PENANGANAN MORAL DI RUMAH SAKIT JIWA

99 views

Penanganan Moral di Rumah Sakit Jiwa. Setelah perubahan manusiawi di La Bicetre, rumah-rumah sakit yang didirikan di Eropa dan Amerika Serikat relatif kecil dan didanai pihak swasta. Seorang penjual terkenal dan anggota jemaat Quaker (perkumpulan Kristen yang antiperang dan antisumpah), William Tuke (1732-1822), terkejut dengan kondisi di Rumah Sakit Jiwa York di Inggris, mengusulkan kepada Society of Friends untuk mendirikan rumah sakit sendiri. Pada tahun 1796, York Retreat didirikan di daerah pedesaan. Institusi tersebut menyediakan atmosfer yang tenang dan religius bagi para pasien jiwa untuk hidup, bekerja, dan beristirahat. Para pasien membahas kesulitan mereka dengan para perawat, bekerja di kebun, dan berjalan-jalan di pinggir desa.

Di Amerika Serikat Rumah Sakit Jiwa milik Friends yang didirikan pada tahun 1817 di Pennsylvania, dan Hartford Retreat yang didirikan pada tahun 1824 di Connecticut, dikelola dengan pola yang sama seperti .York Retreat. Rumah sakit lainnya di AS dipengaruhi oleh penanganan simpatik dan penuh perhatian yang diberikan Pinel dan Tuke. Sejalan dengan pendekatan tersebut, yang kemudian dikenal sebagai penanganan moral, pasien memiliki kedekatan dengan para perawat, yang bercakap-cakap dengan mereka, membacakan buku, dan mendorong-mefeka untuk melakukan aktivitas yang bertujuan: para penghuni menjalani hidup senormal mungkin dan secara umum bertanggung jawab terhadap diri sendiri walaupun dalam keterbatasan gangguan yang mereka alami.
Terlepas dari hal yang tampak positif tersebut, ada dua hal yang tidak menyenangkan ditemukan dalam suatu kajian terhadap catatan kasus rinci di York Retreat dari tahun 1880 hingga 1884 (Renvoise & Beveridge, 1989). Pertama, obat-obatan merupakan penanganan yang paling umum, termasuk penggunaan alkohol, kanabis, opium, dan chloral hydrate (dalam dosis yang hampir menghilangkan kesadaran). Kedua, hasil penanganannya tidak begitu baik; kurang dari sepertiga pasien keluar dari rumah sakit dengan kondisi lebih baik atau sembuh.

Penanganan moral sangat diabaikan pada tahun-tahun akhir abad ke-19. Ironisnya, upaya Dorothea Dix (1802-1887), seorang pejuang dalam peningkatan kondisi untuk orang sakit jiwa yang berjuang demi pendirian rumah sakit yang merawat mereka dengan baik, ikut berperan dalam perubahan tersebut. Dix, seorang guru di Boston, mengajar sekolah Minggu di penjara lokal terkejut dengan kondisi penjara yang sangat buruk. Minatnya meluas ke kondisi rumah sakit jiwa dan orang sakit jiwa pada masa itu yang tidak tahu harus ke mana untuk mendapatkan penanganan. Dix berkampanye dengan gigih untuk memperbaiki kondisi banyak orang sakit jiwa; dia mengamati sendiri bahwa 32 rumah sakit kemudian didirikan. Rumah-rumah sakit umum yang besar tersebut dapat menampung banyak pasien yang tidak mampu ditangani rumah-rumah sakit swasta. Sayangnya, para staf rumah-rumah sakit baru tersebut tidak mampu memberikan perhatian individual yang merupakan ciri utama penanganan moral (Bockhoven, 1963). Lebih jauh lagi, rumahrumah sakit tersebut dikelola oleh para dokter, yang lebih tertarik pada aspek biologis dan fisik penyakit daripada kondisi psikologis dan kesejahteraan diri para pasien jiwa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *