Advertisement

Pengaruh Terhadap Tanaman

Polusi udara fotokimia dapat mengakibatkan kerusakan pada tenunan tanaman. Komponen fotokimia yang paling merusak tanaman adalah ozon, tetapi kelompok PAN juga berperan dalam menyebabkan kerusakan tersebut. Pengaruh ozon yang dapat terlihat langsung pada tanaman adalah terjadinya pemucatan karena kematian sel-sel pada permukaan daun, di mana daun yang lebih tua lebih sensitif terhadap kerusakan tersebut.

Advertisement

Polutan fotokimia sekunder yang terbanyak adalah peroksiasetilnitrat, dengan singkatan sama seperti grup peroksiasilnitrat, yaitu PAN, sedangkan peroksiasilnitrat lainnya adalah peroksipropionilnitrat (PPN), peroksibutirilnitrat (PBN) dan peroksiisobutirilnitrat (PsoBN). PPN beberapa kali lebih beracun terhadap tanaman dibandingkan dengan PAN, sedangkan PBN dan P.goBN lebih beracun daripada PPN. Meskipun PAN kurang beracun terhadap tanaman dibandingkan dengan komponen lainnya, tetapi komponen ini yang paling banyak diteliti karena jumlah PPN dan PBN jauh lebih kecil sehingga di bawah batas konsentrasi yang dapat dideteksi.

Kerusakan tanaman karena PAN memperlihatkan permukaan bawah daun berwarna keperakan dan kerusakan pada daun-daun muda. Tenunan daun kemudian mati. Pemberian PAN dengan konsentrasi 0.02 0.05 ppm sudah cukup untuk menyebabkan kerusakan tanaman.

Etilen (C2H4) merupakan satu-satunya hidrokarbon yang mengakibatkan kerusakan tanaman pada konsentrasi ambien 1 ppm atau kurang. Asetilen dan propilen juga bersifat racun terhadap tanaman, tetapi konsentrasi yang dibutuhkan adalah 60 500 kali sebanyak etilen. Pengaruh etilen terhadap tanaman terutama adalah menghamba t pertumbuhan, perubahan warna daun, dan kematian bagian-bagian bunga.

Pengaruh Terhadap Manusia

Sampai saat ini belum ada kejadian yang menunjukkan bahwa hidrokarbon pada konsentrasi udara ambien mempunyai pengaruh langsung yang merugikan bagi manusia. Beberapa penelitian terhadap hewan dan manusia menunjukkan bahwa hidrokarbon alifatik dan alisiklis mempunyai pengaruh yang tidak diinginkan terhadap manusia hanya pada konsentrasi beberapa ratus sampai beberapa ribu kali lebih tinggi daripada konsentrasi yang terdapat di atmosfer. Pada konsentrasi kurang dari 500 ppm tidak menunjukkan pengaruh apapun. Tabel 12.1 menunjukkan level toksisitas beberapa hidrokarbon aromatik jenuh. Konsentrasi yangberbahaya tersebut jauh di atas rata-rata konsentrasi normal hidrokarbon di daerah perkotaan, yaitu sekitar 3.2 ppm untuk metana dan 0.03 0.10 ppm untuk hidrokarbon lainnya.

Hidrokarbon aromatik lebih berbahaya dibandingkan dengan hidrokarbon alifatik dan alisiklis. Uapnya lebih bersifat iritasi terhadap membran mukosa, dan luka di bagian dalam dapat terjadi jika menghisap uap komponen aromatik. Tetapi pada konsentrasi kurang dari 25 ppm biasanya tidak berpengaruh.

Oksidan fotokimia masuk ke dalam tubuh sebagai bagian dari udara dan pada konsentrasi subletal dapat mengganggu proses pernafasan normal. Selain itu oksidan fotokimia juga dapat menyebabkan iritasi mata. Beberapa gejala dapat diamati pada manusia yang diberi perlakuan kontak dengan ozon, yaitu tidak ditemukan pengaruh apapun pada konsentrasi ozon sampai 0.2 ppm, dan pada konsentrasi 0.3 ppm mulai terjadi iritasi terhadap hidung dan tenggorokan: Kontak dengan ozon pada konsentrasi 1.0 sampai 3.0 ppm selama 2 jam mengakibatkan pusingberat dan kehilangan koordinasi pada beberapa orang yang sensitif. Kontak dengan ozon pada konsentrasi sekitar 9.0 ppm selama beberapa waktu mengakibatkan edema pulmonari pada kebanyakan orang.

Pada konsentrasi atmosfer ambien yang normal, PAN (peroksiasetilnitrat) tidak berbahaya bagi kesehatan. Komponen ini mungkin menyebabkan iritasi mata, tetapi tidak berbahaya. Komponen lainnya yaitu peroksibenzoilnitrat lebih cepat menyebabkan iritasi terhadap mata.

Ozon dapat menyebabkan kerusakan kimia pada beberapa bahan tertentu seperti organik polimer, termasuk karet serta tekstil alami dan sintetis. Konsentrasi ozon pada udara ambien kadang-kadang sudah cukup untuk merusak bahan-bahan tersebut. Sensitivitas bahan-bahan tersebut untuk diserang oleh ozon meningkat dengan semakin meningkatnya jumlah ikatan rangkap dalam bahan tersebut, karena ikatan rangkap merupakan sisi yang diserang oleh ozon. Dua macam reaksi yang terjadi karena pengaruh ozon terhadap bahan-bahan tersebut, yaitu:

  1. Pemecahan ikatan karbon sehingga atom-atom karbon yang terdapat pada polimer panjang tersebut terpecah-pecah, akibatnya bahan menjadi lebih cair dan kekuatan lenturnya hilang.
  2. Terbentuk ikatan silang pada rantai karbon, sehingga terbentuk ikatan-ikatan baru di antara rantai karbon yang paralel, akibatnya bahan menjadi kurang elastis dan lebih rapuh.

Reaksi-reaksi tersebut terjadi pada konsentrasi ozon ambien yang jauh lebih rendah daripada konsentrasi yang mengakibatkan pengaruh merugikan pada manusia.

Advertisement