PENGERTIAN ANTROPOLOGI SEBAGAI ILMU PENGETAHUAN SOSIAL ADALAH -Pengetahuan antropologi tidak hanya berbeda dari pengetahuan folk melainkan juga dari psikologi, sosiologi, teologi, dan sumber-sumber pengetahuan lain yang kurang lebih sistematik, mengenai kondisi manusia. Bagian ini membicarakan ciri-ciri khas perspektif antropologi yang membedakannya dari disiplin-disiplin ilmu pengetahuan yang lain itu.

Yang hai us kita catat terlcbih dahulu adalah bahwa antropologi adalah suatu perspektif ilmiah. Kualifikasi tersebut diperlukan karena sukar mencapai kesepakatan di kalangan antropolog apakah antropologi itu ilmu pengetahuan (scicnce) atau bukan. Selain itu, juga terdapat ketidaksepakatan apakah antropologi itu adalah, atau seharusnya adalah ilmu sosial yang “dipermudah dan dipersempit”. Sebagian antropolog masa kini yakin bahwa perspektif antropologi diperoleh dari sifat komprehensif pendekatannya. Mereka beranggapan bahwa antropologi mencakup ciri-ciri ilmu fisika, ilmu-ilmu sosial, dan humanitas sekaligus. Menurut argumen tersebut, perbedaan antropologi dari disiplin-disiplin lain dalam ilmu sosial terletak pada fakta bahwa antropolog membawa pandangan integratif, penyatuan, untuk membahas kondisi manusia. Jadi, analisis estetika mengenaifolklor dan statistika tipe-tipe darah adalah kegiatan yang relevan bagi antropolog, dan penyebutan sebagai ilmu pengetahuan (science) dipandang terlalu sempit untuk menggarap kedua lapangan kajian tersebut. Kita ambil contoh bahwa analisis kesastraan atau sejenis tidak selalu merupakan kajian ilmiah, yang menjadi isu pokok adalah apakah antropolog yang ingin melaksanakan analisis sastra sepantasnya mengldaim sedang “melaksanakan” kajian antropologi? Atau, apabila antropolog tersebut mengldaim sedang mempraktikkan antropologi, apakah antropologi sepantasnya mengklaim dirinya ilmu pengetahuan (science). Tulisan ini terutama memerhatikan antropologi sosial budaya sebagai ilmu sosial. Saya berpendapat bahwa perhatian sentral antropologi sosial budaya adalah memahami dan menjelaskan kehidupan sosial manusia dan perilaku manusia, dan saya yakin bahwa sasaran tersebut harus dicapai melalui penelitian ilmiah.

Antropologi ilmiah secara tradisional kerap kali diasosiasikan dengan antropologi ekologi atau antropologi materialis, terutama karena antropolog ekologi membuat klaim yang paling konsisten dan eksplisit atas pendekatan ilmiah. Julian Steward (1955:3), misalnya, mengldaim konsepnya mengenai evolusi multilinear sebagai pendekatan yang eksplisit ilmiah, yang mendefinisikan “pendekatan ilmiah” sebagai upaya “menata fenomena dalam kategori-kategori yang teratur, untuk mengenal hubungan-hubungan yang konsisten .di antara kategori-kategori tersebut, untuk menegakkan hukum keteraturan, dan meriThangun formulasi-formulasi yang memiliki nilai prediktif. Namun, ia juga membangun kontras-kontras “pendekatan ilmiah, umum” dengan pendekatan historis, khusus” dan menimbulkan kebingungan ketika mengatakan bahwa ilmu pengetahuan tidak berurusan dengan penjelasan historis, kejadian-kejadian dan entitas-entitas yang tidak berulang. Dalam Theory of Cttlture Change, Steward berpendapat bahwa suatu pendekatan ilmiah bagi kajian antropologi perlu mengembangkan antropologi ekologi. Kekacauan mengenai ilmu pengetahuan dan sejarah tidak kita temukan dalam versi pendapat Harris (1979: 26) mengenai perspektif ilmiah; ia mengemukakan bahwa “sasaran strategi penelitian ilmiah adalah mendeskripsikan dan menganalisis entitas dan kejadian yang dapat diamati dan hubungan-hubungannya dengan menggunakan teori-teori yang kuat, dan yang berkaitan, yang rentan terhadap koreksi dan perbaikan melalui pengujian empiris.” Tetapi, Harris juga tampaknya menyetarakan perspektif ilmiah dalam antropologi dengan paradigma tertentu yang ditujukan bagi serangkaian pertanyaan khusus, ketimbang dengan metode penelitian tertentu. Buku Cultural Materialism dari Marvin Harris yang bersubjudul The Struggle for a Science of Culture, da.n. perspektif teorinya adalah “keturunan” langsung dari Steward (Harris, 1968). Dalam pendekatan Harris, istilah ilmiah tidak semata-mata ditujukan secara ekslusif bagi antropologi ekologi.

Dengan menyebut antropologi suatu ilmu pengetahuan tidaklah berarti bahwa disiplin ini bebas-budaya atau praktisinya kebal terhadap pengaruh-pengaruh kebudayaan. Antropologi secara khusus dan ilmu pengetahuan secara umum adalah produk tradisi kebudayaan tertentu, dan perkembangan keduanya harus dipahami dalam konteks itu. Akan tetapi, memandang semua ilmu pengetahuan adalah etnosains, sebagaimana sebagian antropolog berpendapat, adalah ketidaktepatan dalam memahami ilmupengetahuan. Asal usul perspektif ilmiah tidak harus selalu ada kaitannya dengan validitas pendekatan ilmiah, dan meyakini bahwa validitas pendekatan ilmiah terkait selalu dengan asal usul perspektif ilmiah adalah membenarkan ketidaktepatan itu. Apakah suatu pendekatan ilmiah bernilai atau tidak adalah persoalan epistemologi, bukan persoalan kebudayaan atau sejarah. Atas dasar itulah penulis menampilkan bersama paradigma-paradigma yang secara historis mungkin harus ditempatkan berurutan. Penulis berpendapat bahwa urutan tersebut membuka peluang untuk menilai apakah suatu paradigma sudah tidak relevan atau semakin relevan untuk masa kini, suatu hal yang tidak penulis maksudkan dalam tulisan ini. Menampilkan paradigmaparadigma bersama justru membuka interaksi yang menggam-bal:kan suatu totalitas konstelasi orientasi pemikiran teoretis dalam antropologi, yang hingga kini tetap relevan pada batas-batas tertentu.

Filed under : Bikers Pintar,