Advertisement

AKULTURASI DAN PEMBAURAN ATAU ASIMILASI
Istilah akumulasi atau kulturisasi mempunyai berbagai arti di antara para sarjana antropologi. Tetapi semua sepaham bahwa itu merupakan proses sosial yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan satu kebudayaan dihadapkan dengan unsur-unsur kebudayaan asing, sehingga dapat diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan asli.
Proses akulturisasi ada sejak dulu kala dalam sejarah manusia, tetapi proses akulturasi yang punya sifat yang khusus baru timbul ketika kebudayaan Eropa Barat mulai menyebar ke Afrika, Asia, Oceania, Amerika Utara, dan Amerika Latin. Kebudayaan Eropa mulai menyebar pada abad ke-15 dan membangun pusat-pusat kekuatan di benua lain untuk dijadikan pangkal pemerintahan jajahan akhir abad 19 dan awal abad ke-20. Bersama perkembangan pemerintah-pemerintah jajahan di seluruh benua mengiringi berkembang agama Nasrani. Akibatnya, di pertengahan abad ke-20 tidak ada suku bangsa yang terhindar dari itu. Dalam masyarakat suku bangsa Afrika, Asia, Oceania, Amerika membawa pengaruh yang mereka alami secara intensif sampai sistem norma dan budaya, yaitu proses yang disebut modernisasi.
Penelitian antropologi sekitar masa itu, kurang setengah abad yang lalu. Sebelumnya para sarjana antropologi tertarik pada kebudayaan Eropa-Amerika yang belum terpengaruh “zaman baru”. Sekarang sudah tidak mungkin lagi karena sudah hampir tidak ada suku bangsa yang asli. Penelitian masalah akulturasi dimulai tahun 1990 secara deskriptif mengenai bagaimana kebudayaan dipengaruhi Eropa-Amerika.
Asimilasi timbul bila ada:
1. Golongan manusia dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda,
2. Saling bergaul langsung secara intensif untuk waktu lama,
3. Kebudayaan golongan tadi berubah sifatnya dan wujudnya menjadi kebudayaan campuran. Golongan minoritas mengubah sifat khas unsur kebudayaan dan masuk ke kebudayaan mayoritas.
Proses sosialisasi yang disebut asimilasi banyak diteliti para sarjana sosiologi, terutama di Amerika Serikat di mana ada masalah kelompok imigran dari berbagai suku bangsa yang datang dengan kebudayaan berbeda-beda.
Di samping karangan deskriptif, timbul karangan teori yang mengabstraksikan banyak peristiwa akulturasi. Masalah akulturasi menjelang Perang Dunia II menjadi sangat besar hingga timbul kebutuhan untuk meninjau kembali dan dikupas pada masa lalu.
Setelah Perang Dunia II perhatian terhadap masalah akulturasi jadi lebih besar, sedang metode untuk menelitinya menjadi lebih tajam. Proses akulturasi terjadi dalam masyarakat suku bangsa yang tersebar di benua Asia dan Laut Teduh.
Sarjana antropologi melakukan penelitian hingga 1952. Dan apa yang dikerjakan pada tahun 1952 dan 1960 juga sangat besar.
Lima golongan masalah akulturasi:
1. Masalah metode untuk observasi, mencatat, dan melukiskan suatu proses akulturasi yang terjadi.
2. Masalah unsur kebudayaan asing yang mudah diterima, dan yang sukar diterima.
3. Masalah unsur apa yang mudah diganti dan tidak mudah diganti atau diubah.
4. Masalah individu yang cepat dan sukar menerima.
5. Masalah ketegangan dari krisis sosial akibat akulturasi. Dalam penelitian jalannya suatu proses akulturasi, seorang peneliti sebaiknya memperhatikan beberapa soal khusus, yaitu:
1. Keadaan masyarakat penerima sebelum proses akulturasi mulai berjalan.
2. Individu-individu dari kebudayaan asing yang membawa unsur-unsur kebudayaan asing.
3. Saluran-saluran yang dimulai oleh unsur-unsur kebudayaan asing untuk masuk ke dalam kebudayaan penerima.
4. Bagian-bagian dari masyarakat penerima yang terkena pengaruh unsur-unsur kebudayaan asing tadi.
5. Reaksi individu yang terkena unsur-unsur kebudayaan asing.
Dengan demikian, dalam tiap penelitian terhadap suatu proses akulturasi, sebaiknya diperhatikan kelima hal tersebut di atas dan tiap deskripsi terhadap suatu proses akulturasi sebaiknya mengandung lima bab yang masing-masing menguraikan hal tersebut.
Bahkan mengenai masyarakat penerima sebelum proses akulturasi dimulai, sebenarnya merupakan bahan sejarah dan masyarakat yang bersangkutan. Kalau kebudayaan dalam masyarakat penerima dan mempunyai sumber-sumber tertulis, maka bahan itu dapat dikumpulkan peneliti dengan menggunakan metode-metode yang bisa dipakai para ahli sejarah.
Kalau sumber tertulis tidak ada masih banyak metode lain untuk mengumpulkan bahan tentang keadaan masyarakat penerima yang kembali sejauh mungkin dalam ruang waktu, misalnya dengan mewawancarai orang tua dalam masyarakat yang masih mengalami zaman yang lampau.
Dengan demikan, seorang peneliti dapat rnengetahui keadaan kebudayaan masyarakat penerima sebelum terjadi proses akulturasi hingga pada saat permulaan proses itu terjadi. Saat itu akan kita sebut “titik permulaan dari proses akulturasi”. Dengan demikian, misalnya titik permulaan dari proses akulturasi antara kebudayaan-kebudayaan di Indonesia dengan kebudayaan Eropa adalah peristiwa datangnya kapal-kapal Portugis di Maluku, yaitu di Banda, Tidore, dan Ternate, kemudian ke Nusa Tenggara pada permulaan abad ke-16 dan peristiwa datangnya kapal-kapal Belanda dari organisasi perdagangan VOC di Banten pada akhir abad ke-16. Peristiwa itu merupakan titik permulaan dari suatu proses akulturasi yang berlangsung lambat sekali selama tiga abad dan kemudian mencepat mulai abad 20 ini.
Memperhatikan individu dari kebudayaan asing yang menyebarkan unsur-unsur kebudayaan asing sangat penting karena dengan pengetahuan tentang mereka ini yang dalam ilmu antropologi disebut “agents of aculration” dapat diketahui unsur kebudayaan macam apa yang masuk itu. Memang dalam hidup masyarakat, warga masyarakat hanya mengalami sebagian daari kebudayaan.
Dengan demikian, macam dari orang-orang yang menjadi agents of aculturation itu akan menentukan unsur-unsur apa yang masuk ke dalam negaranya. Kalau mereka pedagang, maka unsur kebudayaan yang mereka bawa adalah terutama benda-benda kebudayaan jasmani, dan cara-cara berdagang. Apabila agents of aculturation adalah pegawai pemerintah jajahan, maka unsur-unsur kebudayaan yang mereka bawa tentu lain lagi dan sebagainya. Kecuali pedagang, pendeta dan pegawai pemerintah jajahan, tentu banyak macam orang lain dapat menjadi agents of aculturation.

Advertisement
Advertisement