Advertisement

ADU SATWA pernah menjadi kebiasaan sebagian masyarakat di Indonesia. Kebiasaan itu meliputi adu binatang yang kecil-kecil seperti jangkrik, semut, lebih besar seperti domba, kerbau dan sapi. Sebagian masyakarat menyelenggarakannya sebagai hiburan, sebagian lagi sebagai sarana perjudian. Ada pula yang mengaitkannya dengan upacara adat setempat.

Di antara adu satwa yang bermacam-macam itu, yang pernah paling merata dilakukan hampir di seluruh Indonesia adalah adu ayam. Hampir di mana saja pertunjukan adu ayam berkaitan dengan perjudian atau taruhan. Itulah sebabnya, di Indonesia kini penyelenggaraan adu ayam termasuk larangan.

Advertisement

Adu jangkrik, semut, cupang tergolong adu satwa yang sering dikerjakan oleh anak-anak, terutama di pedesaan. Dua ekor jangkrik yang akan diadu ditempatkan saling berhadapan di sebuah tempat aduan khusus dari potongan batang bambu yang dilubangi. Kedua binatang itu “dikilik” dengan kilikan dari kembang rumput yang bertangkai panjang. Karena kilikan itulah maka jangkrik mengerik, lalu maju dan saling menyerang. Jangkrik yang kalah akan mundur dan terdesak di ujung dinding bambu.

Adu semut dilakukan lebih kejam lagi. Sebelum diadu sungut semut itu dipotong, lalu keduanya diletakkan saling berhadapan. Semut-semut itu akan berjalan maju dan bergulat saling menerkam. Biasanya salah satu akan mati. Bahkan yang menang pun mati pula tak lama kemudian.

Cupang adalah ikan yang memiliki alat pematil panjang dan siripnya merata hampir di sepanjang badan. Adu ikan cupang dilaksanakan pada sebuah bejana kecil. Dua ekor cupang jantan yang diadu akan segera saling menyerang dengan menggigit dan me- matil. Cupang yang kalah akan berenang menjauhkan diri dari yang menang dengan sirip yang sobek- sobek. Kalau luka-luka pada sirip dan tubuhnya tidak terlampau parah, beberapa hari kemudian ikan itu akan sembuh. Tetapi jika lukanya parah, kematian tidak terhindarkan.

Adu puyuh adalah suatu atraksi yang khusus di selenggarakan di lingkungan kraton, baik di Surakarta maupun Yogyakarta. Baik penyelenggara, pemilik puyuh yang diadu maupun para penontonnya terbatas pada lingkungan kerabat kraton saja. Bahkan dahulu adu burung puyuh ini hanya boleh diselenggarakan oleh kerabat keraton. Dua ekor burung puyuh ditempatkan pada sebuah sangkar aduan yang dibuat khusus, terbuat dari bambu, rotan dan kayu berukir. Burung itu akan saling menyerang dengan mematuk, mencakar dan mengepak sayapnya. Begitu seru aduan itu sampai keduanya seringkali jatuh berguling-guling. Puyuh yang kalah tidak lagi menyerang, tetapi hanya berguling-guling melindungi dirinya.

Adu domba merupakan tradisi yang sering dilakukan oleh masyarakat di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Tontonan itu selalu diadakan di lapangan terbuka agar dapat ditonton oleh ratusan orang. Domba yang akan diadu harus domba jantan, sehat, besar dan kuat. Tentu saja, tanduknya pun harus kokoh. Diiringi sorak-sorai penonton yang mengelilingi arena itu, domba yang diadu melompat-lompat sambil maju saling menanduk. Benturan tanduk di kepalanya begitu keras, sehingga didengar oleh semua penonton. Sementara itu pemilik domba menari-nari bersemangat di sekitar binatang yang dijagoinya guna menarik simpati penonton. Pada masa silam adu domba selalu disertai dengantaruhan uang dalam jumlah yang cukup besar. Tetapi kini hal itu dilarang. Kini orang menyelenggarakan adu domba hanya pada perayaan-perayaan desa, dan kadang- kadang untuk suguhan tontonan bagi para wisatawan saja.

Incoming search terms:

  • arti dikilik
  • apa arty nyangkrik dalam adu ayam
  • Bambu untuk tempat ikan adu
  • binatang yang paling sering di adu adu
  • dikilik
  • semut adu

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • arti dikilik
  • apa arty nyangkrik dalam adu ayam
  • Bambu untuk tempat ikan adu
  • binatang yang paling sering di adu adu
  • dikilik
  • semut adu