PENGERTIAN ALTERNATIF WEBERIAN TERHADAP MARXISME – Max Weber (1978, asli 1923) setuju dengan Marx bahwa konsep kelas merupakan hal yang sentral dalam menganalisis stratifikasi masyarakat kapitalis. Tetapi Weber melihat analisis Marx terbatas hanya pada pembahasan kelas dan sempit. Weber percaya bahwa ada dua tipe kelompok stratifikasi lain yang berp eran penting dalam setiap sistem stratifikasi masyarakat: kelompok status dan partai. Kelompok Status didefinisikan oleh Weber sebagai kelompok yang anggotanya mempunyai gaya hidup tertentu dan mempunyai tingkat penghargaan sosial dan kehormatan sosial tertentu. Sebuah Partai adalah sebuah asosiasi politik dimana anggotanya melakukan atau mempunyai kekuatan sosial ter tentu.

Jadi Weber mengidentifikasi tiga aspek stratifikasi — kekayaan, kehormatan dan gaya hidup— juga ada tiga jenis kelompok terstratifikasi sehubungan dengan kriteria ini. Ia juga melihat bahwa pemilikan modal, kehormatan dan kekuasaan dapat berdiri sendiri satu sama lain. Oleh karena itu, suatu kelompok yang mempunyai pemilikan modal, belum tentu memiliki kedudukan yang tinggi dalam kerangka status dan kekuasaan; seperti juga sebuah kelompok yang mempunyai status tinggi belum tentu memiliki modal yang besar pula. Tetapi Weber juga menekankan bahwa walaupun ketiga kriteria masing-masing independen, mereka sangat erat berhubungan satu sama lain. Jadi, mereka yang memiliki modal yang besar umumnya mendapatkan status dan kekuasaan yang besar pula. Konsep kelas, kelompok status, dan partai adalah analisis abstrak dan mungkin sulit untuk diterapkan dalam kelompok sosial yang kongkrit. Contohnya konsep kelas menurut Weber tersebut dapat saja berupa sebuah kelas sekaligus kelompok status. Dengan menggunakan kriteria Weber, para bangsawan pada abad pertengahan di Eropa dapat diidentifikasikan sebagai sebuah kelas dan kelompok status: posisi ekonominya yang berlandaskan pada keperlikan tanah, tetapi mereka berada dalam gaya hidup yang menekankan kesePahteraan, bertingkah sangat sopan, dan merendahkan aktivitas komersial. Analisis Weberian terhadap kapitalisme kontemporer mengakui ada nya kelompok borjuis yang kuat dan memiliki kekayaan serta telah memberi dampak besar terhadap masyarakat modern. Tetapi Weber juga melihat ada.. nya kelompok sosial yang tidak terikat dengan kriteria pemilikan modal. Contohnya adalah para profesional terpelajar, yang mempunyai hak istimewa dan status sosial tinggi, tetapi tidak secara kepemilikan modal. Kelompok ini lebih merupakan kelompok status daripada sebuah kelas. Bagaimana dengan keunggulan status dan hak istimewa mereka? Weber menggunakan konsep lain dalam analisis stratifikasi yang sama pentingnya dengan konsep kelas, kelompok status dan partai yakni: konsep tentang batas sosial (social closure) (Weber, 1978 asli. 1923; bandingkan: Parkin, 1979; Murphy, 1988). Weber menggunakan konsep ini untuk menunjukkan kecenderungan kuat kelompok sosial untuk mencapai kriteria sosial sebagai tanda perbedaan, sebagai alat untuk memisahkan diri mereka dengan kelompoklainnya. Yang termasuk kriteria ini adalah jenis kelamin, ras, latar belakang kultural (nasionalitas), tingkat pendidikan, dan pekerjaan. Dengan menggunakan kriteria-kriteria ini untuk memisahkan mereka dengan kelompok anggota kelompok ini mencoba memonopoli sumber daya sehingga mereka mendapatkan harga diri dan ekonomi yang mapan. Konsep batas sosial Weber adalah tambahan penting terhadap analisis Marxisme tentang sistem stratifikasi modern. Hal ini memungkinkan konsep Marxis tentang pemilikan modal digolongkan sebagai salah satu konsep batas sosial (Parkin, 1979). Oleh karena itu, pemilikan modal dapat dipandang sebagai satu bentuk batas sosial. Anggota kelas kapitalis, misalnya, menggunakan modal besar mereka sebagai alat untuk menciptakan dan memelihara prestise dan hak istirnewa yang tinggi. Tetapi ada kriteria lain yang dapat digunakan oleh kelompok lainnya. Umpamanya seperti yang dicatat Parkin bahwa dalam masyarakat modern tingkat pendidikan tampaknya muncul sebagai salah satu alat yang penting dalam batas sosial. Dengan mencapai tingkat pendidikan tertentu (yang berarti mempunyai jenis diploma tertentu), anggota suatu kelompok mengharap dapat menciptakan kriteria minimum untuk masuk dalam pekerjaan tertentu dengan imbalan berupa gaji yang tinggi dalam arti hak istimewa dan prestise.

Meski pendidikan merupakan alat pembatasan sosial utama dalam masyarakat industri modern, ia bukan satu-satunya. Para profesional terpelajar menggunakan kriteria ini untuk memisahkan kelompok mereka, tetapi mereka menggunakan dua alat lain bagi kesuksesan perekonomian mereka: memanipulasi kultur simb olik, danmengembangkanbentuk organisasi politik yang kuat (“partai”-nya Weber). Ilmu Hukum. dan Kedokteran, misalnya, dalam masyarakat industrial umumnya, dan khususnya di Amerika Serikat, sangat menguntungkan para profesional yang berakibat tingginya prestise sosial mereka. Telah lama diketahui bagaimana para ahli hukum dan dokter mencapai kesuksesan dalam ekonomi dan prestise sosial. Mereka memonop oli bentuk pengetahuan spesialis yang penting bagi kesejahteraan klien dan pasien mereka. Dengan tujuan menunjukkan monopoli mereka atas pengetahuan yang khusus itu, mereka mengembangkan sistem terminologi yang rumit dari bahasa latin dan hanya orang tertentu yang mampu memahaminya. Sistem ini didisain, setidak-tidaknya sebagian, untuk mengesankan mereka yang dilayani. Hal ini memudahkan klaim mereka bahwa mereka patut mendapatkan imbalan ekonomi yang tinggi. Monopolisasi terhadap pengetahuan tertentu penting untuk kesuksesan para profesional terpelajar, tetapi bagi mereka sendiri tidak cukup. Harus ada, sebuah bentuk organisasi politik yang dirancang untuk melindungi dan mempromosikan hak istimewa dan prestise tersebut. Para dokter mempunyai organisasi semacam itu yakni American Medical Association (AMA), para ahli hukum mendirikan Anzerican Bar Association (ABA). AMA disebut sebagai kelompok paling kuat kedua dalam melobby keputusan pemerintah di Amerika Serikat (yang pertama adalah perusahaan-perusahaan minyak). Selama beberapa dekade AMA telah membatasi pemasukan murid di sekolah-sekolah kesehatan, untuk menjaga permintaan dokter tetap tinggi (Freeman, 1976). Manipulasi pasar yang artifisial ini mengakibatkan pendapatan yang tinggi (Freeman, 1976). Akhirnya, sepanjang tahun AMA banyak menentang petunjuk-petunjuk kesehatan yang disosialisir pemerintah. Ia telah melobby pemerintah federal untuk melaksanakan sistem “perusahaan bebas” dalam pelayanan kesehatan, dan berhasil mencegah setiap perkembangan nasionalisasi pelayanan kesehatan. Adalah hal yang mengesankan bahwa dalam masyarakat industri modern yang mempunyai sistem pelayanan kesehatan yang diatur oleh peraturan pemerintah, tingkat pendapatan dan status sosial dokter dib andingkan penduduk lainnya relatif lebih rendah di Amerika Serikat. (bandingkan: Starr, 1982:6). Menerima pendekatan Weberian terhadap stratifikasi tidak berarti membuang pendekatan Marxisme. Sebaliknya, pendekatan Weberian dan Marxian lebih bersifat saling melengkapi daripada berlawanan. Namun, ada satu hal dimana pendekatan Weberian lebih unggul, yaitu dalam analisisnya terhadap masyarakat sosialis. Karena masyarakat ini tidak memiliki bentukbentuk pemilikan kekayaan pribadi, teori Marxian klasik tidak menjelaskan mengapa mereka terstratifikasi. Tetapi sis tem stratifikasi masyarakat ini dapat dijelaskan dengan menggunakan perspektif Weberian. Elit birokrat Soviet dan kelas ilmuwan, menggunakan ijazah pendidikan dan keanggotaan partai sebagai alat untuk batas sosial. Seperti ditulis oleh Parkin (1979:53): Tidak perlu ada perdebatan semantik tentang apakah kelas pekerja di negara sosialis “benar-benar” dieksploitasi. Pertanyaan relevannya bukan apakah terjadi pengumpulan surplus, tetapi apakah negara memberikan hak kepada kelompok terbatas yang terpilih untuk menutup ekses “sumber kehidupan dan tenaga kerja” dari anggota masyarakat lainnya. Jika kekuatan eksklusif seperti itu dip erkuat dan dij amin, maka s9buah hubungan yang eksploitatif terj adi. Tidaklah penting untuk mengetahui apakah kekuatan eksklusif ini dilakukan oleh mereka yang mempunyai modal atau oleh agen-agen mereka yang ditunjuk, jika konsekuensi sosial dari eksklusivitas dalam kedua kasus sama saja.

Filed under : Bikers Pintar,