PENGERTIAN AKIBAT KETERGANTUNGAN EKONONN DAN PENGHINDARANNYA: BEBERAPA KAJIAN KASUS HISTORIS – Jelas bahwa kajian-kajian di atas menunjang seluruh argumentasi teori keter-gantungart. Tapi, ia mempunyai keterbatasan juga. Mungkin yang terpenting dari keterbatasan yang ada itu ialah batasan waktu pada saat penelitian. Sebagian besar kajian mempelajari pertumbuhan ekonomi sejak akhir 1950an atau sesudahnya. Negara-negara dunia ketiga yang dibahas dalam berbagai kajian ini pada saat itu masih terbelakang, sementara para pengikut teori ketergantungan berpendapat bahwa ketefbelakangan merupakan akibat dari proses historis ketergantungan ekonomi yang telah berlangsung lama. Untuk meneruskan pengujian akan kebenaran faktual teori ketergantungan, perlu dilihat keterbelakangan dalam perspektif historis yang panjang. Pengujian dapat dilakukan denganmenggunakan dua perbandingan sejarah yang dipilih secara hati-hati: perkembangan ekonomi Cina dan Jepang sejak abad xix, dan akibat-akibat ekonomis lain yang telah terjadi di Amerika dalambeberapa abad lalu.

Pembandingan sejarah Cina dan Jepang kelihataru-tya cukup layak karena Jepang sekarang adalah satu-satunya negara di Asia yang telah maju menjadi “negara industri”. Dalam bukunya Japan, China and the Modern World Economy (1977), Frances Moulder mengemukakan sebab terpenting Jepang menjadi maju dan Cina tidak ialah karena kedudukan Cina dalam ekonomi-dunia kapitalis sebagai masyarakat pinggiran. Menurut Moulder, pada mulanya Cina bergabung dalam ekonomi-dunia sebagai mitra dagang Inggris. Selama berabad-abad Cina telah mena-nganiperdaganganbarang-barangmewah dengan Eropa, tapi pada akhir abad xviii dan awal abad xix hubungan dagang antara Cina dan Eropa mengalami banyak perubahan. Perdagangan antara Cina dan Inggris lebih merupakan perdagangan bahan pokok daripada barang mewah. Ketika teh menjadi kebutuhanpokok di Inggris, maka hampir semua teh diimpor Inggris dari Cina pada paruh pertama abad xix. Impor ini merupakan sumber penghasilan sangat penting bagi pemerintah Inggris. “Dalam tahun 1855, misalnya, sekitar 10 persen penghasilan kotor pemerintah Inggris berasal dari impor teh” (Moulder, 1977:99). Selain itu, sebuah jaringan perdagangan yang penting berkembang antara Inggris, Cina, dan India. Inggris menemukan pasaran di Cina untuk kapas mentah yang dihasilkan India, dan mereka mengekspor bahan itu ke Cina. Selanjutnya, setelah pertengahan abad xviii Inggris menguasai produksi candu di India dan mampu meningkatkan hasilnya. Mereka berhasil membuat ketergantungan sebagian orang Cina pada candu sehingga pasar candu di Cina makin meluas, dan candu ini tentu saja berasal dari India. Aspek lain dari perdagangan Inggris dengan Cina adalah perkembangan industri tekstil di Inggris. Ketika produksi kapas meningkat, ada keinginan untuk menjualnya keluar negeri, dan Cina adalah sasaran yang tepat. Dalam perkembangannya Cina menjadi pasar barang-barang dari kapas, Inggris berusaha menjadikan Cina sebagai pasar hasil industri tekstil selain di Inggris sendiri. Hasil manufaktur Inggris meningkat daya jualnya di Cina dibanding manufaktur Cina sendiri. Pada abad xix, negara-negara industri lain, seperti Prancis, Amerika Serikat, Jerman, mulai mengikuti langkah Inggris menjual sebagian hasil manufaktur mereka ke Cina. Pada akhir abad xix konsumsi Cina terhadap barang-barang buatan Barat menjadi sangat besar. Investasi asing di Cina juga berkembang sebagaimana layaknya perdagangan. Pembuatan kapal merupakan wujud penting dari investasi asing, ” dan pada tahun 1930an lebih dari separuh tonasi yang dibangun di Cina merupakan hasil karya perusahaan asing” (Moulder, 1977:113). Industri ini terutama dikuas”ai oleh Inggris. Tapi wujud terpenting dari investasi asing di Cina adalah iereta api dan pertambangan. 

Filed under : Bikers Pintar,