religion and ritual (agama dan ritual)

Para antropolog yang mengambil spesialisasi kajian masyarakat prasejarah selalu dihadapkan pada persoalan pelik dalam mendefinisikan fenomena macam apa yang dapat disebut relijius. Sekilas, apa yang disebut agama di tempat- tempat munculnya agama dunia tampak cukup jelas. Ada tempat-tempat istimewa seperti masjid, gereja, kuil dan orang-orang istimewa yang berhubungan dengannya seperti imam, rabi, pendeta. Bahkan dalam kasus seperti ini, masalahnya jauh lebih sederhana. Jika kita mengambil contoh Islam, akan kita temukan aktivitas seperti tidur, bangun, makan, buang air dan membersihkan diri yang kesemuanya memiliki ciri relijius; dengan demikian tidak jelas di mana agama dimulai dan di mana berakhir.

Permasalahannya makin diperumit dalam kasus masyarakat-masyarakat tradisional, tidak hanya karena fenomena tersebut merupakan bagian dan serangkaian kegiatan yang tidak bisa mengacu pada kata religion dalam bahasa Inggris, tetapi juga karena orang-orang dalam masyarakat seperti itu tidak seperti para penganut agama dunia tidak memiliki konsep agama sebagai sebuah fenomena yang khas. Hal ini membuat para ilmuwan sosial merasa perlu mencoba-coba berbagai definisi, contohnya adalah rumusan yang menyatakan: agama melibatkan kepercayaan pada kekuatan-kekuatan supranatural (lihat Goody 1961). Persoalan definisi jenis ini terletak pada kesulitan membedakan antara pengetahuan “natural” dan “supranatural . Sebagai contoh, keyakinan bahwa seorang harus menghormati ayah dan ibunya bisa disebut sebagai kepercayaan natural ataukah supranatura? Karena hai ini mengacu pada makhluk empiris, mengapa tidak bisa dijustifikasi berdasarkan pertimbangan praktik murni? Definisi dalam tipe lainnya berusaha mengatasi kesulitan ini. Sebagai contoh, Durkheim menyatakan sebagai relijius untuk semua kepercayaan dan praktek yang diyakini mengandung kebenaran, jadi bukan karena merupakan cara terbaik untuk melakukan sesuatu berdasarkan kriteria praktis. Tipe keyakinan dan praktek yang pertama, menurutnya, suci (sacred); yang kedua adalah “duniawi” (profane) (Durkheim 1915 [1912]). Tetapi dalam kenyataannya tidak mungkin membedakan berdasarkan kriteria ini, karena ini sama saja memisahkan apa yang tidak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini diutarakan beberapa kali oleh Weber, yang menekankan bagaimana agama-agama tertentu memiliki persamaan untuk tindakan-tindakan dan pandangan hidup tertentu; sebagai akibatnya yang “suci” dan yang “duniawi” pada akhirnya tidak terpisahkan (Weber 1930 [1905]). Tetapi bagaimanapun hal ini tidak membantu dalam mendefinisikan apa itu agama, dan satu-satunya solusi adalah meninggalkan pemikiran agama sebagai sebuah kategori analitis dan melihat pada realitas sosial dalam pengertian yang tidak begitu terikat pada tradisi budaya tertentu. Hal ini tersirat dalam karya Marx di mana agama dimasukkan dalam sebutan ideologi yang lebih luas, yang juga mencakup ide-ide seperti “sisi kebaikan’ (lightness) dari persaingan dalam sistem kapitalis (Marx dan Engels 1939 [1845-6]).

Jika kita menolak pemikiran agama sebagai alat analitis, kita tetap bisa menggunakannya sebagai indikasi umum dari sebuah bidang kajian. Dengan mengambil perspektif ini, kita bisa mempertanyakan topik apelkah yang terjadi secara berulang dalam diskusi tentang agama. Apakah bidang ini dibahas tuntas dalam teori Plato tentang ide dalam The Republic. Setelah mempertimbangkan permasalahan hubungan manusia dengan lingkungannya serta dengan sifat biologis dan fisiknya, Plato berpendapat bahwa apa yang kita pahami melalui indera kita pada kenyataannya adalah bayangan yang kompromis dan menyesatkan tentang realitas yang lebih jernih, lebih sederhana dan hakiki yang mungkin tidak kita lihat tetapi menuntun apa yang kita lihat, la menyimpulkan bahwa ada beberapa orang yang dapat melihat kebenaran secara lebih baik daripada orang lain, dengan demikian dapat melihat dengan lebih jelas apa yang dilihat oleh orang biasa sebagai bayangan yang terdistorsi. Pada gilirannya, menurut Plato, orang-orang seperti ini seharusnya karena kedekatannya dengan sumber pengetahuan yang sejati menjadi pe-mimpin politik. Di sini kita memiliki tiga macam kandungan agama: spekulasi intelektual atau filsafat; pengingkaran terhadap keabsahan pengalaman dan legitimasi terhadap otoritas. Kita akan segera mendalami ketiga topik ini.

Spekulasi intelektual atas berbagai permasalahan di seputar kondisi manusia nampaknya cukup lazim bagi semua masyarakat, dan mereka selalu terpusat di seputar permasalahan fundamental tertentu: seberapa jauh manusia terpisah atau merupakan kelanjutan dari hewan, tumbuhan dan bahkan kejadian-kejadian geografis atau kosmologis? Jawabannya adalah, sebagaimana jawaban bagi permasalahan fundamental ini, tidak pernah memuaskan. Jawaban ini selalu memunculkan pertanyaan baru, dan memancing dialog yang terus menerus dan tidak pernah selesai. Tentu saja spekulasi semacam ini kebanyakan tidak bisa tertuang dalam abstraksi, kecuali dalam kerangka pemikiran spesifik yang berniat mengkonkretisasi permasalahan. Apa signifikansi memasak makanan dibandingkan dengan memakan makanan mentah? Apakah kopulasi manusia sama dengan kopulasi binatang? Apa artinya kopulasi antar dua spesies yang berbeda? Apakah fakta bahwa semua masyarakat manusia bertukar terutama dalam perkawinan pada akhirnya membedakan manusia dari binatang? Apa yang akan terjadi pada perbedaan ini jika seorang laki-laki melakukan kopulasi dengan saudara perempuannya? Apa putaran kehidupan berhubungan dengan putaran kehidupan tumbuhan, musim, anggota tata surya? Kelanjutan dari keberanian pemikiran serta kekaguman makhluk manusia terhadap pertanyaan-pertanyaan metafisik digambarkan dengan baik lewat karya Levi-Strauss (1970-81 [1964-72]) atas mitologi Indian Amerika Selatan dan Utara, An Introduction to the Science of Mythology.

Adalah menyesatkan untuk membayangkan bahwa pencarian intelektual semacam itu lebih diperlukan masyarakat kompleks daripada masyarakatyang sederhana. Laporan-laporan antropolog tentang spekulasi metafisik yang paling bebas dan paling berani semuanya berhubungan dengan masyarakat yang memiliki tingkat teknologi amat sederhana. Hal ini karena masyarakat tersebut sering kaili merupakan masyarakat dengan ketidaksetaraan politik institusional yang paling sedikit, dan regulasi yang menyertai spekulasi berdasarkan otoritas menimbulkan suatu dimunisi (dimunition) atas tipe aktivitas spekulasi bebas yang dibahas oleh Levi-Strauss berkenaan dengan orang Indian-Amerika. Jika spekulasi benar-benar terjadi dalam masyarakat yang lebih terpusat, maka spekulasi ini menjadi terpisah dari lingkungan agama utama yang menjadi inti ritual. Bagaimana terjadinya hal ini akan menjadi jelas jika kita mempertimbangkan proses di mana nilai pengalaman diingkari dalam agama, dan bagaimana hal ini terkait dengan otoritas.

Organisasi spekulasi berdasarkan otoritas terjadi melalui ritual. Ritual, seperti agama, adalah kata yang juga mengandung banyak persoalan bagi para antropolog. Tetapi bagi semua antropolog. ritual adalah rangkaian perilaku yang relatif tetap sebagai akibatnya ritual tidak bersifat individual dan juga tidak ad hoc. Ritual tidak dilegitimasi dalam kerangka instrumentalitas langsung (Leach 1954); ritual memberikan makna melalui simbol-simbol, didefinisikan oleh seorang antropolog sebagai unit terkecil dari ritual (Turner 1967). Jika ritual dipandang sebagai alat komunikasi, mereka mempergunakan alat yang sangat aneh, yang telah mengarahkan Sperber (1975) menunjukkan betapa menyesatkannya melihat ritual sebagai semacam bahasa. Ritual menggunakan simbol-simbol yang tampak mengacu dan mengandung konotasi dalam bentuk-bentuk yang sangat kabur. Ritual menggunakan rangkaian bahasa yang relatif tetap, dan, di atas semuanya, nyanyian, yang menghambat komunikasi analitis (Bloch 1992). Ritual menggunakan repetisi yang terus-menerus (Leach 1966), memperingatkan kita kembali bahwa ritual memberi makna melalui suatu cara yang berbeda dan lebih sederhana dibandingkan pernyataan-pernyataan lain. Karena alasan-alasan ini. ritual tampaknya sangat bertolak belakang dengan karakteristik spekulasi bebas tentang mitos yang dipelajari oleh Levi-Strauss. Akhirnya, ritual itu bersifat invarian dan tidak jelas, dan hanya ada sedikit kemungkinan untuk terjadinya inovasi individual dan bersifat anti-intelektual.

Tetapi meskipun demikian, pola-pola yang cukup aneh tampaknya muncul dalam semua ritual di seluruh dunia, dan nampaknya membawa pesan yang hampir sama. Inilah pesan Plato: jangan mempercayai penampakan duniawi karena ada sesuatu yang lebih benar, lebih permanen, yang terletak di balik semua itu. Jika kita tidak menerima kebenaran dari pesan ini, pertanyaan yang mestinya kita ajukan tentang ritual bukanlah pesan apa yang ada di balik ritual tetapi bagaimana ritual menciptakan imaji tentang adanya sesuatu di balik itu. Dengan kata lain. para antropolog menolak penegasan Platonik tentang ritual yang menyatakan bahwa dunia ini sekadar bayangan dan dunia lain, mereka melihat ritual sebagai usaha menciptakan sebuah imaji tentang bayangan dari realitas dunia ini, meskipun bayangan yang dihadirkan tersebut sebagaimana kenyataannya.

Dua orang pengarang Perancis, Hertz (1960 [1928]) dan Van Gennep (1960 [1909]). menyatakan pembagian tripartit yang terjadi dalam banyak ritual. Van Gennep menegaskan bagaimana ritual seringkah melibatkan ide perjalanan yang menggambarkan sebuah transformasi sosial; seperti yang terjadi dalam ritual inisiasi.

Ritual untuk melepaskan seorang dari masa kanak-kanaknya, yang kemudian memasuki tahap antara, tahapan liminal (dari bahasa Latin limen, yang berarti ambang pintu, sebuah simbol yang paling lazim dari sebuah keadaan) dan akhirnya memasuki dunia kedewasaan. Van Gennep menyebut ritual semacam itu “rife of passage” karena menggunakan simbol-simbol perjalanan.

Salah satu cara yang paling lazim dalam menerangkan ritual semacam itu adalah dengan mengikuti arahan Van Gennep dan melihat ritus perjalanan sebagai sarana melakukan transformasi peran sosial dari individu ke individu. Jelas sekali bahwa penjelasan ini kurang memadai dan mengabaikan aspek-aspek relijius dari praktek-praktek seperti itu.

Para antropolog lain memberi perhatian pada tahapan liminal pertengahan, dengan beranggapan bahwa tahapan tersebut diatur oleh aturan- aturan yang berbeda atau bahkan sama sekali berlawanan dengan aturan-aturan dalam kehidupan normal (Gluckman 1063; Turner 1967). Tahapan liminal sering kali melibatkan inversi otoritas, sebagai contoh, anak-anak yang menguasai orang dewasa; dalam kasus-kasus tertentu tahapan ini juga melibatkan suspensi yang bersifat khas dari perilaku normal dalam tahapan-tahapan orgiastik. Ini adalah ciri umum dari semua ritual, sebagai contoh, karnaval Lent dalam kalender Kristen. Penjelasan dari perilaku yang tidak lazim tersebut langsung berhubungan dengan inti ritual dan agama. Ritual adalah sebuah kejadian dramatis dalam kehidupan, yang merupakan percampuran dari dua unsur, yang murni dan yang tidak murni. Tugas dari ritual adalah memisahkan keduanya sehingga yang tidak murni dapat dihilangkan dan kebenaran yang murni dapat muncul. Atau, dilihat dari sudut pandang ateistik, proses antithetik ini menciptakan ilusi dari yang Lain. Dalam pengertian ini kita bisa menginterpretasikan kembali ketiga tahapan ritus perjalanan: yang pertama bertindak dari keadaan yang masih bercampur; kemudian diikuti dengan tindakan dari keadaan khas yang tidak murni; kemudian hal ini didorong keluar dan digantikan oleh imaji tentang keadaan yang suci murni.

Kita bisa melihat skema ketiga-tahapan ini dalam ritual inisiasi, yang bisa berupa pembaptisan Kristen ataupun ritual inisiasi suku aborigin Australia. Tahapan pertama adalah sebuah representasi non ritual yang netral, yaitu kelahiran; tahapan kedua mencakup penciptaan imaji dari kelahiran sebagai peristiwa yang sangat mencemarkan, sehingga tahapan ketiga bisa disebut sebagai tahapan pembersihan seorang anak dari peristiwa kelahirannya yang tercemar supaya ia bisa dilahirkan kembali, dalam keadaan yang lebih bersih, lebih murni. Pola yang sama juga terjadi dalam ritual penguburan, yang melibatkan penegasan bahwa kematian adalah sesuatu yang kotor dan mengerikan, sehingga pada bagian akhir dari ritual itu bisa menampilkan kemenangan atas kematian dalam dunia yang superior (Bloch dan Parry 1982). Perspektif ini memungkinkan kita memahami salah satu ciri agama yang paling membingungkan. Meski semua agama menyerukan adanya kemurnian transendental, yang menghindarkan kita dari realitas menyesatkan dari bayangan dunia ini (bayangan yang tanpa agama bisa kita terima sebagai realitas), agama melakukannya dengan memberi penekanan pada hal-hal yang kotor, cemar, dan rendah (Douglas 1966). Pembongkaran atas ide-ide yang mencemarkan ini sangat biasa terjadi dalam agama karena drama yang menciptakan transendental membutuhkan perwujudan dari antitesisnya. Hal ini juga menjelaskan adanya pemikiran pembersihan dalam semua agama yang kadang-kadang bisa berupa tindakan ekstrim seperti mutilasi tubuh, seperti yang terjadi dalam ritual berdarah di Guinea Baru atau di linqkunaan Yahudi.

Landasan ritual keagamaan adalah penyangkalan terhadap kecukupan (sufficiency) aktivitas non-relijius, terutama penyangkalan bahwa potensi penciptaan ada di tangan manusia. Yang ditolak dari kelahiran adalah penciptaannya. dan kematian adalah keberakhirannya, dan yang menarik, kedua ide ini amat terkait dalam sebuah penyangkalan total terhadap kerangka waktu dari produksi dan reproduksi manusia. Sebaliknya, melalui drama ritual, diciptakan sebuah tatanan yang abadi di mana kehidupan manusia, kelahiran dan tindakannya bersifat tidak relevan. Dalam sebuah sistem pemujaan leluhur yang banyak ditemukan di berbagai daerah di Afrika, sebuah imaji diciptakan berdasarkan orang-orang yang hidup di luar rentang-kehidupannya, dengan demikian generasi selanjutnya dari sebuah kelompok adalah reinkarnasi entitas moral yang sama (Fortes 1959). Dalam keyakinan Hindu tradisional, sebuah imaji diciptakan berdasarkan lingkaran mistik agung, sebuah lingkaran yang tidak dapat diperbandingkan dengan lingkaran biologis kehidupan manusia. Lingkaran ini, tidak seperti sejarah manusia, diwujudkan sebagai landasan “riel” dari kosmos.

Imaji-imaji religius melibatkan upaya mengidentifikasi kehidupan ini dengan kematian dan dekomposisi, dan kehidupan Dunia Lain dengan kemenangan atas kematian. karena dunia relijius tidak mengenal waktu dan bersifat tetap dalam rentang waktu kehidupan manusia yang tidak berarti. Untuk menyampaikan pesan ini, ritual mempermainkan ide kematian dan kelahiran dengan menciptakan imaji tentang kematian yang memberi kehidupan (Frazer 1890). Hal ini nampaknya selalu mendasari ritual pengorbanan, yang mengandung paradoks bahwa pembunuhan menghasilkan kehidupan transendental (hubert dan Mauss 1964 [1899]; Robertson-Smith 1889).

Dunia yang diciptakan oleh ritual sangat samar. Ritual tercipta melalui drama, bukan melalui penafsiran. Sebagai konsekuensinya, ketika ada ahli teologi profesional berusaha mengorganisasi dan mensistemasi keyakinan, ide mereka tampaknya sangat berbeda dengan kehidupan agama sehari-hari (Geertz 1960; Tambiah 1969). Karena itu, beberapa ahli antropologi membedakan dua tipe agama, agama rakyat (folk religion) dan agama teologis resmi (official theological religion) (Srinivas 1952). Pemisahan ini sebagian disebabkan oleh permasalahan di mana ahli-ahli antropologi dan sosiologi hampir tidak mungkin menyetujui pemikiran tentang keyakinan (Leach 1966). Pesan ritual sangat spesifik tentang apa yang bukan dunia nyata, sebagaimana Plato, tetapi jauh lebih samar lagi tentang apa sebenarnya dunia nyata itu. Tampaknya yang paling penting bagi semua agama adalah deklarasinya tentang pembatasan terhadap tindakan sadar manusia.

Fakta terakhir menerangkan hubungan antara agama dan sistem politik. Agar kekuasaan politik tidak terlihat semata sebagai tindakan kursif, tetapi sebagai tindakan yang absah, kekuasaan itu harus dihadirkan sebagai alat dari sesuatu yang melampaui hal-hal kekinian dan ke-disini-an. Kekuasaan mestinya yang tidak harus bersifat relijius, tetapi yang sering kali justru begitu. Sebagai contoh, para tetua di Afrika memperoleh justifikasi untuk menjadi pimpinan bagi banyak orang karena mereka mewakili para leluhur yang mumi dan bangkit dari kematian. Raja-raja pada abad pertengahan adalah wakil Kristus di dunia. Di beberapa bagian dunia, ada penguasa yang benar-benar dianggap sebagai tuhan. Dalam kasus seperti ini agama ditarik dari spekulasi metafisik yang di dalamnya terkandung tantangan terhadap otoritas.Tapi, apapun kekuasaan itu bisa memaksa partisipasi dalam ritual. Signifikansi politik dari agama dalam kasus-kasus seperti itu sebagian tergantung pada fakta bahwa ritual-ritual agama menginterpretasikan kembali keberadaan sebagai bayangan, sehingga legitimasi riel kekuasaan berada di luar tindakan-tindakan lain yang bersifat subordinasi; tetapi dalam hal ini juga bergantung pada fakta bahwa agama merupakan suatu reinterpretasi dan kehidupan nyata. Hal ini berarti bahwa dunia lain yang diciptakan oleh agama juga bagian dari dunia yang kita kenal ini, tetapi dipandang melalui sorot cahaya yang lain, yaitu sorot cahaya yang terdistorsi mengenai ritual; sebagai akibatnya dunia lain ini sampai pada tingkat tertentu tetap terlihat benar bagi indera dan emosi kita. Agama, untuk bisa kuat dan menjalankan peran politiknya, harus memiliki penampakan kebenaran yang mendalam, dan penjelasan tentang agama tidak hanya menerangkan bagaimana agama memelihara otoritas tetapi juga mengapa sangat diperlukan oleh para partisipannya.

Akan menyesatkan jika kita berpikir bahwa agama yang terorganisasi akan selalu mendukung otoritas. Malahan, penggunaan agama oleh kelompok-kelompok yang memiliki otoritas berarti bisa juga dipergunakan dalam pemberontakan agama. Dalam kasus seperti ini para pemberontak mengklaim bahwa penguasa yang ada bukanlah wakil yang tepat dari tuhan di bumi, melainkan mereka, para pemberontak (lleto 1979)., bahwa mereka telah menemukan sumber kekuasaan sejati yang diberikan oleh tuhan yang dengan demikian menjatuhkan klaim kekuasaan dari para penguasa yang ada (Lan 1985). Tetapi kemenangan tidak banyak berhubungan dengan klaim relijius dari kedua belah pihak; ini adalah masalah siapa yang paling kuat dalam peperangan.

Incoming search terms:

  • pengertian ritual
  • ritual keagamaan
  • arti ritual
  • pengertian ritual menurut para ahli
  • ritual adalah

Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian ritual
  • ritual keagamaan
  • arti ritual
  • pengertian ritual menurut para ahli
  • ritual adalah