Advertisement

Scaffolding berarti pemberian bantuan dan bimbingan kepada anak selama tahap-tahap awal pembelajaran dan kemudian anak tersebut mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar segera setelah ia dapat melakukannya. Bantuan tersebut dapat berupa petunjuk, peringatan, dorongan, menguraikan masalah kedalam langkah-langkah pemecahan, mergberikan contoh, ataupun yang lain yang memungkinkan anak menjadi mandiri. Scaffolding diartikan sebagai penopangan, penopangan berarti menyediakan support yang besar selama tahap dini dari belajar dan kemudian menghilangkan support dan memberikan kesempatan anak melakukan sendiri seiring bertambahnya tanggunjawab sesuai kemampuannya. Jadi Scaffolding adalah bantuan belajar dan problem solving. Bantuan itu bisa berupa petunjuk, peringatan, dorongan, menguraikan masalah dalam langkah- langkah, memberikan contoh, atau apa saja yang memungkinkan siswa tumbuh secara independen sebagai pelajar. Scaffolding adalah taktik untuk membantu anak dalam zona perkembangan proksimalnya dimana guru menyediakan isyarat dan pancingan yang berbeda-beda levelnya. Dalam Scaffolding guru tidak menyederhanakan tugas, tetapi peranan pelajar disederhanakan melalui intervensi yang takar guru .

Scaffolding dari Vygotsky berbeda dengan sistem pembelajaran yang menggunakan modul yang telah diterapkan di Indonesia saat ini. Modul lebih mengacu pada paket-paket yang harus diselesaikan oleh siswa/peserta didik, sedangkan scaffolding ini mengacu pada kegiatan guru daljpm membimbing kegiatan belajar anak. Misalkan saja dalam kegiatn perangsangan komunikasi secara aktif. Guru mengidentifikasi lagu-lagu atau nyanyian anak-anak yang biasa diperdengarkan di radio atau TV atau dilagukan oleh anak-anak di daerah itu. Setelah itu, guru mengajak anak untuk mendengarkan, lalu minta anak mengulangi nyanyian tersebut. Perancah (scaffolding) dan hubungan timbal balik antara guru sebagai pembimbing dan peserta didik adalah strategi efektif untuk mengakses zona proksimal perkembangan. Guru berperan sebagai fasilitator yang memberi peluang bagi anak untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya. Guru harus memperhatikan minat anak, menyederhanakan tugas, mengontrol, dan memotivasi anak. Selanjutnya, guru harus mencari solusi atas kemungkinan pertentangan antar usaha anak, dan mengontrol prilaku anak (frustasi dan resiko), dan model suatu tindakan yang diidealkan. Pengajaran timbal balik menciptakan suatu dialog antara anak dan para guru. Komunikasi dua arah melalui diskusi dan dialog terbuka ini menjadi suatu strategi yang efektif dalam meningkatkan interaksi sosial. Tujuan-tujuan edukuasional yang menantang anak-anak untuk bisa mencapai tingkat kompotensi yang lebih tinggi. Tujuan umum dari pendidikan masan kanak-kanak adalah menjaga kelangsungan kemajuan anak dengan menggunakan ZPD. Guru dapat melakukan hal ini dengan cara: Membantu anak-anak dengan cara memberikan aktifitas-aktifitas belajar bersama maupun secara individual. Memodifikasi tingkat kesulitan tugas-tugas agar tingkat tangtangannya sesuai dengan kemampuan anak dengan cara menyesuikan aktifitas, tingkat bantuan yang diberikan, atau pun keduanya. Menetapkan harapan tentang perilaku-perilaku yang sesuai dengan kognitif dan kapasitas sosial anak.

Advertisement

Pendidikan model Vygotsky tidaklah berarti bahwa seluruh hari anak-anak harus diisi denga aktifitas-aktifitas untuk mencapai yang ditetapkan oleh sang guru. Vygotsky memberikan posisi yang sangat penting bagi aktifitas bermain di dalam perkembangan anak. Dengan bermain, anak-anak bisa menciptakan dan mengembangkan ZPD-nya sendiri, memperoleh kemampuan akademis dan kemampuan pengetahuan umum, mengatur perilaku mereka didalan mencapai tujuan-tujuan tersebut, dan pembagian perilaku agar mematuhi aturan dan tidak impulsif. Vygotsky memandang bermain sebai sebuah aktifitas tertinggi dalam pengembangan anak di masa kanak-kanak. Asumsi pendidikan model Vygotsky bahwa orang dewasa dapat dan harus menetapkan tujuan-tujuan bagi anak-anak yang mengarah kepada tingkat kompetensi yang lebih tinggi. Ini didasarkan kepada pandangan bahwa perkembangan psikologi pada awal kanak-kanak adalah hal yang terlalu penting sehingga tidak boleh dibiarkan begitu saja. Pada saat yang sama, agar anak bisa melewati ZPD dengan baik, tujuan yang ditetapkan dan aktifitas-aktifitas yang ditawarkan untuk mencapainya harus ditata dengan baik agar sesuai dengan tingkat perkembangan setiap anak. Hal ini dilakukan agar anak semakin lama semakin bertangyungjawab terhadap pembelajaran. Hal ini berarti bahwa guru dan peserta didik secara bersama- sama memainkan peran aktif. Dalam hal ini, guru dituntut untuk menciptakan kondisi yang memungkinkan peserta didik berkolaborasi dan saling berbagi pengalaman dalam proses belajar. Vygotsky memberikan perhatian pada proses belajar secara fisik, harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan sosial dan usia anak, proses belajar memeriukan sarana pembelajaran yang dapat mendorong interaksi siswa guru, dan kerjasama/kolaborasi. Demikianlah (Thus), kelas menjadi suatu community of learning. Berdasar pandangan Vygotsky bahwa perubahan teori terjadi di dalam wilayah perkembangan proksimal (zone proksimal development), program pengajaran dirancang untuk menjangkau suatu tigkatan perkembangan yang adalah sedikit diatas tingkatan perkembangan anak saat itu. Vygotsky mengklaim bahwa program pengajaran yang diorientasikan kearah tingkatan perkembangan yang telah dicapai adalah tidak selalu efektif jika tidak diarahkan untuk mencapai suatu tahap baru dalam proses perkembangan anak.

Dengan demikian pengukuran atas kemampuan anak-anak harus bisa mengungkap tidak hanya apa yang dapat mereka lakukan secara mandiri namun juga tentang kemampuan mereka menyerap semua hal yang diberikan orang dewasa. Cakupan ZPD, potensi belajar anak-anak, harus dipandang dengan cara sama sehingga aktifitas- aktifitas belajar anak bisa diarahkan menuju perkembangan, memberikan hasil pada penguasaan kemampuan baru yang bisa capai anak-anak. Teori-teori belajar, sekalipun telah diuji secara empiris melalui kajian ilmiah, namun tentu saja memerlukan penyesuaian dan aplikasinya sesuai karakteristik dan latar. budaya peserta didik. Pembelajaran kooperatif berdasar teori sosiokultural Vygotsky diharapkan memberikan konstribusi dalam. Perkembangan bahasa, dan keperibadian anak. Perpaduan dengan teori perkembangan lainnya, tentu akan lebih bermakna terhadap perkembangan dan pembinaan kepribadian anak pada umumnya. Untuk memaksimalkan pembelajaran kolaboratif dan pendekatan scaffolding yang telah dikemukakan sebelumnya maka diperlukan sentra-sentra kegiatan. Hal ini memungkinkan anak dapat dengan cepat belajar melalui bermain. Dalam penelitan ini secara khusus membahas sentra seni. Untuk melaksanakan pembelajaran kolaboratif dan scaffolding seperti yang telah dikemukakan diatas maka diperlukan pusat-pusat kegiatan yang didalamnya terdapat alat permainan/pembelajaran yang dapat membantu mengembangkan anak. Vygotsky, mengemukakan bahwa bermain akan membantu perkembangan bahasa dan berpikir. Struktur mental terbentuk melalui penggunaan tanda-tanda (signs) serta alat-alat dan bermain dapat membantu pembentukan struktur tersebut. Bermain juga membebaskan anak dari ikatan atau hambatan yang didapat dari lingkungan anak. Dalam hal ini bermain memberi kesempatan pada anak untuk melakukan kontrol yang lebih besar terhadap situasi yang dihadapi, daripada kalau mereka hadapi dalam realitas. Anak-anak bermain menggunakan arti-arti (meanings) tertentu selain dengan objek-objek sebagai usaha untuk terbebas dari realitas. Dengan demikian anak dapat mencapai proses berpikir yang lebih tinggi melalui bermain karena adanya penggunaan ‘arti’, dan imajinasi. Bermain dengan media permainan yang dipersiapkan dalam pusat-pusat kegiatan pun menjadi penting seperti yang juga ditekankan oleh Mayke, Mayke menyatakan bahwa belajar dengan bermain memberi kesempatan kepada anak untuk memanipulasi, mengulang-ulang, menemukan sendiri, berkeplorasi, mempraktekkan, dan mendapatkan bermacam-macam konsep serta pengertian yang tidak terhitung banyaknya. Disinilah proses pembelajaran terjadi, mereka mengambil keputusan, memilih, menentukan, mencipta, memasang, membongkar, mengembalikan, mencoba, mengeluarkan pendapat, dan memecahkan masalah, mengerjakan secara tuntas, bekerjasama dengan teman, dan mengalami berbagai macam perasaan. Pembelajaran kolaboratif dan pendekatan scaffolding dari Vygotsky dapat dilakukan dengan mengatur sedemikin rupa alat permainan/pembelajaran menjadi daerah-daerah kegiatan sehingga dapat menggairahkan permainan serta pekerjaan anak-anak. Dalam buku Children’s Resources Internatinal (2000) daerah-daerah ini kemudian disebut pusat-pusat kegiatan atau sentra-sentra. Pada sentra kegiatan seni memiliki bermacam-macam bahan yang dapat digunakan secara kreatif oleh anak-anak. Bahan-bahan ini dipilih oleh para guru  untuk dapat menggairahkan rasa ingin tahu dan dipajang secara menarik dirak-rak agar mudah digunakan. Anak-anak diupayakan agar dpat bekerja secara mandiri dengan menggunakan bahan-bahan tersebut. Sentra seni merupakan pusat kesenian yang dapat mendorong anak-anak untuk mengembangkan dan mengekplorasi kreativitas mereka serta bersenang-senang dengan bahan-bahan baru dan pengalaman fisik (tactile). Bahan-bahan yang dipergunakan antara lain cat, kertas, kapur, kain, dan potongan-potongan untuk digunting dan ditempel. Banyak bahan alami yang juga dapat dipergunakan seperti kayu, daun-daun, dan pasir. Daerah pusat seni memacu kreativitas, komunikasi verbal dan nor verbal, percaya diri, perkembangan motorik halus dan kasar, dan kemampuan intelektual. Apabila anak-anak diberi kesempatan, waktu, dan kebebasan untuk melakukan berbagai macam percobaan dengan berbagai macam bahan, untuk membuat penemuan-penemuan dan juga untuk menguji ide-die/gagasan-gagasan, mereka sebenarnya mengembangkan sebuah dasar untuk mencapai prestasi akademis dan hal-hal lain yang bisa dilakukan orang dewasa. Sentra seni memberi peran yang sangat penting dalam kurikulum dan juga ikut berkontribusi ke semua daerah perkembangan yaitu emosional, fisikal, sosial, intelektual, dan kreatifitas. Sentra seni memusatkan perkembangan emsional dengan cara: (1) menawarkan berbagai kesempatan untuk berkomunkasi tanpa menggunakan kata-kata, (2) menyediakan saluran untuk mengekspresikan perasaan, (3) membiarkan pelepasan tekanan-tekanan emosional, (4) memberi rasa menguasai, (5) memberi kepuasan tersendiri dalam penciptaan hasil karya individu. Sentra seni mendukung perkembangan fisik melalui: (1) mengembangkan kendali motorik yang lebih kecil, (2) menumbuhkan rasa welas asih terhadap orang lain, (3) meningkatkan deskriminasi visual, (4) mend-ukung pergerakan tubuh, (5) memberi pengalaman dalam kordinasi antara mata dan tangan. Sentra seni memajukan perkembangan sosial melalui: (1) mendorong anak-anak dalam membuat keputusan dan memecahkan masalah, (2) memusatkan kemandirian, (3) memberi kesempatan blkerja dengan orang lain dan bergantian, (4) belajar mengasumsikan tanggun jawab untuk perawatan bahan-bahan, (5) mendorong untuk saling menghormati ide-ide masing-masing. Sentra seni menguatkan perkembangan intelektual melalui cara: (1) meningkatkan pengetahuan kata-kata, (2) membantu mempelajari sebab akibat dan bagaimana segala sesuatu itu terjadi, (3) belajar tentang warna dan garis, bentuk dan tekstur, (4) membantu anak-anak mengenali nam-nama mereka (guru memberi nama dan tanggal pada setiap hasil kerjaan atau anak-anak memulai menuliskan nama mereka sendiri di hasil kerjaannya). Selanjutnya sentra seni menguatkan perkembangan kreatifitas melalui cara : (1) mendorong pola pemikiran yang berbed beda melalui solusi yang terbuka, (3) membangun rasa penghargaan terhadap warisan budaya dan seni (Children’s Resources International, 2000). Anak-anak dengan aktif menjadi bagian dari pusat-pusat kegiatan, mereka menjelajahi berbagai media. Mereka juga melukis dengan kuas dan jemarinya. Mereka menggunakan tanah liat, krayon, spidol, benang-benang, kayu-kayu, bahan-bahan lipatan, kertas berwarna, timbangan serta berbagai macam ukuran, kapur, gunting, lei^dan berbagai variasi bahan lainnya. Dengan alat-alat tersebut anak mampu mengekspresikan diri dengan menggunakan berbagai media/bahan dalam berkarya seni melalui kegiatan eksplorasi. Sehingga anak dapat melakukan kegiatan berupa: (1) menggambar sederhana, (2) mewarnai sederhana, (3) menciptakan sesuatu dengan berbagai media, (4) mengekspresika diri dalam bentuk gerak sederhana, (5) menyanyi dan memainkan alat musik sederhana.

Incoming search terms:

  • pengertian scaffolding
  • scaffolding adalah
  • arti scaffolding
  • maksud scaffolding
  • arti definisi scaffolding
  • definisi scaffolding
  • pengertian scaffolding dalam pembelajaran
  • Scaffolding artinya
  • scaffolding pada pembelajaran umum pada anak yaitu
  • arti scaffolding pada anak

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian scaffolding
  • scaffolding adalah
  • arti scaffolding
  • maksud scaffolding
  • arti definisi scaffolding
  • definisi scaffolding
  • pengertian scaffolding dalam pembelajaran
  • Scaffolding artinya
  • scaffolding pada pembelajaran umum pada anak yaitu
  • arti scaffolding pada anak