Advertisement

Di sisi positif, kebangkitan bisa terjadi dalam kondisi motivasional maupun emosional. Aktivasi dan kebangkitan ini sering digunakan secara bergantian guna merujuk pada suatu kontinum antara kondisi tidur nyenyak atau koma sampai dengan kondisi teror atau sebaliknya rasa sukacita yang luar biasa. Kontinum ini dianggap berlaku pada perilaku tertentu, namun para psikolog menyatakan bahwa pengertian kebangkitan dapat dikonstruksikan atas dasar konsep ilmu kejiwaan. Dalam hal ini arti pentingnya terletak pada kaitannya dengan sistem aktivasi/ pengaktifan yang berada pada salah satu bagian yang bertindak sebagai pembangkit keseluruhan fungsi otak. Ada sejumlah pertanyaan di seputar konstruksi teoretis aktivasi dan kebangkitan ini. Kelihatannya, perbedaan kepribadian antar-individu ada kaitannya dengan variasi tingkat kebangkitan ini. Mereka yang berkepribadian terbuka (ekstrovert) memiliki tingkat kebangkitan lebih tinggi ketimbang yang punya kepribadian tertutup/introvert H.J. Eysenck, 1967). Selain itu, para pendukung teori kebangkitan sampai batas tertentu cukup berhasil dalam memprediksikan efektivitas prestasi atau kinerja seseorang atas dasar tingkat Kebangkitannya. Secara umum, kinerja puncak akan dicapai oleh seseorang yang tingkat kehangatannya tidak terlalu rendah, tetapi juga tak terlampau tinggi. Namun fakta terpenting yang terungkap oleh teori ini adalah adanya kemiripan yang cukup mencolok atas dampak-dampak perilaku yang ditimbulkan oleh sejumlah faktor seperti suara keras, insentif, dan obat-obatan, sehingga muncul dugaan kuat bahwa faktor-faktor ini sama-sama mempengaruhi sistem kebangkitan, dan hal itu berarti sistem kebangkitan memang benar-benar ada. Di sisi negatif, atau menurut pendapat para pengritiknya, konsep aktivasi dan kebangkitan itu sulit diukur atau dibuktikan. Sejumlah upaya psikologis yang telah dilakukan untuk mengukur tingat kebangkitan ternyata memunculkan hasil-hasil yang saling berbeda, dan korelasinya dengan ukuran psikologis atau perilaku yang lain pun tergolong lemah, bahkan acapkali bertentangan. Dihadapkan pada kompleksitas ini para teorisi mencoba memberi dalih bahwa hal itu dikarenakan ada lebih dari satu jenis kebangkitan. Sebagai contoh, H.J. Eysenck (1967) menganjurkan agar istilah kebangkitan dibatasi pada kebangkitan pada korteks atau bagian tertentu otak, sedangkan istilah aktivasi diterapkan pada kebangkitan emosional atau otomatis. Terlepas dari kritik itu, kita agaknya perlu menelusuri teorinya lebih jauh. Sejauh ini, telah dikemukakan adanya tiga jenis kebangkitan, yakni kebangkitan korteks (kortikal), kebangkitan perilaku, dan kebangkitan otomatis (Lacey, 1967). Pribram dan McGuinnes (1975) menyatakan kategori berbeda berkenaan dengan jenis-jenis kebangkitan itu, yakni kebangkitan yang tercipta oleh rangsangan, kebangkitan berupa kesiagaan fisiologis untuk memberi respon, serta kebangkitan yang berupa upaya sadar untuk mengkoordinasikan keseluruhan proses aktivasi dan kebangkitan itu sendiri.

Sebagai rangkuman dapat dikatakan bahwa gagasan dasar mengenai dampak-dampak perilaku dari berbagai manipulasi emosional dan motivasional ditentukan paling kurang sebagian di antaranya oleh kondisi kebangkitan internal dalam diri seseorang, serta situasi nyata di sekitarnya. Namun jumlah dan hakikat dimensi-dimensi kebangkitan yang perlu dipostulasikan masih menjadi bahan perdebatan. Selain itu, ada kecurigaan bahwa dampak yang ditimbulkan oleh kebangkitan terhadap perilaku itu sesungguhnya tidak terlalu besar, dan tidak langsung sifatnya. Seseorang yang tingkat kebangkitannya terlalu rendah atau terlalu tinggi ternyata mampu memberi respon dengan berbagai strategi dan kegiatan pengimbang dalam rangka meminimalkan efek merugikan yang akan ditimbulkan oleh tingkat kebangkitannya yang tidak optimal itu (M.W. Eysenck, 1982). Jadi, kaitan antara kinerja dengan tingkat kebangkitan masih memerlukan penjelasan lebih jauh.

Advertisement

Advertisement