Advertisement

ADAT SUNGKAN adalah adat sopan santun yang memberi aturan dan batasan terhadap pergaulan antara anggota kerabat tertentu. Pembatasan pergaulan ini ditandai dengan sikap saling menghormati, atau saling menghindari kontak fisik atau pembicaraan langsung. Ada pendapat yang mengatakan bahwa adat sungkan dan adat tak sungkan terwujud untuk menyalurkan ketegangan psikologis yang timbul antara kerabat dalam pergaulan yang intensif. Adat sungkan adalah juga untuk menjaga pergaulan antara pria dan wanita yang menurut adat tidak boleh menikah atau mengadakan hubungan badan.

Adat sungkan ini diamalkan antara kerabat di berbagai suku bangsa di Indonesia. Misalnya, antara orang tua dan anaknya, antara mertua dan menantunya, antara seseorang dan isteri adik laki-lakinya, dan lain-lain. Suku bangsa Batak Toba mengamalkan adat sungkan antara ayah dan anak, antara lain berupa larangan bagi anak duduk satu papan dengan ayahnya ketika mereka duduk dalam ruang rumahnya. Pada masyarakat ini juga, seorang laki-laki tidak boleh berbicara langsung dengan menantu perempuannya. Kalau pembicaraan terpaksa dilakukan, haruslah ada pihak ketiga sebagai perantara. Apabila pihak ketiga kebetulan tidak ada, sang mertua tidak boleh menatap langsung menantu perempuannya; ia harus menghadapkan mukanya ke arah lain, misalnya menatap dinding. Model hubungan antara anak dan ayahnya, serta antara mertua dan menantu seperti yang berlaku pada masyarakat Batak tadi tampak juga pada masyarakat Gayo di daerah Aceh bagian tengah. Pada masyarakat Gayo, seorang anak yang sudah tergolong dewasa tidak boleh menatap wajah ayahnya yang sedang berbicara dengan dia. Hubungan antara mertua laki-laki dan menantu perempuan, bahkan juga menantu laki-laki, harus melalui pihak ketiga, meskipun pihak ketiga itu seorang anak kecil. Adat hubungan antar seorang wanita dan mertua laki-laki yang berlaku pada masyarakat Batak berlaku pula pada hubungannya dengan saudara laki-laki suaminya yang lebih tua.

Advertisement

Pada masyarakat Jawa, anak wajib menghormati orang tua. Anak tidak pernah membicarakan cinta dengan orang tuanya. Penghormatan itu antara lain terwujud dalam penggunaan bahasa. Seorang anak harus menggunakan gaya bahasa krami atau kromo inggil bila berbicara dengan ayahnya: Selain ayah dan ibu kandung, saudara-saudara kandung ayah-ibu juga harus dihormati oleh para anak. Anak-anak ini harus pula menggunakan gaya bahasa krami bila berbicara dengan saudara kandung orang tuanya itu. Hal yang sama dilakukan pula terhadap kakek dan neneknya; malahan di lingkungan keluarga priyayi tradisional, orang harus menyembah dahulu sebelum mulai berbicara dengan kakek dan neneknya.

Incoming search terms:

  • definisi sungkan
  • definisi/menantu/perempuan
  • Sikap Sungkan

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • definisi sungkan
  • definisi/menantu/perempuan
  • Sikap Sungkan