PENGERTIAN ANTROPOLOGI TERAPAN

96 views

Dalam antropologi budaya sebagai ilmu murni yang hendak dikejar adalah bagaimana dapat memahami gejala-gejala budaya, bagaimana menemukan penjelasan mengenai variasi-variasi yang ada dalam pola budaya manusia di berbagai pelosok dunia. Untuk itu telah berkembang sejumlah teori dan dalam penelitian lapangan berbagai teori diuji. Kemudian sebagian dari para ahli antropologi juga yakin bahwa akhir-akhirnya dapat juga dirumuskan beberapa keteraturan, yang menyerupai hukum-hukum, yang menguasai kebudayaan. Di samping menjadi ilmu murni, hasil-hasil dari ilmu ini juga hendak diterapkan, yaitu untuk digunakan dalam pemecahan masalah-masalah yang dihadapi oleh manusia. Pada waktu imperialisme sedang jayanya antropologi budaya telah juga digunakan oleh para pemerintahan jajahan yaitu untuk mempertinggi keuntungan yang dapat dikeruknya dari negeri jajahannya. Sehubungan dengan itu maka ada prasangka yang buruk terhadap masalah penerapan antropologi budaya. Namun akhir-akhir ini kesungguh-sungguhan untuk mencoba memanfaatkan pengetahuan ahli antropologi untuk memperlancar jalannya program-program yang direncanakan untuk mencapai perubahan kebudayaan semakin besar.

Semua kebudayaan senantiasa* mengalami perubahan. Sebagian dari perubahan-perubahan ini terjadi dengan cepat dan yang lain agak lamban. Perubahan kebudayaan dapat terjadi secara tidak sengaja seperti dalam hal suatu kelompok orang tertimpa bencana alam, misalnya meletusnya gunung berapi atau banjir, sehingga mereka terpaksa pindah dan dengan cara demikian mengubah banyak dari kebiasaan hidup mereka. Akan tetapi perubahan yaitu dijadikan pegangan di samping kode etika pribadi seorang ahli antropologi, sehingga seorang sarjana berhati-hati dalam pelaksanaan pekerjaannya. Ini sangat penting, karena “jelaslah sudah bahwa antropologi terapan dapat mengakibatkan hal-hal yang tak diinginkan kalau usaha-usaha penelitiannya membahayakan orang-orang yang ditelitinya untuk siapa dia bekerja.  Kode ini memerinci kewajiban-kewajiban ahli antropologi terapan terhadap pelbagai orang yang terlibat dalam pekerjaannya. Khususnya ditekankan bahwa ia senantiasa harus merahasiakan nama para informannya. Di dalam masyarakat- masyarakat tertentu pengungkapan nama seseorang, khususnya dalam suatu karangan, dapat sangat merugikan orang bersangkutan. Kode tersebut selanjutnya menentukan bahwa ahli antropologi terapan harus setuju untuk melaksana penyelidikan-penyelidikannya secara ilmiah, serta memberitahukan hal-hal penelitiannya kepada teman-teman sejawatnya. Di samping itu, ia harus berjanji untuk menjunjung tinggi martabat serta kesejahteraan umum anggota-anggota kelompok masyarakat yang ditelitinya, sedangkan keselamatan mereka tak boleh diremehkannya. Akhirnya, ia “harus memikul tanggung jawab atas akibat-akibat yang ditimbulkan oleh tindakan-tindakannya dan tidak boleh memakai dalih bahwa ia hanya seorang tenaga teknis yang tidak terlibat dengan tujuan yang hendak dicapai dengan penggunaan keterampilan antropologi terapannya”.  Jadi, seorang ahli langsung dianggap bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dilakukannya dan dianggap secara tidak langsung bertanggung jawab mengenai bagaimana majikannya menggunakan hasil penelitiannya.

Pertimbangan etika utama adalah apakah suatu proyek perubahan yang direncanakan sungguh-sungguh akan bermanfaat bagi penduduk sasaran. Ini merupakan persoalan yang kadang-kadang diabaikan oleh badan-badan pemerintahan, tetapi, hal itu menjadi pertimbangan penting bagi para ahli antropologi yang memang terikat pada prinsip relativitas kebudayaan yang berarti bahwa kebudayaan-kebudayaan orang lain harus dihormati. Sering kali badan-badan pemerintahan hanya mempekerjakan para ahli antropologi supaya mereka itu dapat membantunya mempopulerkan perubahan-perubahan yang direncanakannya di antara penduduk yang menjadi sasaran. Lagipula, seorang ahli antropologi dalam bekerja pada badan pemerintahan, atau dalam penulisan laporan terakhir dari hasil pekerjaannya, dapat mengalami hambatan-hambatan oleh kepekaan-kepekaan politik. Jelas misalnya, bahwa suatu badan pemerintah tidak akan merasa senang jika sarjana yang mereka biayai melakukan penelitian yang menghasilkan laporan berupa kecaman terhadap badan sponsor itu sendiri.

Sebaliknya, ada pula ahli-ahli antropologi yang percaya bahwa antropologi yang diterapkan dibenarkan, atau malah diperlukan karena kesukaran- kesukaran yang dihadapi di dunia modern. Mereka akan mengemukakan alasan bahwa, sekalipun belum memiliki pengetahuan yang cukup, pengetahuan para ahli antropologi mengenai variasi-variasi budaya serta perubahan kebudayaan masih lebih luas daripada pengetahuan orang yang tidak terlatih dalam antropologi, dan persoalan-persoalan dalam dunia modern memerlukan sebanyak mungkin pengetahuan keahlian. Jelaslah bahwa, sekalipun seorang ahli antropologi terapan menolak untuk terjun dalam proyek tertentu, badan atau «perusahaan yang melancarkan proyek tersebut, tentu tetap akan melancarkan proyek tersebut dengan menggunakan seorang ahli lain yang jauh kurang keahliannya. Masih ada alasan lain yang dikemukakan oleh penganjur-penganjur antropologi terapan, yaitu bahwa tidak etis untuk menolak ikut serta atau mengecam program-program perubahan kebudayaan berencana, karena program itu nyata-nyata ada dan merupakan bagian dari keadaan manusia yang dipelajari oleh para ahli antropologi. Khususnya dalam bidang-bidang seperti pencegahan penyakit secara etis sulit untuk membenarkan penolakan penyuntikan anti penyakit cacar untuk penyakit menular lainnya kepada masyarakat-masyarakat yang mudah dihinggapi penyakit-penyakit demikian, dan kekurangan fasilitas pengobatan.

Incoming search terms:

  • antropologi terapan
  • pengertian antropologi terapan
  • Definisi antropologi terapan
  • antropologi sebagai ilmu murni dan terapan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *