Emansipasi sosial dan politik.

Pengertian anti-semitism (anti-semitisme) adalah Pada awal­nya istilah ini dipopulerkan oleh gerakan di Jerman pada 1870-an dan 1880- an yang mengampanyekan penentangan emansipasi sosial dan politik kaum Yahudi. Istilah itu sendiri, dalam pengertian yang ketat, tidak akurat, sebab penentangan itu bukan terhadap kelompok “Semit”, teta­pi hanya pada Yahudi. Sejarahnya sudah ada sejak era pra-Kristen ketika monote­isme eksklusivitas Yahudi menimbulkan kecurigaan dan ketidakpercayaan. Deng­an datangnya Kristen, Yahudi menjadi “problem” karena eksistensi Yahudi yang terus ada melemahkan konsep “perjan­jian baru” Kristen dan tampaknya tidak membuktikan hahwa Yahudi adalah kaum yang dikutuk Tuhan. Di sepanjang sejarah Eropa, setelah Kristen menyebar, kaum Yahudi inengalaini segregasi, dipaksa memilih pindah agama atau diusir. Seiring berjalannya waktu aktivitas mereka makin dibatasi hanya dalam aktivitas perdaga­ngan dan peminjaman uang, yang makin memperkuat citra mereka sebagai lintah darat dan penentang Tuhan dan ajaran. Kristen lainnya. Setelah kekuatan “negara Kristen” melemah, permusuhan ekonomi terhadap Yahudi makin diperhatikan dan, dengan munculnya filsafat idealis Jerman, dikaitkan dengan “esensi” ( Wesen) Yuda­isme, esensi yang dianggap bertentangan dengan kepentingan negara-negara Eropa. Melalui konsep “esensi” ini, segera mun­cul gagasan tentang Yahudi sebagai “ras.” Christian Wilhelm Dohm membuka debat (pada 1781) tentang emansipasi Yahudi dengan mengatakan bahwa sifat “buruk” mereka adalah lahir dari ketertindasan, tetapi rekan-rekan pemikir sezamannya justru berpendapat sebaliknya, yakni sifat Yahudi itulah yang “menyebabkan” mere­ka ditindas. Dohm atau filsuf lainnya tidak menyetujui penindasan atas kaum Yahudi, namun konseptualisasi mereka menjadi dasar bagi debat tentang, dan melawan, Yahudi, yang difokuskan pada alasan di balik permusuhan atas mereka. Maka per­debatan ini mulai memasuki isu rasional. Hal ini menimbulkan identifikasi bentuk­bentuk anti-Semitisme yang berbeda—se­perti sosial, ekonomi, religius, dan rasial. Tetapi, semua itu disatukan dalam prinsip dasar anti-Semitisme yang mengemukakan “teori” kesalahan kolektif bangsa Yahudi dan baliwa Yahudi sedang berusaha mena­klukan dunia.

Meminimalkan tingkat kejahatan. Pengertian anti-semitism (anti-semitisme)

Ekspresi permusuhan terus-menerus terhadap Yahudi selama dekade awal abad ke-20 ini telah menyebabkan penerimaan atas doktrin rasial NATIONAL SOCIALISM di Jerman dan berpuncak pada pembantaian sistematis atas 6 juta warga Yahudi selama Perang Dunia II. Setelah Holocaust” mun­cul “penyiksaan Yahudi” yang lebih ringan tetapi kemudian muncul debat panjang dari mereka yang ingin meminimalkan tingkat kejahatan atau mereka yang menyangkal bahwa holocaust itu pernah terjadi. Tetapi, isu paling kuat di era pascaperang ada­lah munculnya negara Israel dan juga ke­munculan lobi “anti-Zionis”, yang me­nekankan pada perbedaan tegas antara anti-Semitisme dengan anti-Zionisme. Meskipun demikian, perpecahan dalam kubu anti-Zionis, seperti dalam kubu anti­Semitisme, adalah antara mereka yang menentang Yahudi dan negara Israel per se, dan mereka yang keberatan terhadap tindakan dan kebijakan tertentu dari orang Yahudi dan politisi Israel. Literatur anti-Semitisme sangat banyak dan terus bertambah, dengan kajian utama pada holocaust dan negara Israel. Titik awal yang berguna adalah bibliografi dalam Encylopedia Judaica (1971, col. 160). Untuk survei historis lihat Leon Poliakov (1965-85). Sejarah konseptual diberikan oleh Jacob Katz (1980) dan analisis politik oleh Paul W. Massing (1967).

Filed under : Bikers Pintar,