Advertisement

ADI BUDHA adalah Istilah yang berasal dari mazhab Aisvarika (Mahayana) di Nepal, yang masuk ke Indonesia (Jawa khususnya) lewat Benggala. Di Indonesia, sebutan lengkapnya i adalah Sanghyang Adi Budha, pujiannya adalah i Namo Sanghyang Adi Budhaya.

Ia adalah Budha dari segala Budha (Uru-Budha), Budha yang pertama dan tiada bandingannya (Paramadi Budha). Ia merupakan Pelindung dunia yang ada dengan sendirinya (Svayambhulokanatha), mutlak dan abadi, tidak diciptakan. Banyak islilah untuk mengungkapkan Adi Budha, namun sebenarnya la berada di luar jangkauan segala pengetahuan, akal dan pikiran manusia maupun dewa.

Advertisement

Tulisan paling awal tentang Adi Budha ditemukan dalam kitab Namasangiti dari abad ke-7. Ia juga terdapat dalam kitab Guna Karanda Vyuha, Svayambu Purana, Sutra Maha Vairocanabhisambodhi, Sutra Tattvasangraha, dsb. Di Indonesia, terdapat kitab Namasangiti versi Candrakirti dari jaman Sriwijaya, dan kitab Sanghyang Kamahayanikan dari jaman Mpu Sindok (abad ke-10) yang menyebutnya.

Baik Mahayana maupun Theravada memiliki konsep ketuhanan (Godhead) tersebut di atas. Namun, mazhab Theravada (Hinayana) tidak menyebutnya sebagai Adi Budha. Dalam mazhab Mahayana, paham Adi Budha berkembang lebih jauh. Dikatakan, bahwa Ia timbul dari kekosongan (sunyata) dan dapat timbul dalam berbagai nama dan bentuk. Dengan kekuatan gaibnya, Ia menciptakan lima Dhyani-Budha (Budha yang sedang bermeditasi di alam luhur): Vairocana, Aksobhya, Ratnasambhavu, Amitabha dan Arnogha- siddhi. Setibanya di dunia, kelimanya beralih diri menjadi Dhyani-Boddhisattva (calon Budha): Samantabhadra, Vajrapani, Visvapani, Avalokita dan Ratnapani. Dunia sekarang ini merupakan yang keempat setelah musnah tiga kali, dan berada di bawah naungan Avalokita (A valokitesvara), dengan Dhyani- Budha Amitabha dan Manusia-Budha Sakyamuni atau Budha Gautama.

Berbagai negara memuja Adi Budha yang berlainan. Misalnya, di Tibet, Samantabhadra; di Jepang, Vairocana; sedangkan di Jawa dan Sumatera, sinkretisme Siwa-Budha yang dianut Kertanagara dan Adityawarman menjunjung Aksobhya yang diberi gelar Vajradhara atau pemangku kekuatan gaib yang tak dapat musnah. Akan tetapi dalam sastra Kunjara Kama yang dipuja adalah Vairocana. Meskipun beraneka ragam, semuanya adalah tunggal. Sebab, semuanya merupakan pengejawantahan Sanghyang Adi Budha, Tuhan Yang Maha Esa.

Advertisement