Advertisement

Alat-alat dari kayu; bambu dan tulang sebenarnya juga digunakan dalam perburuan. Namun, alat-alat dari bahan organik ini lebih mudah rusak atau lapuk, sehingga amat sedikit yang mampu bertahan sampai masa kini. Sebagian besar sudah hilang. Kayu dan bambu mungkin dibentuk dan diraut ujungnya agar runcing dan dapat dipakai sebagai tombak. Bukti digunakannya alat tulang ditemukan di Situs Ngandong (Jawa Tengah) berupa ujung tombak bergerigi di kedua sisinya. Alat ini dibuat dari tulang ikan pari dan mungkin difungsikan sebagai seruit atau harpun (harpoon), alat penangkap ikan. Manusia purba juga mengubah tanduk rusa menjadi alat penggali umbi-umbian, seperti yang ditemukan di Situs Ngandong (Heekeren, 1972) dan Sangiran.

Perkembangan teknologi perburuan tampaknya tidak mengalami perubahan berarti sekitar 800.000 hingga 10.000 tahun yang lalu. Hanya saja, sekitar 18.000 tahun lalu, rupanya ada variasi baru alat batu yang muncul. Alat batu ini awalnya dikenal sebagai sumatralith karena ditemukan pertama kali di Sumatra Utara. Namun, karena di daerah Hoabinh (Vietnam), alat batu sejenis ini ditemukan dalam jumlah yang lebih banyak dengan persebaran luas, maka kini alat batu ini lebih dikenal sebagai Hoabinhian.

Advertisement

Bentuk alat batu ‘sumatralith’ memang agak khas. Biasanya dibuat dari batu lonjong atau bulat berkulit halus yang dibelah tengah. Bidang belahan lalu diserpih hingga agak rata, sehingga bentuk alat batu pada satu muka rata berfaset dan sisi lainnya cembung dengan kulit halus. Namun, kadang ada juga yang kedua mukanya diserpih. Alat batu sumatralith umumnya ditemukan dalam konteks bukit Cangkang Kerang yang merupakan sisa-sisa makanan. Karena itu, fungsi alat batu ini terkait dengan pengolahan makanan dari kerang, mungkin untuk membuka cangkang kerang.

Penelitian yang dilakukan di bukit-bukit cangkang kerang (kjokkenmoddinger = sampah dapur) (Gambar 3.9) di Sumatra Utara mengungkapkan bahwa para pengumpul kerang ini telah hidup agak menetap. Bahkan, mereka juga mendirikan rumah-rumah panggung yang cukup tinggi di tepi laut yang dangkal atau garis pantai. Hal itu dibuktikan juga dengan temuan sisa-sisa tonggak kayu bekas tiang rumah (Heekeren, 1972). Di bawah rumah panggung di atas laut dangkal ini, para penghuninya membuang sisa-sisa makanan, terutama cangkang kerang, tulang hewan buruan, dan alat-alat batu yang tak digunakan lagi, sehingga terbentuk bukit-bukit cangkang kerang yang cukup tebal.

Sementara itu, di Jawa dan Sulawesi, sekitar 8.000 tahun lalu mulai berkembang cara pembuatan mata panah yang cukup rapi. Mata panah batu ditemukan tersebar cukup luas di gua-gua Jawa Timur dan Jawa Tengah Selatan. Umumnya, mata panah batu dibuat dari batu rijang yang diserpih dengan rapi. Sangat mungkin cara penyerpihan tekan sudah digunakan untuk membentuk mata panah yang kadangkala ukurannya cukup kecil. Bentuk mata panah ada yang pangkalnya cembung, ada pula yang cekung seperti bersayap.

Perkembangan yang sama juga terjadi di Sulawesi Selatan, terutama pada situs Budaya Toala. Di sini, mata panah batu sering kali dibuat bergerigi pada sisisisinya dan dikenal sebagai ‘lancipan Maros’. Baik pada Budaya Sampung maupun Budaya Toala, mata panah batu yang berukuran kecil diduga digunakan untuk ujung anak sumpitan. Sumpitan adalah alat berburu berbentuk pipa buluh panjang. Anak sumpitan dimasukkan ke dalam pipa buluh lalu dibidikkan pada sasaran dengan meniup pipa buluh. Biasanya ujung anak sumpitan diberi racun agar cepat membunuh hewan buruan yang terbidik. Adanya mata panah batu pada kedua budaya ini menunjukkan bahwa pada awal Kala Holosen, para pemburu sudah menggunakan busur-panah dan sumpitan. Cara ini lebih efektif untuk berburu pada lingkungan yang tertutup, seperti lingkungan hutan tropis. Hal ini menunjukkan pada menjelang akhir Kala Plestosen telah terjadi pergeseran arena perburuan dari wilayah padang rumput atau sabana ke lingkungan berhutan. Bukti pendukung yang cukup jelas terdapat di situs-situs Budaya Sampung yang mengandung banyak tulang-tulang dan tengkorak monyet Macaca.

Pada Budaya Sampung, variasi alat-alat tulang dan tanduk juga meningkat. Alat-alat penggali dari tanduk rusa dan tulang kaki binatang besar, seperti banteng atau kerbau, masih banyak dipergunakan (Gambar 3.12). Tanduk rusa yang bercabang dipotong dengan alat batu, sehingga satu cabangnya lebih pendek dari batang yang menjadi tangkainya. Alat seperti ini menjadi alat penggali yang baik, karena bentuknya menyiku seperti cangkul. Alat penggali lainnya dibuat dari tulang kaki hewan besar yang ditetak setengah dan dibelah memanjang, sehingga pada satu ujungnya masih tersisa bagian ujung sendi (conUjung yang tidak bersendi lalu diraut halus meruncing, sedangkan ujung bersendi dipakai sebagai pangkal. Mungkin sekali alat seperti ini digunakan untuk ujung tugal dan dipasangkan pada tangkai kayu yang cukup panjang. Bentuk-bentukalat tulang lainnya berbentuk seperti sendok atau sudip pipih jarum, dan lancipan ganda mirip tusuk gigi. Keragaman alat tulang ini memberikan bukti semakin beragamnya kegiatan dan jenis makanan yang dikumpulkan dan dikonsumsi oleh masyarakat pemburu pada masa itu.

Di Sulawesi Selatan, Budaya Toala tidak saja menghasilkan mata panah bergerigi untuk berburu hewan, tetapi para pemburu juga membuat alat bilah dari batu dan serpih yang bentuknya geometris berukuran kecil (kurang dari 2 cm), atau sering disebut sebagai mikrolit. Bilah batu mungkin sekali dihasilkan dengan cara menerapkan ‘teknik pukul tidak langsung’, sehingga dapat dihasilkan alat batu yang tipis, memanjang (perbandingan lebar dan panjang lebih dari dua kali), dan sisi-sisinya hampir sejajar. Namun, alat-alat seperti ini rupanya lebih banyak dipakai untuk membuat alat dari kayu atau memanen tanaman, karena masih terdapat endapan silika (silica-gloss)yang menempel di beberapa bagian tajamannya ketika alat batu itu digunakan. Ada alat serpih mikrolit yang dibentuk agak melengkung dan salah satu sisinya dipangkas tegak, sehingga menyerupai segmen buah jeruk dan disebut ‘serpih berpunggung’. Serpih mikrolit mungkin sekali dipasang berderet pada tangkai kayu yang ditakik memanjang dan direkatkan dengan sejenis getah untuk dijadikan semacam sabit pemanen.

Seperti halnya gejala yang teramati pada situs Budaya Sampung di Jawa, temuan pada situs Budaya Toala pun menunjukkan adanya peningkatan pemanfaatan tanaman. Karena itu, Budaya Sampung dan Budaya Toala mungkin sekali mewakili budaya peralihan dari budaya yang awalnya menggantungkan pada mata pencarian dengan berburu dan meramu menuju budaya bercocok tanam awal.

Incoming search terms:

  • Alat yang menyerupai tombak kedua sisinya bergerigi dibuat dari bahan
  • alat yang menyerupai tombak kedua sisi nya bergerigi di buat dari bahan
  • alat yg menyerupai tombak kedua sisinya bergerigi terbuat dari baahan
  • mata tombak bergerigi
  • pengertian alat alat tulang
  • pengertian alat tulang
  • ujung tombak bergerigi terbuat dari

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • Alat yang menyerupai tombak kedua sisinya bergerigi dibuat dari bahan
  • alat yang menyerupai tombak kedua sisi nya bergerigi di buat dari bahan
  • alat yg menyerupai tombak kedua sisinya bergerigi terbuat dari baahan
  • mata tombak bergerigi
  • pengertian alat alat tulang
  • pengertian alat tulang
  • ujung tombak bergerigi terbuat dari