PENGERTIAN ANALOGI EVOLUSI

102 views

PENGERTIAN ANALOGI EVOLUSI – Evolusi bisa didefinisikan sebagai suatu perubahan atau perkembangan, seperti perubahan dari sederhana menjadi kompleks. Perubahan itu biasanya dianggap bersifat lambat laun. Paradigma yang berkaitan dengan konsep evolusi tersebut adalah evolusionisme yang berarti cara pandang vang menekankan perubahan lambat-laun menjadi lebih baik atau lebih maju dari sederhana ke kompleks. Sebagai kebalikan dari evolusi adalah revolusi yang berarti perubahan yang cepat.

Tak berlebihan apabila dikatakan bahwa evolusionisme adalah landasan awal bagi pembentukan berbagai paradigma dalam antropologi. Menurut hemat penulis, meskipun sebagian paradigma pada masa kini menyatakan secara implisit atau eksplisit tidak sepakat, atau tidak memandang sentral, eksplanasi evolusionisme, khususnya bagi memahami masyarakat dan kebudayaan, secara sadar atau tidak semua antropologdan juga ahli ilmu sosial lainnya— menggunakan ungkapan-ungkapan evolusionistik dalam menanggapi gejala sosial tertentu. Istilah-istilah seperti “sederhana-kompleks”, “kemajuan-kemunduran”, “tradisionalmodern”, atau “desa-kota”, jelas menunjukkan cara berpikir yang merujuk proses perubahan atau perkembangan dari satu tahap ke tahap lain, yang dalam banyak hal adalah evolusionistik. Dengan kata lain, banyak pikiran dalam evolusionisme tetap hadir—mungkin secara tersirat— dalam paradigma-paradigma antropologi sosial budaya masa kini, dan membayang-bayangi paradigma-paradigma tersebut.

Pertanyaan besar yang hingga kini tetap dilontarkan adalah apakah benar, b.tau seberapa jauh, perilaku manusia dapat dijelaskan oleh hereditas, suatu konsep yang melekat dalam evolusionisme. Meskipun pertanyaan tersebut terus diajukan, tidak ada persoalan dengan pandangan bahwa kebudayaan itu berevolusi. Manusia menjadi pemburu dan peramu, menggunakan peralatan di samping otot-otot dan gigigeligi. Manusia mulai menanam tumbuh-tumbuhan dan memelihara hewan untuk memenuhi kebutuhan akan makanan. Manusia membangun kota dan sistem politik yang kompleks. Lalu, dapatkah perubahan-perubahan kebudayaan ini dijelaskan oleh seleksi alam meskipun perilaku budaya tidak memiliki komponen genetik ?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, kita harus ingat bahwa bekerjanya seleksi alam membutuhkan tiga syarat yang harus dipenuhi (Ridley 1991): (1) seleksi alam memerlukan variasi agar bisa bekerja; (2) harus ada reproduksi diferensial; dan (3) harus ada mekanisme untuk menduplikasi unsur-unsur adaptif. Kemudian, muncul pertanyaan lain, yaitu apakah ketiga syarat ini berlaku bagi petilaku budaya? Bagaimana evolusi kebudayaan menyerupai atau tidak menyerupai evolusi biologi? (Ember dan Ember, 1996: 27).

Dalam evolusi biologi, variabilitas berasal dari rekombinasi genetik dan mutasi. Dalam evolusi kebudayaan, variabilitas datang dari rekombinasi perilaku yang dipelajari dan dari penemuan-penemuan (invention). Kebudayaan tidaklah tertutup atau terisolasi secara reproduktif seperti halnya spesies. Suatu spesies tidak bisa meminjam unsur-unsur genetik dari spesies lain, tetapi kebudayaan dapat meminjam hal-hal baru dan perilaku dari kebudayaan lain. Sebagai contoh, cara bertanam jagung di suatu daerah dapat diterapkan juga di daerah-daerah lain.

Mengenai syarat reproduksi diferensial, tidak menjadi persoalan apakah unsur tertentu genetik atau dipelajari. Ketidakkonsistenan perilaku akan menjurus kepada kepunahan sama halnya seperti disproporsi morfologi atau defisiensi pada suatu organ vital. Perilaku juga cenderung mengalami seleksi seperti halnya seleksi terhadap ukuran tubuh atau resistansi terhadap penyakit. Meskipun perilaku tidak diwariskan_secara genetik kepada generasi selanjutnya, orang tua yang n-fenunjukkan unsur-unsur perilaku adaptif lebih cenderung “mereproduksi” unsurunsur itu kepada anak-anak mereka, yang mempelajarinya melalui peniruan maupun ajaran orang tua. Orang tua dan anak-anak juga mungkin meniru perilaku adaptif orang-orang di luar keluarga. Dengan demikian, meskipun evolusi biologi dan evolusi kebudayaan tidak sama, cukup beralasan untuk berasumsi bahwa seleksi alani secara umum bisa bekerja pada gen maupun perilaku budaya. Inilah, antara lain yang penulis maksud sebagai analogi evolusi.

Analoginya sebagai berikut: sebagian dari ciri biologi yang paling penting dari manusia adalah berjalan dengan dua kaki dan memiliki otak yang relatif besar. Bipedal dan otak besar disukai oleh alam dalam proses seleksi alam karena nenek moyang manusia membuat alat (ciri budaya). Sebaliknya, ciri budaya dari pendidikan formal dan informal disukai seleksi alam karena manusia mengalami masa ketidakmatangan yang lania (ciri biologi).

Selama spesies manusia terus eksis, tak ada alasan seleksi alam atas

biologi dan kebudayaan akan berhenti. Namun, evolusi terpntung pada aneka ragam perubahan yang kerap kali tidak bisa diprediksi dalarn hal lingkungan fisik dan sosial (jolly, 1989; Ridley, 1991). Dalam antropologi, ada empat alur besar pemikiran evolusionis, yakni unilinear, universal, dan multilinear, ditambah neo-Darwinisme. Tiga alur pertama adalah pendekatan gradualis dengan label unilinear, universal, dan multilinear. Neo-Darwinisme datang dengan cara lain, yakni berasal dari sosiobiologi pada tahun 1970-an dan yang setipe hingga pendekatan-pendekatan yang lebih mutakhir terhadap asal usul kebudayaan simbolik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *