Advertisement

1. Seperti biasanya, agnotisisme menunjukkan sikap dan pendapat filosofis yang mempertahankan bahwa hal yang mengatasi in- dera tidak dapat diketahui. Karena itu, agnotisisme merupakan penyangkalan kemungkinan metafisika sebagai sebuah ilmu. Dan terlebih lagi agnostisisme merupakan penolakan dapat diketahuinya Tuhan.

2. Sudah tentu bahwa kemungkinan atau bahkan dapat dipikirkannya sesuatu yang melampaui bidang pengalaman manusia yang mungkin, tidak ditentang. Tetapi kemampuan untuk mengetahui secara pasti eksistensi dan teristimewa esensi dari sesuatu yang “transenden” disangkal, karena mustahii bagi pikiran manusia. Karena itu, pengetahuan manusia terbatas pada barang-barang material di dunia ini. Sedangkan pengetahuan inengenai yang transenden, karena gagal memahami kemungkinan pengetahuan analog, paling banter diserahkan kepada firasat, perasaan atau “keyakinan” yang irasional

Advertisement

3. Agnotisisme merupakan bagian hakiki dari semua positivisme. Paham ini terdapat dalam filsafat kritis Kant, maupun dalam filsafat agama (yang sangat dipengaruhi oleh Kantianisme). Agnotisisme juga terdapat dalam modernisme katholik dan protestantisme modern, serta dalam teologi dialektis. Tokoh- tokoh positivisme dan eksistensialisme mencoba membuktikan kemustahilan untuk mengetahui dunia dan manusia. Di lain pihak, idealisme logis mengajarkan bahwa pada dasarnya segala sesuatu dapat diketahui. Paham ini mengembalikan sekalian kenyataan kepada kesadaran. Karena itu idealisme mampu menghindari perangkap agnotisisme hanya dengan menyangkal eksistensi dari segala sesuatu yang transenden.

Advertisement