PENGERTIAN ANTROPOLOGI EKOLOGI ADALAH – Lapangan kajian ini terkait dengan hubungan antara manusia dan ling-kungan fisik mereka. Lingkungan mengandung, tak hanya fisik tumbuh-tumbuhan dan hewan yang diperlukan manusia untuk subsistensi, melainkan juga sungai, air danau, dan iklim, selain teknologi dan instrumen materi yang diciptakan manusia untuk menggunakan materi yang ada dalam lingkungan alam tersebut. Di dasar setiap kebudayaan adalah peralatan, mesin, teknik-teknik, dan praktik-praktik yang menghubungkan eksistensi manusia dengan kondisi-kondisi materi dari habitat tertentu. Dengan teknologinya, setiap kebudayaan berinteraksi dengan lingkungan fisiknya untuk rnendapatkan makanan, bahan bakar, dan bentuk-bentuk energi yang bisa digunakan. Teknologi dan kebudayaan memberikan komunitas perlindungan terhadap binatang buas, penyakit, perubahan iklim yang ekstrem, dan populasi tetangga, yang kesemuanya dianggap sebagai bagian dari lingkungan oleh para ekolog. Antropologi ekologi memerhatikan regulasi populasi sehubungan dengan ruang geografi, penggunaan sumber daya alamiah, dan pembuangan produk sampah manusia maupun industri. Faktor-faktor demografi seperti kom-posisi berdasarkan usia dan jenis kelamin juga dipelajari oleh ekolog, karena faktor-faktor ini memengaruhi hubungan antara suatu sistem budaya dan lingkungannya dengan memengaruhi tingkat pertumbuhan populasi. Tahap pertama didominasi oleh pemikiran julian Steward dan Leslie White. Baik White maupun Steward berupaya membangun korelasi kesamaan dan perbedaan yang dapat dijclaskan atas dasar kondisi lingkungan yang sama. Determinisme geografi dihindari dengan men definisikan lingkungan dalam pengertian luas untuk mencakup ciri-ciri sosial dan teknologi. Penekanan adalah pada keterpisahan geografi dan sejarah untuk menghindari pengaruh difusi. Baik White maupun Steward memandang lingkungan sebagai sesuatu yang terhadap lingkungan itu kebudayaan beradaptasi melalui penggunaan alat, teknologi, dan pengetahuan—dalam satu kata, kebudayaan.

Yang tampaknya sama dengan redistribusi unta di kalangan orang Bedouin Arabia Utara adalah upaya pengurangan babi dan berkurban penyembelihan babi) di kalangan orang Tsembaga, Papua Niugini. Mengambil pendekatan ekosistem yang luas, Rappaport (1967) menemukin bahwa upacara berkurban babi berlaku sebagai sistem umpan balik iiang mengatur hubungan antara manusia dan manusia, manusia dan babi, dan manusia dengan tanaman dan hasil hutan. Ritual pengaturan sendiri (self-regulation) ini disebut kaiko. Upacara ini dilaksanakan apabila populasi babi bertumbuh hingga proporsi tertentu sehingga makanan mereka mencapai batas penggunaan ekonomi. Tidak lagi me-inungkinkan untuk menoleransi jumlah babi, apalagi perlu kerja tambahan untuk membuat pagar agar babi agar tidak masuk kebun, barus memberikan makanan manusia kepada babi, atau mentoleransi ionflik-konflik antarpribadi bila babi melanggar batas wilayah kebun tetangga. 

Filed under : Bikers Pintar,