Advertisement

Alat-alat batu yang tertua dibuat secara sederhana dengan membenturkan batu dengan batu, sehingga sebagian dari batu itu pecah dan meninggalkan bagianbagian yang tajam. Bagian yang tajam itu lalu dapat digunakan untuk berbagai keperluan baik memotong, menetak, mengiris, ataupun menguliti. Secara umum, alat-alat batu dibedakan menjadi alat serpih dan alat batu inti. Pembedaan ini didasarkan pada bagian batu yang akan dipergunakan untuk alat. Alat serpih dibuat dari pecahan atau serpihan batu yang terlepas dari batu induknya ketika dipangkas, sedangkan alat batu inti adalah alat yang dibuat dari sisa batu induk yang telah mengalami penyerpihan. Karena itu, alat serpih pada umumnya tipis dan berukuran kecil, sedangkan alat batu inti cenderung berukuran cukup besar dan bentuknya tampak lebih masif. Namun, tidak jarang penyerpihan batu berukuran besar akan menghasilkan serpih tebal yang berukuran cukup besar. Serpih seperti itu dapat diperlakukan sebagai bahan batu yang selanjutnya dapat dibentuk menjadi alat batu inti.

Cara untuk membentuk alat batu sering dibedakan menjadi empat macam teknik, yaitu penyerpihan paron, penyerpihan langsung, penyerpihan tidak langsung, dan penyerpihan tekan (Oakley, 1972; Andrefsky, 1998). Cara penyerpihan paron diduga merupakan cara paling tua untuk membentuk alat batu sederhana, yaitu dengan cara memukulkan atau menghempaskan batu yang hendak dibuat alat pada batu pelandas (paron) . Alat batu yang dihasilkan bentuknya cenderung tidak teratur, karena si pembuat tidak dapat mengendalikan bentuk pecahan atau serpihan batunya. Bentuk alat mungkin dianggap tidak terlalu penting, yang penting pecahan-pecahan batu r.;itu menghasilkan sisi-sisi tajam yang dapat digunakan untuk mengiris atau menetak. Dalam perkembangan lebih lanjut, penyerpihan paron dapat juga dikendalikan lebih baik dengan cara meletakkan batu yang hendak dibentuk pada pelandas, kemudian dipukul langsung atau tidak langsung dengan alat pukul, baik dari batu atau tulang yang dikeraskan dengan api. Cara ini disebut teknik bipolar (dua kutub) karena menghasilkan alat yang seakan-akan diserpih dari dua arah berlawanan secara bersamaan.

Advertisement

Penyerpihan langsung dilakukan dengan cara memukul batu yang akan dibentuk dengan alat pemukul. Cara ini paling umum digunakan untuk membuat alat-alat batu yang bentuknya agak kasar dengan faset-faset yang cenderung lebar. Untuk membuat alat batu yang lebih terpola bentuknya dengan faset-faset yang lebih kecil dan rapi biasanya digunakan teknik penyerpihan tak langsung. Dalam hal ini, bahan batu tidak kontak langsung dengan alat pukulnya, tetapi melalui alat perantara yang biasanya dibuat dari tulang keras dengan ujung runcing. Dengan alat perantara yang runcing, si pembuat dapat memilih titik-titik benturan (point of percussion) secara lebih cermat, sehingga arah pukul dan gaya yang diterapkan dapat dikendalikan lebih baik. Hasilnya, bentuk serpihan atau cekungan yang terbentuk pada batu inti akan lebih teratur. Cara ini dipakai antara lain untuk membuat bilah batu (blade), yaitu alat serpih yang memanjang dengan kedua sisi sejajar.

Penyerpihan tekan merupakan teknik pembentukan yang paling terkendali. Untuk melepaskan serpihan atau membuat cekungan pada batu, batu yang dibentuk tidak lagi dipukul, tetapi hanya ditekan kuat-kuat dengan alat penekan yang runcing. Ketika diserpih, batu yang dibentuk biasanya dipegang erat pada salah satu telapak tangan atau diletakkan di atas paha si pembuat yang dilandasi kulit. Cara ini umumnya dipakai untuk membentuk alat batu yang permukaannya berfaset-faset halus dan rapi, atau diterapkan untuk memberikan sentuhan akhir pada alat-alat batu yang bentuknya rumit. Di Indonesia, pembuatan alat-alat batu yang tertua umumnya dilakukan dengan cara penyerpihan langsung dan kadangkala teknik bipolar. Hal ini terlihat dari temuan alat serpih tertua yang ditemukan di Situs Sangiran (Jawa Tengah) maupun di Matamenge (Flores). Di situs Sangiran, alat serpih ditemukan pertama kali oleh G. H. R. von Koenigswald pada Formasi Kabuh yang terendapkan sejak sekitar 800.000 tahun yang lalu (Widianto etai, 2001). Bahan alat-alat serpih itu biasanya dari batu setengah mulia (.semi-precious stones) antara lain kalsedon dan jasper. Di situs Matamenge, alat serpih yang terbuat dari batu setengah mulia juga ditemukan pada lapisan tanah yang berumur 800.000 tahun bersama dengan fosil gajah purba stegodon, komodo, dan tikus besar yang diduga merupakan hewan buruan manusia (Morwood, Alat serpih biasanya dipakai untuk bermacam fungsi antara lain sebagai pisau, peraut, penyerut, gurdi, ujung panah atau tombak, pengupas umbi-umbian, atau alat menguliti hewan kecil.

Alat batu inti juga banyak ditemukan di situs-situs hunian paleolitik di Indonesia. Alat batu inti di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan Pacitanian, karena ditemukan pertama kali oleh G.H.R. von Koenigswald di Sungai Baksoko (Punung), yang termasuk wilayah Pacitan. Menurut ahli alat batu Hallam Movius, alat batu inti Pacitan ini termasuk dalam teknologi Kapak Perimbas-Penetak (Chopper-chopping tools yang berkembang luas di Asia Timur, termasuk Indonesia. Tradisi alat batu ini dibedakan dengan tradisi pembuatan alat batu di Eropa, Afrika, dan Asia Barat yang dikenal dengan alat batu Acheullean. Dibanding tradisi Acheullean, alat-alat batu Kapak Perimbas Penetak umumnya dikerjakan dengan lebih kasar dan bentuknya lebih tidak beraturan. Hal ini disebabkan karena kelompok pemburu peramu di Asia Timur lebih bersifat pragmatis. Mereka tidak ingin menyimpan dan membawa alat-alat batu yang berat ke mana mereka pergi. Mereka lebih senang membuat alat batu di tempat manakala mereka merasa membutuhkan dan akan membuangnya begitu alat batu selesai difungsikan. Apalagi, bahan untuk membuat alat batu dapat diperoleh lebih mudah di kawasan ini.

Setidaknya ada empat jenis alat batu inti yang ditemukan di Indonesia, yaitu kapak perimbas, kapak penetak, pahat genggam, dan proto kapak genggam. Perbedaan jenis-jenis alat batu inti didasarkan pada bentuk kasarnya serta sisi yang dipangkas. Kapak perimbas, biasanya berbentuk setengah lingkaran atau seperti tapal kuda, penyerpihan biasanya dilakukan pada satu muka batu, sehingga bentuk tajamannya agak lurus. Batu dengan bentuk yang sama, tetapi diserpih dua muka sehingga membentuk sisi tajamannya lebih berliku-liku, disebut kapak penetak. Alat batu yang mempunyai bentuk kasar agak persegi, diserpih hanya satu muka, sehingga tajamannya melandai ke satu sisi seperti pahat diklasifikasikan sebagai pahat genggam, sedangkan alat batu yang bentuknya cenderung segitiga dan diserpih dari dua muka dikenal sebagai proto-kapak genggam. Klasifikasi alat batu tersebut sebenarnya lebih didasarkan dari aspek bentuk daripada fungsinya. Hingga kini agak sulit membedakan fungsi setiap jenis alat batu tersebut, karena belum banyak penelitian tentang fungsi alat batu di Indonesia. Secara umum alat batu inti dapat digunakan untuk menebas, membantai, dan menguliti hewan buruan, menebang pohon, dan menetak ranting.

Selain jenis-jenis alat batu Kapak Perimbas Penetak, para pemburu purba juga menggunakan batu bulat seperti bola tenis untuk menjatuhkan hewan buruannya. Bola batu seperti itu ditemukan dalam jumlah yang cukup banyak di Situs Sangiran. Mungkin saja bola batu itu awalnya merupakan bentukan alam akibat proses pelapukan membundar (.spheroidal weathering), tetapi kemudian dihaluskan dan dipakai sebagai batu pelempar buruan. Selain itu, dua atau tiga bola batu dapat masing-masing diberi tali lalu digabungkan menjadi jerat yang dilemparkan ke arah kaki hewan buruan untuk menjatuhkannya.

Incoming search terms:

  • alat batu pecahan sisa batu inti yang kemudian dibentuk menjadi tajam disebut
  • pengertian batu inti
  • arti makna batu inti
  • makna batu inti
  • alat alat serpih/pecahan batu inti oleh manusia purba digunakan untuk
  • alat batu pecahan siswa batu inti yang kemudian dibentuk menjadi tajam disebut
  • pengertian alat dari serpihan batu
  • penjelasan tradisi batu serpih dan batu inti
  • teknik faset

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • alat batu pecahan sisa batu inti yang kemudian dibentuk menjadi tajam disebut
  • pengertian batu inti
  • arti makna batu inti
  • makna batu inti
  • alat alat serpih/pecahan batu inti oleh manusia purba digunakan untuk
  • alat batu pecahan siswa batu inti yang kemudian dibentuk menjadi tajam disebut
  • pengertian alat dari serpihan batu
  • penjelasan tradisi batu serpih dan batu inti
  • teknik faset