Advertisement

EPISTEMOLOGI

Dari Yunani episteme (pengetahuan, ilmu pengetahuan) dan logos (pengetahuan, informasi). Dapat dikatakan, pengetahuan tentang pengetahuan. Adakalanya disebut “teori pengetahuan”. Topik ini akan kita kaji lewat sejumlah cara di mana bidang ini mungkin dibagi.

Advertisement

1. Perbedaan pokok antara teori-teori pengetahuan adalah perbe- daan antara metode Rasionalisme dan teori Empirisme. Yang terdahulu ditekankan oleh pemikir-pemikir seperti Parmenides, Plato, Descartes, Spinoza, Leibniz. Sedangkan yang kedua ditegaskan oleh Francis Bacon, Locke, Berkeley, Hume, dst. Contoh pengetahuan yang paling menjanjikan adalah pengetahuan yang bersifat ilmiah. Dengan demikian dapat diutarakan bahwa metode yang paling cocok dengan ilmu pengetahuan harus di- terima. Akan tetapi tentu saja beberapa bidang ilmu pengetahuan lebih empiris dibandingkan yang lain. Mungkin sekali kontras antara Rasionalisme dan Empirisme merupakan kontras atau perbedaan palsu, dan menimbulkan problem palsu atau semu pula.

2. Empirisme umumnya dapat diidentikkan dengan Teori Korespondensi (tentang kebenaran) dan Rasionalisme dengan Teori Koherensi (tentang kebenaran). Teori Korespondensi sepertinya merupakan pandangan yang lebih masuk akal bagi aprehensi biasa. Menurut teori ini, pernyataan-pernyataan adalah benar bila berkorespondensi (sepadan) dengan dunia (kenyataan); dan ide-ide berkorelasi dengan kenyataan melalui persepsi-persepsi yang kita terima dari dunia.

3. Kaum rasionalis, khususnya, diharapkan menanggapi bahwa kenaifan ditemukan dalam perkiraan yang dapat dibangun oleh padanan-padanan (korespondensi) ini. Tak pelak lagi orang memasuki situasi-pengetahuan dengan sebuah ide atau se- kumpulan ide yang ingin dihadapkan dengan kenyataan. Tetapi karena dalam hakikat kasus itu ia hanya bisa mengetahui ide- ide, paling-paling yang dapat dilakukannya ialah menghadapkan ide yang satu dengan yang lain; ide ingatan, misalnya, dihadapkan dengan ide yang hanya diterima dari pancaindera; dan justru bukan itu yang dimaksudkannya.

Kaum rasionalis, yang menerima Teori Koherensi, tidak inenekankan korespondensi (padanan), melainkan kriteria logis dalam mengevaluasi sebuah teori atau eksplanasi. Penganut Teori Koherensi kiranya berminat kepada soal konsistensi internal tiap afirmasi, atau eksplanasi, penibentuk teori; konsistensi eksternal afirmasi-afirmasi satu sama lain; dan relasi-relasi dedusibilitas dalam afirmasi-afirmasi, yang memungkinkan kita bergerak dari yang satu ke yang lain, dan yang menyediakan evidensi supaya kita tidak membiarkan adanya kekosongan dalam teori kita.

4. Kritik-balasan yang dilontarkan sang penganut Teori Korespondensi ialah bahwa banyak contoh sistem ide-ide, yang mempunyai koherensi atau konsistensi internal dan mempertahankan relasi-relasi dedusibilitas, namun tidak berhubungan dengan kenyataan. Sebagai contoh dapat kita sitir (kutip) beraneka macam sistem geometri, masing-masing dengan titik tolak aksiomatik yang berbeda, yang dikembangkan dengan kesatuan dan koherensi luar biasa, namun tidak semuanya dapat diterapkan pada dunia (karena mereka konsisten satu sama lain).

5. Jawaban sang penganut Teori Koherensi kepada kritik ini ialah bahwa kritik ini tidak menangkap maksud Teori Koherensi Alasannya, koherensi ide-ide tidak hanya mencakup jajarar, ide-ide sistematis, tetapi juga ide-ide yang kita terima dari seluruh pengalaman yang mengalir tak henti-hentinya. Maksudnya ialah koherensi semua ide yang bersangkutan itu.

6. Mungkin debat ini tak akan terpecahkan. Tetapi dalam term-term praktis kiranya jelas bahwa klaim rasionalitas maupun observasi harus dihargai. Ada debat semacam ini antara realisme dan idealisme dalam epistemologi. Dalam epistemologi ada doktrin-doktrin yang menekankan obyektivitas pengetahuan. Kadang doktrin ini di- sebut “realistis”. Misalnya Realisme Representatif. Pandangan ini melihat ide-ide sebagai representasi kenyataan obyektif. Realisme Kritis melihat ide-ide tidak sebagai representasi lang- sung kenyataan obyektif. Realisme Baru beranggapan bahwa. kita memasuki kontak langsung dengan dunia melalui relasi pengetahuan. Kesemuannya ini merupakan contoh-contoh Realisme Epistemologis, sebab dalam tiap alternatif data diidentifikasikan dengan obyek. Dalam Idealisme Epistemologis, di pihak lain, obyek kiranya diidentikan dengan data.

7. Dapat pula ditarik garis perbedaan antara dualisme dan monisme dalam epistemologi. Dualisme Epistemologis beranggapan bahwa terdapat dualitas antara data-inderawi dan obyek yang diketahui. Monisme Epistemologis memandang data identity dengan obyek yang diketahui. Dalam pengertian ini pembedaan — pembedaan epistemologi paralel dengan pembedaan-pembedaan metafisika atau ontologi.

Advertisement