Advertisement

FATALISME

Inggris: fatalism; dari Latin fatalis (berpautan atau bertalian dengan nasib atau takdir)—fatum (nasib, takdir).

Advertisement

Doktrin bahwa segala sesuatu terjadi menurut nasib yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Doktrin ini bersifat prafilosofis maupun prateologis. Doktrin yang ekuivalen dalam pemikiran teologis adalah predestinasi dan dalam filsafat determinisme.

1. Keyakinan bahwa segala sesuatu pasti terjadi menurut caranya sendiri tanpa mempedulikan usaha kita untuk menghindari atau mencegahnya. Usaha-usaha kita untuk membatalkan nasib tidak boleh tidak pasti gagal. “Apa yang terjadi, pasti terjadi

2. Individu merupakan produk kekuatan-kekuatan predeterministis yang bekerja dalam alam semesta. Individu sama sekali tidak dapat mengatur tingkah laku dan nasibnya, atau nasib sejarah. Tak seorang pun dapat berbuat lain selain menerima adanya dan bertindak sebagaimana ditentukan.

3. Peristiwa-peristiwa tertentu akan terjadi dalam kehidupan pada saat tertentu dan di tempat yang tertentu.

4. Lebih jauh dapat dikatakan, nasib seseorang telah ditetapkan dan tidak berpautan dengan pilihan-pilihan dan tindakannya. Hari esok berada di luar kekuasaannya. Seorang fatalis, jika ada, berpikir bahwa ia tidak dapat melakukan sesuatu pada hari esok. Apa yang akan terjadi pada tahun yang akan da- tang, hari esok, atau sebentar lagi, tidak ada kaitannya dengan dia. Oleh karena itu tidak ada gunanya memikirkan apa yang akan dilakukan.

5. Fatalisme merupakan sebuah konsepsi filosofis anti-dialektis. Menurut konsep ini segala proses di dunia sejak awal sudah ditakdirkan dan diatur oleh keharusan atau keniscayaan dengan mengesampingkan kebebasan dan usaha kreatif. Pada mulanya fatalisme berkembang dalam mitologi sebagai gagasan bahwa manusia dan bahkan para dewa secara tak terelakkan diatur oleh nasib buta, tak berguna dan sia-sia.

6. Dalam filsafat, fatalisme diberi berbagai tafsiran. Kaum Stoik mengajarkan bahwa nasib yang tidak dapat ditawar-tawar menguasai alam semesta; dan bahwa setelah kebakaran besar berulang-ulang secara periodik melanda dunia, segala sesuatu di- mulai kembali. Menurut Leibniz, dalam ajarannya mengenai harmoni yang sudah ditentukan sebelumnya (pre-established harmony), interaksi antara monade-monade sudah ditakdirkan Allah. Dalam sistem idealis-obyektif Schelling, jurang antara kebebasan dan keniscayaan meniadakan kemungkinan bagi individu-individu untuk bertindak bebas. Hegel mempertahankan, pada akhirnya individu adalah semata-mata alat bagi roh mutlak. Kaum materialis metafisis (Hobbes, materialis Perancis abad ke-18, dan lain-lain) menyangkal kemungkinan obyektif dan menyamakan kausalitas dengan keharusan, yang juga menuju fatalisme.

Incoming search terms:

  • arti fatalisme
  • arti fatalistik
  • pengertian fatalis
  • ajaran fatalisme
  • fattism adalah
  • teori fatalisme
  • arti fatalistic
  • apa yang di maksud fatalisme
  • kaum fatalis
  • Kaum fatalisme

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • arti fatalisme
  • arti fatalistik
  • pengertian fatalis
  • ajaran fatalisme
  • fattism adalah
  • teori fatalisme
  • arti fatalistic
  • apa yang di maksud fatalisme
  • kaum fatalis
  • Kaum fatalisme