PENGERTIAN ABAD XVII DAN MERKANTILISME – Bentuk kapitalisme abad xvii disebut sebagaibentuk merkantilisme. Kebijakan ekonomi merkantilis diterapkan oleh semua negara kapitalis di Eropa pada saat itu. Kebijakan tersebut melibatkan pemerintah dalam pemberian hak monopoli kepada perusahaan dagang, sehingga perusahaan tersebut dapat memetik keuntungan dari perdagangan antar negara Eropa dan koloninya. Monopoli bagi perusahaan dagang ini bukanlah merupakan hal yang baru, tetapi merupakan konteks ekonomi yang khusus. Karena pada era merkantilisme tersebut, monopoli dihalalkan bagi perdagangan kolonial.

Praktek-praktek merkantilisme menciptakan suatu situasi ekonomi di mana para pengusaha manufaktur negara Eropa bisa menetapkan syaratsyarat pembayaran yang menguntungkan perdagangan produk mereka. Berbagai usaha dilakukan untukmencegah negarajajahan tidak membuat barangbarang yang telah diproduksi di dalam negeri, sehingga tidak terjadi persaingan. Lebih jauh, segala cara ditempuh untuk menaikkan impor bahan mentah dari negara jajahan ke dalam negeri. Bahan mentah dibawa ke dalam negeri dengan harga rendah, diolah dipabrik, dan kemudian dijual dengan keuntungan tinggi.

Perusahaan-perusahaan dagang besar pada abad xvii terdapat di Belanda, Inggris, dan Perancis. Pada tahun 1602, Dutch East India Company dibentuk. Perusahaan ini memonopoli perdagangan di India, dan menutup kemungkinan bagi Inggris, Portugis, dan Perancis untuk berdagang di sana. Perusahaan Belanda tersebut mempunyai pasukan hampir 12.000 personil, dan angkatan laut dengan kapal perang berjumlah kira-kira 40-60 buah. Setiap tahun perusahaan tersebut membawa 10-20 juta florin barang berharga ke Eropa. Antai a tahun 1619 sampai 1663, Belanda mendominasi rute timur jauh. Dalam pembelian. Sedangkan 14 % lainnya adalah impor tekstil. Pada tahun itu juga, Belanda memproduksi gula di Jawa. Di dalam negeri, Belanda mendirikan beberapa industri pemrosesan (processing industries) penting, seperti proses pengolahan kain linen dan wol, pengasahan intan, pencelupan, penenunan, dan pemintalan sutra. Industri lain, adalah penyulingan gula, pembuatan bir, destilasi, penyulingan tembakau, coklat, dan sejenisnya.

Sepanjang abad xvii Inggris menjadi saingan utama Belanda. Pada tahun 1600 English East India Company didirikan Ratu Elizabeth, dan dalam waktu 15 tahun perusahaan tersebut telah mendirikan lebih dari 20 pos-pos dagang. Pos-pos tersebut berlokasi di India, di beberapa pulau di samudera Hindia, Indonesia, dan di Hiratsuka, Jepang. Antara tahun 1610 dan 1640, perdagangan luar negeri Inggris berkembang sepuluh kali lipat. Raja-raja Inggris menyebarkan hak-hak istimewa dan monopoli, meregulasi dan men.gorganisasikan kontrol kepada pengusaha manufaktur, melarang ekspor wol, dan menaikkan pajak impor bagi barang tertunan dari Perancis dan Belanda. Parlemen mewajibkan penggunaan wol sebagai pakaian berduka cita (Beaud, 1983 : 28-29). Lebih dari itu, praktek perdagangan yang menggebu-gebu dijalankan, terutama, di bawah pemerintahan Oliver Cromwell. Oliver melansir sebuah undangundang navigasi yang menetapkan bahwa barang-barang dari Eropa hanya boleh diangkut oleh kapal-kapal Inggris atau kapal-kapal milik negara asal. Produk-produk dari Afrika, Asia, atau Amerika hanya dapat diimpor oleh kapal-kapal Inggris atau koloninya (Beaud, 1983:29).

Kebijakan merkantilisme juga menonjol di Perancis. Cardinal Richelieu, Louis XIV, dan Jean Baptiste Colbert adalah orang-orang pemerintahan yang berhubungan dengan merkantilisme Perancis. Di bawah Cardinal Richelieu, yang ditugasi mengatur keuangan kerajaan di tahun 1624, diberlakukan bermacam-macam bentuk proteksi. Antara lain, proteksi tarif tekstil di tahun 1644, dan pajak 50 sen per-ton bagi setiap kapal asing di tahun 1659. Akan tetapi, merkantilisme di Perancis mencapai puncaknya antara tahun 1663 dan1685 di bawah pemerintahan Louis XIV, dengan menteri ekonomi utamanya, Colbert. Bagi Colbert, Louis XIV dan Richelieu, perusahaan dagang adalah pasukan utama raja, dan para pengusaha manufaktur adalah pasukan cadangannya (Beaud, 1983: 39): (Colbert) melindungi berdirinya lebih dari 400 perusahaan manufaktur. Ada kerja “kolektif” yang melibatkan beberapa ahli kerajinan bersama-sama — yang diuntungkan karena diberi hak-hak istimewa. Ada pula kerja “swasta”, yaitu perusahaan pribadi (Van Robais di Abbeville), atau perusahaan-perusahaan besar dengan cabang-cabang di beberapa propinsi, terutama dalam pertambangan dan metalurgi…. dan barang-barang yang terbuat dari wool. Terakhir, ada pula pabrik-pabrik kerajaan, yang merupakan alat pemerintah…. Imbangan dari hak-hak istimewa tersebut (monopoli produksi atau penjualan,pembedaan fasilitas dan pembiayaan) adalah kontrol yang tegas (norma-norma, kualitas, dan kuantitas). Berbagai kebijaksanaan diambil untuk mengembangkan produk mewah dan produk-produk ekspor (tenunan, porselin, barang pecah belah, tenunan mewah), juga produk-produk untuk kebutuhan pokok (kain wool dan linen, dan lain-lain). Kebijaksanaannegara juga mencakup perdagangan danproduksi. The French East Indies Company (1664) memperoleh hak monopoli selama 50 tahun dalam perdagangan di Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.

Filed under : Bikers Pintar,