PENCEGAHAN DAN PENANGANAN RETARDASI MENTAL – Di awal abad ke-20 banyak institusi besar dibangun di Amerika Serikat untuk menampung para individu yang mengalami retardasi mental secara terpisah dari populasi umum. Sebagian besar tidak lebih dari sekadar gudang bagi siapa pun yang tidak beruntung memperoleh hasil yang buruk dalam tes intelegensi yang baru saja diciptakan (Blatt, 1966). Mayoritas penghuni adalah para imigran yang belum lama datang ke Amerika Serikat, orang-orang yang berasal dari ras minoritas, anak-anak yang mengalami cacat fisik, dan orang-orang miskin.

Meskipun kondisinya sudah cukup berubah di Amerika Serikat, anak-anak yang mengalami retardasi mental masih ditempatkan di penampungan di berbagai negara lain di dunia. Contohnya, di Rusia, citra “anak-anak sempurna” yang ideal di era Soviet tetap mendorong orang tua menyerahkan anak-anak mereka yang cacat untuk dirawat—pada kenyataannya ditelantarkan—di berbagai institusi yang dikelola negara.

Pencegahan retardasi mental tergantung pada pemahaman terhadap berbagai penyebabnya. Bidang genetika medis belum mampu mencegah penyebab genetik yang lebih parah dalam retardasi mental, namun kemajuan yang menakjubkan dalam genetika dapat mengubah situasi ini dalam waktu yang tidak terlalu lama. Bila penyebab retardasi mental tidak diketahui, maka pencegahan tidak mungkin dilakukan, namun penanganan untuk meningkatkan kemampuan orang yang bersangkutan untuk hidup mandiri dapat menjadi pilihan. Bila lingkungan miskin menjadi sumber retardasi ringan, program-program pengayaan, seperti Head Start, dapat mencegah semakin buruknya kelemahan yang dialami dan kadang bahkan mengatasi kelemahan yang sudah terjadi.

Penanganan Residensial. Sejak tahun 1960-an telah dilakukan berbagai upaya serius dan sistematis untuk mendidik anak-anak yang mengalami retardasi mental selengkap mungkin. Sebagian besar orang yang mengalami retardasi mental dapat menguasai kompentensi yang dibutuhkan untuk berfungsi secara efektif di masyarakat. Trend yang berlaku adalah memberikan layanan pendidikan dan layanan masyarakat bagi para individu tersebut dan bukan perawatan yang sangat bersifat pengawasan sepert: di rumah-rumah sakit jiwa besar.

Intervensi Behavioral Berbasis Pengondisian Operant. Bila program semacam Head Start dapat membantu mencegah retardasi mental ringan pada anak-anak yang tidak beruntung, berbagai program lain yang terdahulu yang menggunakan teknikteknik kognitif dan behavioral dikembangkan untuk meningkatkan tingkat fungsi para individu dengan retardasi berat. Beberapa proyek pelopor telah melakukan intervensi pada anak-anak dengan sindroma Down semasa bayi dan kanak-kanak awal sebagai upaya meningkatkan fungsi mereka. Program-program tersebut umumnya mencakup instruksi sistematis yang dilakukan di rumah dan pusat penanganan terkait keterampilan bahasa, keterampilan motorik halus dan kasar, perawatan diri, dan perkembangan sosial. Ditetapkan berbagai sasaran behavioral spesifik; dan dalam mode operant, anak-anak diajari berbagai keterampilan selangkah demi selangkah dan berurutan.

Anak-anak dengan retardasi mental berat biasanya membutuhkan instruksi intensif agar mampit makan, menggunakan toilet, dan berpakaian sendiri. Untuk mengajarkan suatu rutinitas tertentu kepada anak-anak dengan retardasi berat, terapis biasanya memulai dengan menganalisis dan membagi perilaku yang menjadi target, seperti makan, ke dalam berbagai komponen kecil seperti mengambil sendok, menyendok makanan dari piring ke sendok, memasukkan sendok ke mulut, mengambil makanan dengan mulut, mengunyah dan menelan makanan. Prinsip-prinsip pengondisian operant kemudian diterapkan untuk mengajarkan berbagai komponen aktivitas makan tersebut kepada si anak. Contohnya, si anak dapat diberi penguat untuk terus-menerus mencoba mengambil sendok sampai ia mampu melakukannya.

Pendekatan operant ini, kadang disebut analisis perilaku terapan,3 juga digunakan untuk mengurangi perilaku yang tidak pada tempatnya dan perilaku mencederai diri sendiri. Anak-anak yang mengalami hendaya mental berat dan sangat berat yang tinggal di berbagai institusi memiliki kecenderungan melakukan perilaku stereotip dalam kesendirian—gerakan berulang, ritmik, menstimulasi diri, seperti bergoyang ke depan dan ke belakang, berayun, memutar kepala—dan melakukan agresi pada diri sendiri atau pada anak-anak lain dan staf. Gerakan maladaptif dan tindakan mencederai diri tersebut sering kali dapat dikurangi dengan memberi penguat pada respons-respons pengganti.

Berbagai studi mengenai program ini mengindikasikan peningkatan yang konsisten dalam keterampilan motorik halus, penerimaan oleh orang lain, dan keterampilan mengurus diri sendiri. Meskipun demikian, program tersebut tampaknya hanya memiliki sedikit efek pada keterampilan motorik kasar dan kemampuan bahasa, tidak terlihat adanya peningkatan jangka panjang dalam IQ atau performa di sekolah. Belum jelas apakah manfaat program tersebut lebih besar dari yang dapat diberikan orang tua di rumah tanpa pelatihan khusus.

Mampu menggunakan toilet dan belajar makan dan berpakaian sendiri bahkan dapat berarti bahwa anak-anak yang mengalami retardasi mental dapat tinggal di rumah. Sebagian besar orang yang mengalami retardasi mental menghadapi diskriminasi dari orang lain, sebagian karena pelanggaran norma-norma sosial. Dengan mampu bertindak lebih normal akan meningkatkan kesempatan mereka untuk berinteraksi dengan orang lain secara bermakna. Terlebih lagi, harga diri yang timbul karena mampu mengurus diri sendiri dengan lebih baik sangat memberikan penguatan.

Instruksi dengan Bantuan Komputer Instruksi dengan bantuan komputer semakin sering digunakan di seluruh lokasi semua jenis pendidikan; instruksi ini dapat sangat cocok diterapkan dalam pendidikan bagi individu yang mengalami retardasi mental. Komponen visual dan auditori dalam komputer mempertahankan konsentrasi para siswa yang sulit berkonsentrasi; tingkat materi dapat disesuaikan dengan individu sehingga memastikan keberhasilan pembelajaran; dan komputer dapat memenuhi kebutuhan akan banyaknya pengulangan materi tanpa menjadi bosan atau tidak sabar seperti yang dapat terjadi pada guru. Program instruksi dengan bantuan komputer telah terbukti lebih baik dari berbagai metode tradisional untuk mengajarkan cara mengeja, menggunakan uang, aritmetika, membaca teks, pengenalan kata, menulis, dan diskriminasi visual kepada orang-orang yang mengalami retardasi mental.

Filed under : Bikers Pintar,