Advertisement

Inggris: accident. Latin: accidens, yang berasal dari kata kerja accidere dari ad (pada) dan cadere (jatuh). Secara harfiah aksiden berarti “sesuatu yang jatuh pada yang lain”.

1. Dalam filsafat Aristotelian dan Skolastik, aksiden merupakan bentuk keberadaan yang melekat pada ada yang lain, seperti cara berada kemerahan pada sebuah apel, dikontraskan dengan yang substansial, seperti cara berada apel itu sendiri. Aksiden tidak saja suatu sifat seperti kemerahan, tetapi juga sembilan kategori Aristoteles selain substansi.

Advertisement

2. Dalam arti sangat luas, aksiden berarti segala sesuatu yang di- tambahkan pada substansi. Fungsinya sebagai determinasi lebih lanjut terhadap substansi.

3. Aksiden mendeterminir substansi, entah di dalam dirinya sendiri atau dalam hubungan dengan yang lain. Di sini muncul aksiden-aksiden mutlak. Misalnya kuantitas dan kualitas. Juga terdapat aksiden-aksiden nisbi, yakni ruang dan waktu.

4. Bentuk aksidental berbeda dari bentuk substansial, karena bentuk substansial merupakan atau menentukan hakikat sesuatu. Misalnya, jiwa menjadikan tubuh hidup. Sedangkan bentuk aksidental mengandaikan hakikat sesuatu yang sudah ada. Bentuk aksidental semata-mata menambahkan determinasi lebih lanjut pada substansi. Aksiden tidak pernah bisa berada secara tidak tergantung di dalam dirinya sendiri sebagaimana substansi. Berdasarkan kodratnya aksiden membutuhkan substansi di mana ia melekat.

5. Aksiden juga merupakan eksisten. Akan tetapi aksiden berada sedemikian rupa sehingga sangat berbeda dari cara berada substansi. Kelekatan aksiden pada substansi, walaupun terdapat perbedaan nyata di antara keduanya, hendaknya tidak dipikirkan secara eksternal, sebagaimana, misalnya, dalam kerangka hubungan manusia dengan pakaiannya. Sebaliknya, kelekatan ini hendaknya dipikirkan sebagai suatu kesatuan eksistensial internal. Kesatuan ini serupa dengan kesatuan tubuh dan jiwa. Akan tetapi karena kita selalu megalami hanya kesatuan konkret substansi dengan aksiden-aksidennya, kita tidak akan memahami secara sempurna dan lengkap sifat misterius kelekacan ini.

6. Afirmasi terhadap aksiden-aksiden real yang berbeda dari substansinya mc-rupakan suatu kesimpulan yang harus dicapai oleh pikiran, bila pikiran menyimak atau mempertimbangkan fakta perubahan di dalam hal-hal yang dialami. Karena, banyak dari hal-hal ini, meskipun secara hakiki tetap sama, mengalami perubahan dalam beberapa segi. Pandangan ini menduduki po- sisi tengah antara kedua pendapat berikut. Pertama, pendapat orang-orang, seperti Hume dan kaum empiris lainnya, yang mengakui realitas dari hal-hal yang tampak, yang selalu berubah-ubah dan tidak bersifat substansial. Dan karenanya mereka ini menghilangkan ketahanan hakiki segala sesuatu. Kedua, pendapat Descartes dan Spinoza. Kedua tokoh ini mengangkat aksiden-aksiden itu sendiri (seperti kuantitas dan pemikiran) kepada tingkat eksistensi substansial.

7. Determinasi-determinasi aksidental dari suatu substansi selalu menunjukkan keterbatasannya. Karena, eksistensi aksidental tidak sepadan atau setara dengan kesempurnaan dari yang tidak terbatas. Sebaliknya, determinasi-determinasi aksidental secara mutlak termasuk dalam setiap eksisten yang diciptakan. Karena, kegiatan yang merupakan hasil dari semua eksistensi tidak dapat menentukan eksistensi substansial itu sendiri dari makhluk yang terbatas mana pun.

Incoming search terms:

  • aksiden
  • pengertian aksiden
  • arti aksiden
  • arti kata aksiden
  • definisi aksiden
  • apa itu aksiden
  • subtansi dan aksiden
  • aksiden artinya
  • apa itu aksiden?
  • arti mendeterminir

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • aksiden
  • pengertian aksiden
  • arti aksiden
  • arti kata aksiden
  • definisi aksiden
  • apa itu aksiden
  • subtansi dan aksiden
  • aksiden artinya
  • apa itu aksiden?
  • arti mendeterminir