PENANGANAN PSIKOLOGIS BULIMIA NERVOSA – Pendekatan terapi perilaku kognitif (CBT—cognitive behavior therapy) dari Fairburn (1985; Fairburn, Marcus, & Wilson, 1993) merupakan standar penanganan bulimia yang paling baik tervalidasi dengan baik dan paling terkini. Dalam terapi Fairburn, pasien didorong untuk mempertanyakan berbagai standar masyarakat terkait daya tarik fisik. Para pasien juga harus mengungkap dan kemudian mengubah keyakinan yang mendorong mereka melaparkan diri sendiri untuk mencegah bertambahnya berat badan. Mereka harus dibantu untuk melihat bahwa berat badan normal dapat dipertahankan tanpa harus menjalani diet sangat ketat dan bahwa pembatasan asupan makanan yang tidak realistis sering kali dapat memicu makan berlebihan. Mereka diajari bahwa semua tidak hilang hanya dengan makan satu gigit makanan berkalori tinggi dan bahwa mengudap tidak perlu memicu makan berlebihan, yang akan diikuti dengan muntah secara sengaja atau minum obat pencahar yang akan menyebabkan harga diri semakin rendah dan depresi. Mengubah pola pikir “semua atau tidak sama sekali” tersebut dapat membantu para pasien mulai makan secara lebih wajar. Mereka juga diajari keterampilan asertivitas untuk membantu mereka menghadapi tuntutan yang tidak masuk akal dari orang lain, dan mereka juga mempelajari cara berhubungan yang lebih memuaskan dengan orang lain.

Tujuan keseluruhan penanganan bulimia nervosa adalah mengem-bangkan pola makan normal. Para pasien perlu belajar untuk makan tiga kali sehari dan beberapa kudapan di antara waktu-waktu makan utama tanpa harus terdorong untuk makan berlebihan dan melakukan pengurasan. Makan teratur dapat mengendalikan rasa lapar dan diharapkan juga dorongan untuk makan sangat banyak makanan yang efeknya dicegah dengan melakukan pengurasan. Untuk membantu pasien mengembangkan keyakinan yang tidak ekstrem mengenai diri sendiri, terapis kognitif perilaku secara lembut namun tegas mempertanyakan berbagai keyakinan yang tidak rasional seperti “Tidak ada seorang pun yang akan menghargai saya jika berat badan saya beberapa pon lebih berat dari saat ini” atau ” Eric mencintai saya hanya karena saya memiliki berat badan 112 pon dan pasti akan menolak saya jika berat badan saya membengkak menjadi 120 pon.” Asumsi umum yang mendasari pikiran di atas dan pikiran terkait lain pada para pasien perempuan adalah bahwa seorang perempuan hanya berharga bagi laki-laki jika ia memiliki berat badan beberapa pon di bawah berat badan normal—suatu keyakinan yang muncul melalui berbagai media dan iklan.

Salah satu intervensi yang kadang digunakan dalam pendekatan penanganan kognitif perilaku adalah meminta pasien membawa sedikit makanan yang dipantang untuk dimakan dalam sesi terapi. Relaksasi diberikan untuk mengendalikan dorongan untuk muntah dengan sengaja. Tuntutan yang tidak realistis dan berbagai distorsi kognitif lain—seperti keyakinan bahwa makan sedikit makanan berkalori tinggi berarti pasien mengalami kegagalan total dan tidak akan pernah membaikterus-menerus dipertanyakan. (Perlu dicatat peran terapi kognitif Aaron Beck di sini: para penderita bulimia sering kali memiliki pola pikir “hitam putih,” dan “semua atau tidak sama sekali.” Juga perlu dicatat pengaruh teori Albert Ellis tentang asumsi tidak realistis, dalam kasus ini, bahwa merupakan suatu bencana jika orang tidak berperilaku secara sempurna. Terapis dan pasien bekerja sama untuk mengidentifikasi berbagai peristiwa, pikiran, dan perasaan yang memicu dorongan makan berlebihan dan mempelajari cara yang lebih adaptif untuk menghadapi berbagai situasi tersebut. Contohnya, jika terapis dan pasien, biasanya perempuan muda, mengidentifikasi bahwa makan berlebihan sering kali terjadi setelah pasien dikritik oleh kekasihnya, terapi dapat mencakup salah satu atau seluruh hal berikut ini:
• mendorong pasien untuk menyatakan pendapatnya jika kritik tersebut tidak dikehendaki;
• mengajarkan padanya, a la Ellis, bahwa membuat kesalahan bukanlah-suatu bencana dan tidak perlu menjadi orang yang sempurna, meskipun jika kritik yang disampaikan sang kekasih benar;
• mendesentisasi pasien terhadap penilaian sosial dan mendorongnya mempertanyakan standar masyarakat mengenai berat badan ideal dan tekanan pada perempuan untuk bertubuh langsing—yang dari segala segi bukan merupakan pekerjaan mudah.
Hasil berbagai terapi kognitif perilaku cukup menjanjikan, baik dalam jangka pendek dan jangka panjang. Suatu meta-analisis baru-baru ini menunjukkan bahwa CBT memberikan hasil yang lebih baik dibanding penanganan dengan obat-obat antidepresan (Whittal, Agras, & Gould, 1999), dan manfaat terapeutik tetap bertahan selama satu tahun pemantauan (Agras dkk., 2000) dan selama 5,8 tahun (Fairburn dkk., 1995). Namun, terdapat keterbatasan dalam hasil-hasil positif tersebut, seperti yang akan kami kemukakan.

Berbagai temuan dalam sejumlah studi mengindikasikan bahwa CBT sering kali menurunkan frekuensi makan berlebihan dan pengurasan, di mana penurunan berkisar antara 70 hingga lebih dari 90 persen; diet ekstrem juga berkurang secara signifikan, dan terdapat perbaikan dalam sikap terhadap bentuk tubuh dan berat badan (Compas dkk., 1998; Garner dkk., 1993; Wilson dkk., 1991). Meskipun demikian, jika kita memfokuskan pada diri pasien saja, bukan pada banyaknya frekuensi makan berlebihan dan pengurasan pada seluruh pasien, kami menemukan bahwa sekurang-kurangnya separuh dari pasien yang ditangani dengan CBT mengalami sangat sedikit perbaikan kondisi (Craighead & Agras, 1991; Wilson, 1995; Wilson & Pike, 1993). Dan jika kita melihat kondisi pasien yang mengalami perbaikan signifikan dalam enam dan dua belas bulan pemantauan, kami menemukan bahwa berbagai manfaat penanganan hanya bertahan pada sekitar sepertiganya (Fairburn, Peveler, dkk., 1993). Jelaslah bahwa, sementara CBT dapat merupakan penanganan paling efektif yang memungkinkan saat ini, namun tidak dapat menyembuhkan bulimia bagi sebagian besar pasien.
Untuk memahami lebih baik cara kerja dan cara meningkatkannya, beberapa peneliti melakukan hal yang disebut analisis komponen terhadap paket terapi CBT yang dijelaskan di atas. Salah satu aspek penting yang telah diuji adalah komponen pencegahan respons dan pemaparan (ingat aspek tersebut dalam penanganan perilaku bagi gangguan obsesif kompulsif, hlm. 220). Komponen ini mencakup mencegah pasien melakukan pengurasan setelah makan makanan yang biasanya menimbulkan dorongan untuk muntah. Indikasinya hal ini merupakan komponen penting; CBT tanpa elemen ini tampaknya tidak akan seefektif paket penanganan lengkap (a.1., Fairburn dkk., 1995; Wilson dkk., 1991). Terlebih lagi, tugas perilaku untuk dilalcukan rumah tersebut, yang diberikan pada pasien di awal penanganan, dapat mendasari temuan penting lain dalam penelitian, yaitu bahwa CBT memberikan efek dengan segera. Seperti yang baru-baru ini dikaji oleh Wilson dan Pike (2001), sekitar 70 persen dari keseluruhan perbaikan dalam frekuensi makan berlebihan dan muntah terlihat dalam minggu ketiga penanganan (Wilson dkk., 1999; Wilson, Vtousek, & Loeb, 2000). Merupakan suatu kemungkinan bahwa berbagai manfaat awal dalam ciri utama bulimia ini—makan berlebihan dan pengurasan—meningkatkan kemampuan diri pasien dan meletakkan dasar bagi perbaikan lebih jauh dan bertahan lama (Bandura, 1977, 1986).

Para pasien yang berhasil mengatasi dorongan untuk makan berlebihan dan melakukan pengurasan juga mengalami perbaikan dalam berbagai masalah terkait seperti depresi dan harga diri rendah. Hasil ini tidaklah mengherankan. Jika seseorang mampu menjalankan pola makan normal setelah menganggap bulimia sebagai masalah yang tidak dapat dikendalikan, dapat diharapkan bahwa depresi yang dialami akan berkurang dan secara umum perasaannya terhadap diri sendiri menjadi lebih baik. Satu temuan terakhir yang diperoleh dari literatur empiris tentang CBT adalah berbagai kelompok terapi mandiri yang menggunakan manual berdasarkan model penanganan Fairburn dan disupervisi secara minimal oleh profesional kesehatan mental dapat memberikan berbagai manfaat signifikan (Cooper, Coker, & Fleming, 1994).
Apakah hasil yang diperoleh lebih baik jika CBT dikombinasikan dengan terapi obat antidepresan? Menambahkan terapi obat dalam CBT kadang meningkatkan dan kadang tidak meningkatkan efektivitas CBT, dan CBT itu sendiri lebih efektif dibanding terapi obat apa pun yang saat ini ada (Compas dkk., 1998; Thase, 2000). Meskipun demikian, menambahkan obat-obat antidepresan dapat berguna untuk mengurangi depresi yang sering kali menyertai bulimia (Wilson & Fairburn, 1998; Walsh dkk. 1997) menemukan bahwa penanganan yang mengombinasikan CBT dan medikasi lebih baik dari pemberian obat saja. Pemberian obat saja tidak lebih baik dibanding plasebo.
• Dua gangguan makan utama adalah anoreksia nervosa dan bulimia nervosa. Kedua gangguan tersebut memiliki beberapa ciri yang sama, ciri terpenting adalah ketakutan yang sangat men-dalam akan mengalami kegemukan.
Anoreksia umumnya terjadi pada pertengahan masa remaja, sepuluh kali lebih banyak terjadi pada perempuan dibanding pada laki-laki, dan komorbid dengan beberapa ganggguan lain, terutama depresi. Perjalanan penyakitnya tidak menguntungkan, dan mengancam jiwa penderitanya.
• Simtom-simtom bulimia nervosa mencakup episode makan berlebihan yang diikuti dengan pengurasan, takut menjadi gemuk, dan distorsi citra tubuh. Seperti pada anoreksia, bulimia berawal pada masa remaja, jauh lebih sering terjadi pada perempuan dibanding pada laki-laki, dan komorbid dengan berbagai diagnosis lain, seperti depresi. Prognosisnya agak lebih baik dibanding anoreksia.
• Penelitian biologis dalam gangguan makan menguji genetik dan mekanisme otak. Buktibakti yang ada konsisten dengan kemungkinan diathesis genetik, meskipun studi terhadap anak-anak yang diadopsi belum pernah dilakukan. Opioid endogenus dan serotonin, yang keduanya berperan dalam timbulnya rasa lapar dan rasa kenyang, telah diuji terkait gangguan makan. Rendahnya kadar kedua cairan kimia otak tersebut ditemukan pada pasien gangguan makan, namun terdapat keterbatasan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa faktor-faktor tersebut menyebabkan gangguan makan.
• Pada tingkat psikologis, beberapa faktor memiliki peran penting. Seiring dengan berubahnya standar kultural yang menilai bentuk tubuh langsing sebagai sesuatu yang ideal bagi perempuan, frekuensi gangguan makan meningkat. Objektivikasi tubuh perempuan juga menimbulkan tekanan bagi perempuan untuk melihat diri mereka melalui kacamata sosiokultural. Prevalensi gangguan makan lebih tinggi di negara-negara industri, di mana tekanan kultural untuk bertubuh langsing sangat kuat.
• Berbagai teori psikodinamika mengenai gangguan makan menitikberatkan hubungan orang tua-anak dan karakteristik kepribadian. Teori Bruch, contohnya, menyatakan bahwa orang tua dari anak-anak yang kemudian menderita gangguan makan memaksakan keinginan mereka pada anak-anak tanpa mempertimbangkan kebutuhan anak-anak mereka. Anak-anak yang dibesarkan dengan cara ini tidak belajar untuk mengidentifikasi kondisi internal mereka sendiri dan menjadi sangat tergantung pada standar yang ditetapkan oleh orang lain. Meskipun demikian, penelitian mengenai karakteristik keluarga yang memiliki anak yang menderita gangguan makan menghasilkan data yang berbeda tergantung pada cara pengumpulan data. Penelitian tentang kepribadian meng-indikasikan bahwa para penderita gangguan makan memiliki neurotisisme dan kecemasan tinggi serta harga diri yang rendah.
• Berbagai teori kognitif behavioral mengenai anoreksia nervosa menyatakan bahwa rasa takut menjadi gemuk dan distorsi citra tubuh menjadikan penurunan berat badan sebagai penguat yang sangat berdaya. Pada pasien bulimia nervosa, perasaan negatif dan stres memicu makan berlebihan yang menimbulkan kecemasan yang kemudian dihilangkan dengan melakukan pengurasan.
• Penanganan anoreksia sering kali memerlukan rawat inap di rumah sakit untuk mengurangi komplikasi medis gangguan tersebut. Untuk bulimia, penanganan biologis yang utama adalah pemberian obat-obatan antidepresan. Meskipun cukup efektif, tingkat putus obat dalam program penanganan dengan obat-obatan tinggi dan kekambuhan umum terjadi bila pasien berhenti minum obat. Obat-obatan juga digu-nakan untuk menangani anoreksia, namun tidak banyak berhasil.
• Terapi keluarga merupakan bentuk utama dalam penanganan psikologis bagi anoreksia, sedangkan penanganan kognitif perilaku meru-pakan penanganan psikologis yang paling baik divalidasi untuk bulimia. Pendekatan tersebut memfokuskan pada mempertanyakan berbagai standar masyarakat mengenai daya tarik fisik, mempertanyakan berbagai keyakinan yang men-dorong sangat dibatasinya asupan makanan, dan mengembangkan pola makan normal. Hasilhasilnya menjanjikan, setidaknya dalam jangka pendek.

Filed under : Bikers Pintar,