Advertisement

Orang-orang dapat secara sederhana mengalihkan perasaan atau penilai di antara dua objek yang berkaitan. Perhatikanlah iklan televisi dipasang pada bis kota. Untuk membujuk Anda agar memiliki sikap positif terhadap kendaraan, bis tersebut dikaitkan dengan beberapa objek positif lainnya. Kepada kita tidak hanya ditunjukkan bis yang mengkilap dan diberitahu daya tahannya, tidak berisik, dan menyenangkan. Sementara pesan tersebut disampaikan, diperlihatkan wanita cantik, pria ganteng, dan anak-anak yang manis, dan mungkin disertai juga dengan beberapa kuda jinak atau anjing mungil yang elok sebagai latar belakang. Atau mungkin mobil tersebut didukung oleh atlit terkenal atau bintang film. Agaknya, semua keindahan, kemashuran, dan popularitas ini akan diasosiasikan dengan mobil tersebut, sehingga meningkatkan perasaan-perasaan positif kita terhadap bis itu dan meningkatkan kemungkinan bahwa kita akan menumpangnya. Dengan kata lain, secara sederhana orang mengalihkan perasaan mereka tentang suatu objek (orang cantik) terhadap objek lain (mobil). Gagasan ini berasal dari versi teori belajar tentang asosiasi yang telah dibahas. Untuk menguji gagasan alih perasaan iniy kepada pelajar Amerika, Lorge (1936) mengajukan pesan sebagai berikut? “Saya beranggapan bahwa pemberontakan kecil, kini dan nanti, merupakan sesuatu yang baik, dan merupakan hal yang penting dalam dunia politik seperti badai dalam gejala alam.” Subjek setuju dengan pesan tersebut bila dihubungkan dengan Thomas Jefferson, dan tidak menyetujui pesan tersebut bila dihubungkan dengan Lenin. Lorge menyatakan bahwa perasaan positif yang dikaitkan dengan Jefferson membuat pesan tersebut lebih positif bila dihubungkan dengan Jefferson, sedangkan perasaan negatif yang diasosiasikan dengan Lenin memiliki akibat yang bertolak belakang dalam setiap kasus alih perasaan sederhana. Penelitian selanjutnya mendukung ide ini dalam konteks yang lebih luas dan bervariasi.

Advertisement
Advertisement