Advertisement

BLONDELIANISME

Inggris: Blondelianim.

Advertisement

1. Blondelianisme mengacu kepada sintesis filosofis yang di upayakan oleh Maurice Blondel (1861 — 1949) dalam karya utamanya L’Actioti (1893). Blondel menempatkan “filsafat tindakan”-nya dalam kerangka perkembangan historis filsafat moral, yang bermula dengan Spinoza dan yang diteruskan oleh Kant, Schelling dan Hegel. Blondel memahami perkem- bangan sebagai gerakan terus menerus ke arah subyektivitas yang lebih besar. la berpendapat bahwa terdapat hanya satu metode filosofis yang legitim untuk berurusan dengan subyek: seseorang harus meninggalkan upaya untuk menjadikan subyek hanya sebagai isi kesadaran dan puas menangkapnya dalam kegiatan-kegiatannya sebagai subyek. Karena itu, Blondel mengusulkan suatu tandingan terhadap revolusi Kopernikan, untuk mencapai tingkat subyektivitas yang lebih tinggi. Ia mengusulkan, pengandaian bahwa pikiran menentukan tindakan seyogianya diganti dengan pengandaian bahwa tindakanlah yang menentukan pikiran. Pusat perspektif filsafat hendaknya diganti tempatnya yaitu, pikiran analitik diganti dengan tindakan sintetik.

2. Tindakan, tegas Blondel, memiliki struktur apriori sendiri. Darinya seluruh pikiran memperoleh maknanya. Apa yang di- usulkan Blondel merupakan suatu studi icieogenesis: mengasalkan pikiran dari tindakan, yang mengakibatkan adanya pemahaman suatu struktur apriori yang tersirat dalam kehendak. Pada gilirannya pemahaman struktur apriori yang tersirat dalam kehendak ini menjelaskan dan menemukan stniktur-struktur apriori dalam pikiran. Pusat perspektif baru ini menuntut diterimanya prinsip imanensi sebagai metodologi: tak ada sesuatu pun dapat menampilkan dirinya pada manusia sebagai kebenaran atau sebagai nilai, kalau sesuatu itu agaknya tidak menemukan sumbernya dalam manusia sendiri.

3. Masalah sentral yang dirasakan Blondel yang tetap tak terjawab oleh para pendahulunva ialah masalah disjungsi (ketidak- terkaitan) antara refleksi abstrak dan komitmen eksistensial. la berharap dapat mengatasi disjungsi itu dengan menjelaskan bahwa refleksi dan komitmen saling merangkul. Dengan metodologi dialektik yang asli, Blondel berupaya mempertahankan urgensi kebebasan, subyektivitas dan eksistensi dalam konteks filsafat yang mengakui kebenaran-kebenaran dan nilai-nilai obyektif dan universal.

Distingsi asasi yang mendasari metode Blondel adalah distingsi dalam pikiran itu sendiri antara bidang tindakan atau eksistensi dan bidang pikiran atau refleksi. Sebagai tindakan, pikiran berpartisipasi dalam spontanitas subyek. Itulah komitmen dan kebebasan. Sebagai pengetahuan, pikiran merefleksikan komitmen dan kebebasan dan menegaskan relasi-relasinya yang niscaya. Dalam tahap pertama dialektikanya, Blondel mencari kesatuan pikiran prarefleksif dengan eksistensi dalam tindakan manusia. Dia berbicara tentang suatu metode eksperimentasi yang langsung dan praktis. Pada tahap ini unsur kehendak harus didahulukan daripada unsur intelektual pikiran. Kriteria kepastian harus ditemukan, sebagai akibat tindakan, pada kesadaran-diri individual, perasaan sesuai atau tidak sesuainya obyek pilihan, dengan pengalaman fundamental akan dirinya sendiri. Perasaan ini tidak dapat menjadi sadar sampai kehendak menanggapi seruan dari dalam dirinya sendiri. Dengan tara ini kebebasan menjadi inti kegiatan pikiran itu sendiri.

5. Kesatuan pra-refleksif awal ini dalam manusia harus melalui tahap disjungsi (ketidakterkaitan) pikiran dan eksistensi supaya mencapai kesatuan pasca-refleksi komitmen bebas dan rasional. Dengan demikian pada tahap kedua dialektika pada bidang refleksi, akal budi mendahului kehendak. Metode yang dipakai di sini ialah metode keraguan secara total. Tidak ada postulat moral atau intelektual dapat diterima secara apriori. Seseorang mulai dengan masalah tindakan manusiawi: Apakah yang harus manusia pikir atau buat supaya mencapai pemenuhan diri? Di sini digunakan sejenis reduksi fenomenologis. Dan ini di- jalankan dengan menghilangkan untuk sementara, aktivitas sintetik subyek dari bidang refleksi. Blondel mengupayakan semua jalan keluar yang mungkin dari struktur kebebasan dengan pengandaian metodologis ini, yaitu, satu-satunya cara membuktikan keniscayaan adalah membuktikan kemustahilan. Kriteria penilaian di sini adalah konsistensi rasional antara esensi obyektif tindakan yang diusulkan dan konsep obyektif mengenai hakikat manusiawi. Pada tahap ini Blondel berupaya memperlihatkan bagaimana tindakan manusia tidak dapat mencapai tujuan pemenuhan dirinya, tanpa tata rasional menyeluruh yang tampil langkah demi langkah sebagai hukum imanen. Peranan organik pikiran refleksif dalam dialektika kehidupan ialah mengantar manusia untuk menempatkan tujuan-tujuan ideal tindakannya tidak pada apa yang ada tetapi pada apa yang seharusnya ada, dengan memproyeksikan ke luar hukum yang imanen dalam kehendaknya sebagai suatu tujuan yang sadar untuk dikejar secara bebas.

Pada tahap ini Blondel menggunakan suatu bentuk refleksi transendental, mulai dengan apa yang ada dalam kesadaran dan mencari kondisi-kondisi kemungkinannya. Analisis bergerak dari kehendak posisional yang obyektif (volatile vnulue) ke kondisi-kondisi subyektif yang niscaya dari kehendak-tindakan (volonte von/ante). Fenomenologi kehendak ini mengikuti langkah-langkah yang hampir saraa dengan yang dibuat Hegel dalam Phenomenology of the Spirit (Fenomenologi Roh), yang bertolak dari synergie kehendak manusia dengan kekuatan-kekuatan alam, melalui co-ergie dalam kehidupan sosial ke ekspansi final dalam the-ergie kehidupan agama.

6. Pilihan atau komitmen rasional merupakan tahap sintetik final dari metode Blondel. Pada titik ini muncul pengakuan bebas secara legitim dalam bidang refleksi. Pilihan menggambarkan titik temu yang perlu dalam pikiran antara dua bidang: afirmasi dan refleksi. Persetujuan bebas, yang sampai sekarang mendukung dialektika dari luar, direfleksikan dari dalam. Pikiran refleksif kembali pada realitas kegiatan sintetik itu sendiri. Dua kriteria sebelumnya tentang kepastian terfusi di sini. Bagaimana pun, kriteria-kriteria eksperiensial lebih diutamakan daripada hal yang rasional. Karena, kriteria-kriteria itu digunakan sebagai petunjuk-petunjuk dan sekaligus untuk menemukan kepastian dasariah dalam pengalaman langsung tentang ada atau tidak adanya akibat pada komitmen.

7. Suatu pilihan atau transendensi-diri menyingkapkan dirinya dalam filsafat Blondel, sebagai kondisi niscaya final bagi pemenuhan diri manusia. Keniscayaan pilihan ini dikukuhkan saat manusia menjadi sadar akan komitmen-komitmen yang tetap serempak niscaya dan mustahil. Sebagai hal yang niscaya, komitmen-komitmen itu menyajikan suatu aspek imanen potensial dari realitas eksistensial manusia. Sejauh komitmen komitmen itu masih mustahil bagi manusia untuk diwujudkan oleh kebebasannya sendiri yang mandiri, hal-hal itu menunjuk kan suatu potensialitas dalam manusia yang mengatasi manusia sendiri. Proyeksi dari “potensialitas yang tidak dipakai dan ti dak dapat digunakan” ini dari kehendak manusia, demikian Blondel, merupakan sumber genetik ide kita tentang Allah ssbagai yang imanen-transenden.

8. Blondel mempertahankan bahwa dialektika tindakan tidak bcr akhir dengan pembenaran rasional akan pilihan atau transendensi-diri pada tingkat refleksi. Filsafat mampu memperlihatkan keniscayaan suatu pilihan final dan menjelaskan syarat-syaratnya, tetapi tidak dapat memberikan pilihan itu sendiri.

Incoming search terms:

  • arti kebebasan dan komitmen
  • hukum blondel

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • arti kebebasan dan komitmen
  • hukum blondel