PENGERTIAN ANTROPOLOGI DI EROPA PADA ABAD KE-18 ADALAH – Ahli filsafat Perancis termasyhur Jean Jacques Rousseau, dalam tulisan Of the Social Contract (1973 [1762]: 183), menyatakan bahwa: “Kalau kita mengikuti pandangan [Grotius] bahwa kekuasaan itu dibangun bagi yang dikuasai, maka niscaya spesies manusia terbagi-bagi menjadi begitu banyak kelompok seperti kelompok penggembalaan ternak, yang setiap kelompok dengan penggembalanya sendiri, yang menjaga ternaknya demi kepentingan mereka sendiri” (1973[1762]: 183). Bagi Rousseau, pemerintah dan kontrak sosial adalah berbeda. Pemerintah berasal dari keinginan pihak yang kaya untuk melindungi kekayaan yang mereka peroleh. Sebaliknya, kontrak sosial didasarkan pada gagasan demokratis. Kontrak sosial mencerminkan idealisasi masyarakat di mana orang sepakat untuk membentuk dan mempertahankan suatu cara hidup bersama yang berguna bagi semua orang.

Teori kontrak sosial berasumsi tentang pembagian logis antara “keadaan alami” (state of nature) dan “keadaan masyarakat” (state of society), dan orang-orang yang mendukung pandangan ini hampir selalu menganggap kontrak sosial ini sebagai asal ‘mula sejumlah orang, yang hidup dalam suatu keadaan alami, dan hidup bersama dan sepakat untuk membangun suatu masyarakat. Konsep ini akhirnya hanya hipotesis yang sukar dibuktikan karena tidak ada orang yang dapat mengetahui bahwa manusia tahap awal benar-benar menggunakan kontrak sosial.

Kebanyakan antropolog masa kini menerima pandangan bahwa kita tidak dapat memisahkan “alam” (dalam pengertian etimologi, yang terkait dengan kelahiran) dari `budaya’ (yang berkaitan dengan bercocok tanam), karena keduanya saling melekat dalam gagasan yang sangat mendasar dari kemanusiaan.

Antropologi di Eropa pada abad ke-18 ditandai oleh tiga per.tanyan penting yang diajukan untuk pertama kali dalam bentuk modern selama masa Pencerahan Eropa. Pertanyaan itu adalah siapa yang mendefinisikan spesies manusia dalam bentuk abstrak, apa yang membedakan manusia dari binatang, dan apa kondisi alamiah dari manusia itu. Tiga bentuk kehidupan menyita perhatian berkenaan dengan pertanyaanpertanyaan tadi adalah “Anak-anak Makhluk Liar”, “Orang Utan”, dan “Manusia Biadab”, yakni penghuni benua lain (lihat catatan Barnard 2000: 53). Anak makhluk liar ditemukan sendirian dalam hutan oleh orang-orang kulit putih, kemudian mengajarinya cara-cara “beradab”, dan membawanya ke Eropa. Minat antropologi mempelajari anak makhluk liar menurun (lihat catatan Levi-Strauss 1969, Elementary Structure of Kinship). Hal ini karena antropologi modern kurang tertarik pada abstraksi, primal -human nature”, anak tersebut, dan tampaknya lebih suka memerhatikan hubungan-hubungan antara manusia sebagai anggota-anggota masyarakat mereka yang relevan.

Makhluk orang utan merupakan ihwal yang lebih.rumit. Pada masa pencerahan Eropa, kata-kata “orang utan” dari Malaya sama artinya dengan “kera besar” sebagaimana dipahami kini, sementara “kera besar” lape) sebenarnya merujuk kepada baboon). Orang utan adalah istilah generik untuk suatu makhluk yang dianggap hampir mencapai tahap menjadi manusia. Alan Barnard (2000), misalnya, menggunakan huruf besar pada awal nama makhluk ini untuk merepresentasikan konsep abad ke-18 tersebut. Para pejiarah pada masa itu melaporkan makhluk hampir manusia ini sebagai makhluk yang hidup dalam gua-gua di Ethiopia dan Hindia Timur.

Tentu saja, baik peziarah maupun ilmuwan tidak bisa membedakan secara akurat antara orang utan yang sesungguhnya (spesies yang kini disebut Pongo pygmaeus) dan chimpanse (Pan troglodytes dan Pan paniscus). Gorila (spesies Gorilla gorilla) belum diketahui pada masa itu. Konsep Orang Utan menjadi penting karena dari sinilah konsep Manusia Biadab muncul. Analogi konsep Orang Utan dan Manusia Biadab menonjol dalam tulisan dan diskusi-diskusi di kalangan ahli Eropa pada masa itu. Fakta perbedaan antara kebudayaan-kebudayaan begitu besar di seluruh dunia cukup beralasan untuk menganggap mereka sebagai spesies-spesies yang berbeda. Secara biologi dan kebudayaan, orang Effipa lebih tinggi daripada manusia lain di luar Eropa, dan mereka tidak akan mampu mencapai tingkat kebudayaan orang Eropa.

Antropologi pada abad ke-19, terlebih abad ke-20, berkembang dalam arah yang lebih sistematik dan menggunakan peralatan metodologi

Persoalan paradigma menjadi semakin penting. Paradigma pertama, sebagaimana sudah penulis singgung di atas, adalah evolusionisme yang dapat dikatakan induk dari semua paradigma antropologi yang lahir dan berkembang kemudian. 

Filed under : Bikers Pintar,