasebo, mengonfirmasi kemampuan berbagai macam antidepresan untuk mengurangi pengurasan dan makan berlebihan, bahkan di kalangan pasien yang tidak mengalami perbaikan dalam penanganan psikologis yang diberikan sebelumnya (Walsh dkk., 2000; Wilson & Fairburn, 1998; Wilson & Pike, 2001).

Dari segi negatifnya, jauh lebih banyak pasien yang tidak tuntas menjalani penanganan dengan obat-obatan dalam berbagai studi tentang bulimia dibanding yang tindak tuntas menjalani jenis penanganan kognitif-perilaku yang akan dijelaskan nanti (a.1., Fairburn, Agras, & Wilson, 1992). Dalam studi multisentral tentang fluokseirn yang dikutip di atas, hampir sepertiga pasien berhenti sebelum akhir masa penanganan yang berlangsung selama delapan minggu, terutama disebabkan efek samping obat-obatan yang diberikan; bandingkan dengan angka kurang dari lima persen pasien yang berhenti dari terapi kognitif-behavioral (Agras dkk., 1992). Terlebih lagi, sebagian besar pasien kambuh ketika pemberian berbagai jenis obat antidepresan dihentikan (Mitchell & de Zwaan, 1993; Wilson & Pike, 2001), seperti yang terjadi dengan sebagian besar obat-obatan psikoaktif. Terdapat beberapa bukti bahwa kecenderungan untuk kambuh tersebut berkurang bila antidepresan diberikan dalam konteks terapi kognitif-perilaku (Agras dkk., 1994).
Obat-obatan juga digunakan dalam upaya menangani anoreksia nervosa. Sayangnya, hal itu tidak terlalu berhasil. Hanya terdapat sangat sedikit keberhasilan dengan obat-obatan untuk meningkatkan berat badan secara signifikan, juga tidak mengubah gejala-gejala utama anoreksia, atau memberikan manfaat tambahan yang signifikan dalam program standar penanganan pasien rawat inap.

Filed under : Bikers Pintar,