PENGERTIAN AGAMA DAN POLITIK ADALAH – Cara-cara yang terinci di mana agama dan politik diasosiasikan dalam berba-gai masyarakat telah sejak lama menjadi subyek untuk dikomentari oleh para ilmuwart sosial. Banyak ilmuwan sosial yang memandang bahwa agama terutama berfungsi sebagai alat mengabsahkan dan melindungi kepentinga/- kepentingan politik dan kelas sosial yang telah mapan yang dilayani oleh sistem politik itu. Menurtit pandangan ini, agama adalah kekuatan konservatif secara inheren, yang secara aktif meningkatkan pemehharaan orde politik dan sosial yang telah mapan dan menetralisir setiap usaha yang signifikan untuk . menguball orde itu. Namun juga dikemukakan bahwa agama sering berfungsi sebagai panggilan berhimpun guna melakukan perubahan-perubahan besar dalam lembaga-lembaga yang telah ditetapkan. Pandangan yang kedua ini percaya bahwa agama tidak harus bersifat konservatif dan, sesungguhnya, sering merupakan kekuatan yang radikal.

Pandangan Aliran Marx

Pernyataan klasik tentang peranan agama dalam melindungi pengaturan sosial yang telah mapan ialah yang berasal dari Marx. Marx sedikit sekali menulis tentang agama, namun analisisnya sangat tajam. Komentarnya yang paling terkenal mengenai agama dibuatnya dalam suatu esei awal yang ditulis dalam tahun 1843. Dalam eseinya itu dilukiskannya peranan sosial agama dalam kalimat-kalimat berikut (Marx, 1963:43-44; ashrtya 1843):

Agama ialah teori umum dunia ini. logikanya dalambentuk yang populer…. sanksi moralnya, penggenapannya yang sangat penting, basis penghiburan dan pembenarannya yang umum. Agama adalah realisasi khayal makhluk manusia oleh karena makhluk manusia tidak memiliki realitas. Karena itu, perjuangan melawan agama secara tidak langsung adalah perjuangan melawan dunia yang aroma spiritualnya adalah agama.

Penderitaan religius sekaligus merupakan suatu pernyataan mengenai penderitaan yang sesungguhnya dan suatu protes menentang penderitaan yang sesungguhriya. Agama adalah keluh-kesah makhluk yang tertindas, sentimen suatu dunia yang tak berperasaan, dan jiwa kondisi-kondisi tak berjiwa. Agama adalah candu masyarakat.

Dalam kutipan ini, Marx, menganggap agama sebagai ekspresi penin-dasan, penderitaan, dan rasionalisasi dan pembenaran orde sosial yang ada. Yang paling penting, Marx menilai agama sebagai “candu ma.syarakat”. Dikemukakannya bahwa agama berlaku atas masyarakat bagaikan obat bius: agama meringankan penderitaan, tapi tidak menghllangkan kondisi-kondisi yang menimbulkan penderitaan itu. Karena itu agama semata-mata menenangkan orang, memungkinkan mereka untuk menerima kondisi-kondisi sosial di mana mereka hidup dengan harapan akan adanya suatu kehidupan di kemudian 1.1ari di mana semua penderitaan dan kesengsaraan akan lenyap untuk selama-lamanya. Karena agama semata-mata meredakan penderitaan rnanusia tetapi tidak menghilangkan basisnya, maka agama n-temungkinkan orang untuk terus menerima dunia ini sebagaimana adanya dan tidakberusaha untuk mengubahnya. Jadi Marx melihat agama sebagai suatu kekuatan konservatif yang inheren karena agama meredam kemungkinan orang memperoleh suatu kesadaran revolusioner di mana dunia itu sendiri dapat diubah.

Sumbangan Weber

Max Weber (1978; aslinya 1923) mempunyai beberapa pandangan yang sama dengan Marx menyangkut fungsi-fungsi politik dan sosial daripada agama. Weber melihat agama melakukan fungsi-ftmgsi yang sangat berbeda untuk berbagai strata sosial dalam masyarakat yang mempunyai stratifikasi sosial. Bagi strata sosial yEmg mempunyai hak-hak istimewa, ditandaskannya, agama terutama berfungsi sebagai suatu alat untuk melegitimasi atau membenarkan posisi sosial mereka yang berkuasa dan memiliki hak-hak istimewa kelas. Untuk strata yang tidak mempunyai hak-hak istimewa, di pihak lain, agama terutama penting sebagai suatu alat kompensasi dalani kehidupan lain terhadap kegagalan dan ketidakcukupan dalam hidup yang sekarang. Sebagaimana dikatakan oleh Weber (1978:491-492):

Karena setiap kebutuhan akan keselamatan adalah suatu pernyataan tentang semacam kesedihan, maka penindasan sosial dan ekonomi merupakan sumber kepercayaan keselamatan yang efektif, meskipun bukan saja sebagai sumber yang eksklusif. Bila hal-hal lainnya tetap sama, strata yang mempunyai hak-hak istimewa sosial dan ekonomi yang tinggi cenderung jarang mengembangkan gagasan tentang keselamatan itu. Malah, mereka menyerahkan kepada agama fungsi legitimasi primer terhadap pola hidup mereka sendiri dan situasi di dunia. Apa yang diperoleh kelas yang mempunyai hak-hak istimewa dari agama, jika memang ada, ialah legitimasi ini.

Karena itu yang berbeda ialah situasi mereka yang tidak mempunyai hakhak istimewa. Kebutuhan khusus mereka ialah lepas dari penderitaan. Kebutuhan mereka akan keselamatan disalurkan melalui agama yang dapat mengambil berbagai bentuk. Yang paling penting, kebutuhan itu dapat bersatu dengan kebutuhan akan kompensasi, yang dihadapkan dalam berbagai cara tetapi selalu mencakup imbalan-imbalan untuk perbuatan-perbuatan sendiri yang baik dan hukuman untuk ketidakpatutan orang lain. Harapan untuk memperoleh kompensasi yang adil, yakni suatu sikap yang cukup diperhitungkan, adalah, cli samping ilmu gaib (memang tidak berkaitan dengan harapan itu), bentuk agama massa yang paling luas terbaur di seluruh dunia.

Akibatnya, peranan agama dalam orde sosial sangat cenderung ke arah konservatif. Sebagai suatu legitimator posisi sosial kelompok-kelompok yang dominan, agama memberitahukan bahwa orde sosial, ekonomi, dan politik yang telah ditetapkan itu adalah suatu pernyataan dan penjelmaan kehend.ak supernatural, dan karena itu hendakrtya diterima sebagaimana adanya. Walaupun banyak orang yang akan menderita dalam pengaturan sosial yang ada, namun penderitaan i11i hanya bersifat sementara dan akan dihapuskan dalam \dunia yang lebih baik yang akan tiba.

Bitkti yang Mendukung Marx dan Weber

Bukti yang mendukung penegasan Marx dan Weber adalah kuat. Sebagian dari bukti itu telah disinggung. Seperti yang kita lihat, agama berubah sesuai dengan evolusi sistem ekonomi dan politik. Dalam masyarakat yang tidak mempunyai stratifikasi sosial, kekuasaan supernatural itu tidak sering bersangkut-paut dengan perbuatan-perbuatan moral sehari-hari makhluk manu_ sia. Tapi dengan timbulnya stratifikasi maka kekuasaan supernatural mengembangkan minat yang signifikan terhadap moralitas sekuler dan pada umumnya dipandang sebagai suatu cara pengaturan susunan sosial dunaniawatia. Selanjutnya, evolusi sistem politik tersentralisasi yang kuat — chiefdoin dan negara — erat kaitannya dengan evolusi pranata pemimpin agama dan p

keagamaan eklesiastikal yang kuat. Para pemimpin agama secara khusus ikut dalam pelaksanaan kekuasaan politik. Chiefdom atau kerajaan-kerajaan dahUL lu kala, sesungguhnya cenderung bersifat teokratis, bentuk pemerintahan yang dijalankan oleh pejabat-pejabat agama. Karena chiefdom berkembang menjadi negara, maka pemerintahan menjadi bertumpu terutama dalam tangan para pejabat politik sekuler bukannya pada pemuka agama pemimpin chiefdom atau agamawan raja; namun, para pejabat sekuler itu tetap mempertahankan ikatan yang erat dengan para agamawan dan secara aktif menggunakan statusnya itu sebagai suatu alat untuk mengganggu kekuasaan mereka sendiri. Kebanyakan pemimpin chiefdom dan raja disepanjang sejarah telah membenarkan kekuasaan mereka di dalam arti agama, baik dengan menandaskan sebagai keturunan langsung dewa-dewa ataupun sebagai wakil utama TuhaI1 di atas Bumi ini.

Evolusi agama-agama sejarah yangbesar, dengan tema penolakan chmia dan percaya bahwa pada dasarnya dunia ini penuh keburukan, juga memperlihatkan adanya suatu kaitan yang erat antara agama dan pengaturan politik yang sudah mapan. Semua agama itu berkembang dalam masyarakat yang kompleks dan sangat terstratifikasi di mana penindasan dan eksploitasi atas massa telah mencapai proporsi yang tidak dapat ditolerir. Dunia ini dipandang sebagai suatu tempat dosa yang perlu dihindari. Tema-tema penghindaran dari dunia, penarikan diri religius, adalah sangat konservatif. Karena tematema itu mendorong orang untuk mencari pelipur hanya dalam kehidupanlain yang akan tiba, maka mereka secara aktif merintangi perkembangan suatu kesadaran revolusioner yang dapat mengubah dunia sekuler tersebut. Juga ada jenis bukti laill yang dengan kuat mengindikasikan peranan agama dalam meningkatkan dan mempertahankan susunan politik dan sosial yang ada. Bukti ini berasal dari survei baru-baru ini yang dilakukan oleh para sosiolog mengenai cara dengan mana kepercayaan agama dan politik cende-rung untuk digabungkan dalam pikiran-pikiran individu. Semua bukti yang akan dibahas itu berasal dari studi-studi atas kepercayaan keagamaan dan politik anggota-anggota masyarakat Barat kontemporer. Charles Glock dan Rodney Stark (1965) berusaha menganalisis hubungan antara agama dan politik radikal. Salah-satu bagian dari studi mereka itu difokuskan kepada hubungan antara agama dan afiliasi partai politik di Peran-Mereka menempatkan partai-partai politik Perancis pada suatu kontinum nlulai dari yang paling radikal sampai ke yang paling konservatif. Dari politik kiri sampai ke politik kanan, mereka memperingkat partai-partai itu sebagai berikut: Komunis, Sosialis, Radikal, Poujadist, Gaullist, dan Petani dan Inde-penden. Mereka kemudian menyelidiki kepercayaan keagamaan dan praktek para anggota dari berbagai partai itu. Singkatnya, yang mereka jumpai ialah adanya suatu .kaitan yang sangat kuat antara konservatisme politik dengan kepercayaan dan praktek keagamaan ortodoks, dan adanya sua tu antagonisme yang sebanding di antara agama ortodoks dengan politik radikal. Beberapa dari temuan mereka yang spesifik perlu dicatat. Mereka menemukan hanya 7 persen dari kaum komunis yang terlibat dalam praktek keyakinan agama mereka, sementara 67 persen kaum Gaullist dan 68 persen dari anggotaanggota partai Petani dan Independen yang terlibat. Ketika mereka menyelidiki kepercayaan anggota partai terhadap adanya Tuhan, mereka memperoleh hasil-hasil yang lebih menarik perhatian. Hanya 9 persen dari kaum komunis yang yakin tentang adanya Tuhan, sementra 75 persen kaum Gaullist dan 77 persen d.ari anggota-anggota partai Petani dan Independen yakin akan adanya Tuhan. Sebagai tambahan, mereka menemukan bahwa para anggota partai yang lebib radikal lebih banyak cenderung, dibandingkan dengan anggotaanggota partai-partai yang konservatif, untuk mempunyai bentuk-bentuk permusuhan khusus terhadap Gereja. Secara umum, Glock dan Stark menemukan bahwa r semakin radikal suatu partai, semakin eenderung anggotaanggota partai itu mengingkari kepercayaan dan praktek keagamaan tradisional. Glock dan Stark juga menyelidiki hubungan di antara agama dan politik dinegeri Beh-mda, dan hasil-hasilnya memperkuat penemuan kasus di Perancis. Dari hasil-hasil itu Glock dan Stark menyimpulkan bahwa agama dan politik radikal cenderung saling meremehkan: keterlibatan dalam pOiltlk radikal sangat berkaitan dengan penolakan terhadap agama ortodoks, sementara kegiatan politik konservatif erat kaitannya dengan kepereayaan agama tradisional dan terlibat dalam agama yang terorganisasi.

Studi lain yang memperlibatkan ha.sil yang sama ialah yang dilakukan oleh Gary Marx (1967). Marx berusaha menemukan apakah agama di kalangan orang Amerika berkulit hitam berfungsi sebagai suatu “obat bius” ataukah sebagai inspirasi untuk bertindak militan dalam perjuangan mereka untuk memperoleh hak-hak sipil. Ia menemukan bahwa agama pada umumnya berfungsi sebagai obat bius. Sebagai contoh, hanya 26 persen dari orang-orang yang ditelitinya yang dapat diklasifikasikan sebagai “sangat religius” yang mempunyai sikap militan terhadap perjuangan untuk memperolch hak-hak sipil, sementara 70 persen dari orang-orang yang diklasifikasikan sebagai Htidak religius sama sekali” menunjukkan suatu posisi militan. Penemuan Marx, bahwa keterlibatan religius dapat m.eredam semangat untuk kegiatan politik radikal, juga dibenarkan dalam banyak studi lainnya mengenai kaitan di antara kepercayaan agama dan politik (cf. Sanderson, 1973). Dalam satu studi berskala besar mengenai orientasi keagamaan clan politik para mahasisa perguruan tinggi Amerika, kepercayaan keagamaan ortodoks dan fundamentalis ternyata mempunyai korelasi yang tinggi dengan sikap konservatis-me politik; sebaliknya, orang-orang yang menolak kepercayaan dan praktek keagamaan tradisional juga kuat cenderung untuk menolak berbagai Posisi politik konservatif (Sanderson, 1973). Jadi, berbagai bukti menunjukkan dukungan yang kuat bagi argumen Marx bahwa agama adalah suatu “candu masyarakat” . Namun untuk berhenti sampai di sini akan berarti rrimberikan suatu gambaran yang sangat menyini_ pang daripada peranan agama dalam masyarakat manusia, karena ada sisi lain daripada hubungan di antara agama dan politik yang belum diselidiki. Ada sejumlah peris tiwa di mana agama berfungsi sebagai katalisator penting dalam usaha untuk mengubah dunia ini. Ada banyak saat dalam sejarah dan di sejumlahbesar tempat, orang telah membentuk diri ke dalam gerakan-gerakan yang diilllami oleh agama yang diabdikan untuk melakukan perubahan— perubahan mendasar dalam orde sosial yang telah mapan.

Filed under : Bikers Pintar,