PENGERTIAN ANOREKSIA NERVOSA DAN DEPRESI

35 views

PENGERTIAN ANOREKSIA NERVOSA DAN DEPRESI – Keterkaitan yang kuat antara anoreksia nervosa dan depresi telah memancing beberapa peneliti mempertimbangkan kemungkinan bahwa anoreksia menyebabkan depresi (a.1., melalui perubahan biokimiawi yang disebabkan oleh kelaparan atau rasa bersalah dan rasa malu yang menyertainya). Meskipun demikian, anoreksia nervosa tidak selalu memicu depresi (Pope & Hudson, 1988). Contohnya, suatu studi longitudinal menemukan bahwa hanya satu dari 51 remaja penderita anoreksia yang mengalami depresi sebagai onset anoreksia. Yang paling umum adalah depresi terjadi bersamaan atau setelah terjadinya anoreksia.

Kedua gangguan tersebut juga dapat memiliki diathesis yang sama atau penyebab lingkungan yang sama, seperti lingkungan keluarga yang terganggu atau stres lain dalam hidup. Memperkuat kemungkinan adanya suatu diathesis genetik, berbagai studi menunjukkan bahwa kerabat para pasien yang menderita anoreksia berisiko tinggi menderita depresi dan tanggung jawab genetik dalam anoreksia dan depresi berhubungan secara signifikan (a.1., Hudson dkk., 1987; Wade dkk., 2000). Di sisi psikologis, penelitian juga menemukan bahwa perempuan yang menderita anoreksia dan mengalami depresi memiliki gaya atribusional depresif. Ketika mereka mengalami peristiwa yang penuh stres dalam hidup, mereka cenderung mengartikannya dengan cara yang menimbulkan kondisi emosional negatif Perubahan Fisik dalam Anoreksia Nervosa Melaparkan diri sendiri dan penggunaan obat pencahar menimbulkan berbagai konsekuensi biologis yang tidak dikehendaki pada para pasien anoreksia nervosa. Tekanan darah sering kali turun, denyut jantung melambat, ginjal dan sistem pencernaan menjadi bermasalah, massa tulang berkurang, kulit mengering, kuku jari menjadi mudah patah, kadar hormon berubah, dan dapat terjadi anemia ringan. Beberapa pasien mengalami kerontokan rambut, dan dapat memiliki lanugo, yaitu bulu-bulu lembut dan halus di tubuh mereka. Seperti dalam kasus Lynne, kadar elektrolit, seperti potasium dan sodium, mengalami perubahan. Garam terionisasi tersebut, yang terdapat dalam berbagai cairan tubuh, penting bagi proses transmisi neural, dan kadar yang rendah dapat mengakibatkan kelelahan, lemah, aritmias kardiak, dan bahkan kematian mendadak. Abnormalitas EEG dan hendaya neurologis sering terjadi pada para pasien anoreksia (Garner, 1997; Lambe dkk., 1997). Perubahan struktur otak, seperti rongga yang meluas atau pelebaran sulcal, juga dapat terjadi, namun dapat diperbaiki.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *