PENANGANAN PSIKOLOGIS ANOREKSIA NERVOSA – Tidak banyak riset terkendali mengenai intervensi psikologis bagi anoreksia nervosa, namun kami akan menyajikan hal yang tampaknya merupakan pendekatan yang paling menjanjikan terhadap gangguan yang mengancam jiwa seseorang ini. Terapi bagi anoreksia nervosa secara umum diyakini sebagai suatu proses dua tahap. Tujuan jangka pendeknya adalah membantu pasien menambah berat badan untuk mencegah komplikasi medis dan kemungkinan kematian. Kondisi pasien sering kali sangat lemah dan fungsi fisiologisnya sangat terganggu sehingga perawatan di rumah sakit secara medis sangat diperlukan (selain itu juga untuk memastikan bahwa pasien mengonsumsi makanan). Program terapi perilaku operant-conditioning cukup berhasil untuk menambah berat badan dalam jangka pendek (Hsu, 1991). Meskipun demikian, tujuan kedua dalam penanganan—mempertahankan pertambahan berat badan dalam jangka panjang—belum dapat dicapai secara reliabel melalui berbagai intervensi medis, perilaku, atau psikodinamika tradisional (Wilson, 1995), meskipun fluoksetin (Prozac) dapat memberikan kontribusi terhadap dipertahankannya pertambahan berat badan pasien rawat inap selama pasien yang bersangkutan tetap minum obat tersebut (Kaye dkk., 1997). Terapi keluarga merupakan bentuk utama dalam penanganan anoreksia, berakar pada berbagai teori yang menya takan bahwa interaksi antar anggota keluarga pasien—perlu diingat bahwa sebagian besar pasien adalah perempuan muda yang tinggal bersama keluarga atau jika tidak tinggal bersama keluarga masih terikat dengan keluarga asli mereka—berperan dalam gangguan tersebut. Salah satu teori yang berpengaruh dalam bidang ini adalah Salvador Minuchin.

Minuchin dan para koleganya berpendapat bahwa simtom-simtom gangguan makan paling baik dipahami dengan memahami pasien dan bagaimana simtomsimtom tersebut tertanam dalam struktur keluarga yang disfungsional. Dalam teori ini, yang sering disebut teori sistem heluarga, anak dianggap rentan secara fisiologis (meskipun ciri-ciri pasti mengenai kerentanan tersebut tidak dijelaskan), dan keluarga si anak memiliki beberapa karakteristik yang memicu terjadinya gangguan makan. Selain itu, gangguan makan yang dialami si anak berperan penting dalam membantu keluarganya menghindari berbagai konflik lain. Dengan demikian, simtom-simtom yang dialami si anak merupakan pengganti berbagai konflik lain dalam keluarga.

Filed under : Bikers Pintar,