Advertisement

Filsafat Analitis

Filsafat analitis merupakan suatu gerakan filsafat abad duapuluh. Aliran ini kuat di Inggeris dan Amerika. Gerakan ini memusatkan perhatiannya pada bahasa dan upaya untuk menganalisis pernyataan (konsep, atau ungkapan kebahasaan atau bentuk- bentuk logis). Tujuannya ialah menemukan pernyataan-pernyataan yang berbentuk logis dan ringkas dan yang terbaik, yang cocok dengan fakta atau arti yang disajikan. Dengan kata lain, filsafat analitis merupakan suatu ungkapan yang merangkum bagi semua karya filosofis abad ke-20, yang bersandar kuat pada teknik linguistik dan analisis logis.

Advertisement

Pusat bagi filsafat analitis adalah pembentukan definisi linguistik atau non-linguistik, real atau kontekstual. Salah satu pendirian filsafat analitis yang pokok ialah bahwa suatu klasifikasi arti dan penggunaan kata sangat penting dalam menangani masalah filosofis, khususnya masalah metafisis, dengan memperlihatkan bahwa masalah itu terletak pada pemakaian bahasa yang salah. Bahasa adalah alat yang paling penting dari seorang filsuf serta perantara untuk menemukan ekspresi. Oleh karena itu, filsuf peka terhadap kekaburan serta cacat-cacat bahasa serta merasa simpati untuk menjelaskan dan memperbaikinya.

Beberapa pandangan dapat ditemukan dalam filsafat analitis.

1. Hertrand Russell, sasaran filsafat analitis ialah menerjemahkan secara gramatikal pernyataan-pernyataan yang menyesatkan ke dalam bentuk-bentuk yang tepat secara logis.

2. G.E. Moore: filsafat analitis tidak menemukan fakta-fakta tentang dunia tetapi sebaliknya mendefinisikan dan menjelaskan konsep. Analysandum adalah konsep yang akan dianalisis dan analisans adalah konsep yang secara logis dipakai untuk menganalisis. Dengan demikian konsep-konsep itu menjadi sinonim, dan sinonimitas ini memberikan kejelasan yang lebih besar.

3. Ludwig Wittgenstein, tujuan filsafat analitis ialah menerjemahkan semua pernyataan yang rumit dan deskriptif (proposisi, ungkapan linguistik) ke dalam pernyataan dasar atau elementer. Lalu pernyataan dasar ini diletakkan ke dalam satuan-satuan terdalam yang tidak dapat dianalisis, yang menyajikan (menggambarkan) satuan-satuan dunia nyata yang sederhana, yang tidak dapat direduksi. Suatu pendirian pokoknya ialah bahwa filsafat tidak dapat melampaui batasan bahasa. Filsafat tidak dapat melukiskan atau menjelaskan bagaimana bahasa dihubungkan dengan dunia nyata. Hubungan ini hanya dapat diperlihatkan. Tugas yang tepat dari filsafat ialah membuat jelas apa yang dapat, atau tidak dapat, dikatakan secara legitim.

4. Rudolph Camap: filsafat analitis adalah penyingkapan sintaksis logis secara sistematis konsep-konsep dan bahasa, khususnya mengenai bahasa ilmu; masalah yang sungguh formal. Perhatian utama di sini tidak menyangkut makna (semantika) kata dan tidak menyangkut relasi makna antara bahasa kita dan dunia nyata, melainkan menyangkut interrelasi struktural bahasa-bahasa itu sendiri. Dalam beberapa hal sulit dibedakan secara tajam antara filsafat analitik dan filsafat linguistik.

Penafsiran apa pun terhadap gerakan ini hendaknya memperhatikan kerumitannya dan kecanggihannya yang meningkat. Karya-karya analitik awal tergoda menjadi naif secara epistemologis dan menyimpang kepada metafisika, biarpun karya-karya itu jarang bersandar pada penolakan dogmatis terhadap metafisika sebagai sesuatu yang tidak berarti bagi positivisme. Analisis formal seringkali menying- kapkan suatu bias aprinri dalam mendukung materialisme. Kendati demikian, sejak awal gerakan ini mempunyai keuntungan karena berpusat pada presuposisi yang menyangkut arti dan penggunaan bahasa yang sering diterima secara tidak kritis dalam tradisi filosofis lainnya.

Suatu perkembangan yang panjang dan bervariasi secara bertahap semakin meninggalkan teori data-inderawi dalam pengetahuan; suatu klasifikasi tentang hubungan antara bahasa dan konsep-konsep, dan elaborasi teknik-teknik jitu dari analisis konseptual dan linguistik. Sebagai sebuah meto- dologi, analisis adalah netral secara filosofis dalam arti analisis dapat digunakan untuk menjelaskan (klasifikasi) dan seringkali mendukung posisi-posisi filo-sofis yang sangat bervariasi. Walaupun kaum analisis awal condong ahistoris, jika tidak dikatakan anti-historis, namun pengarang-pengarang yang lebih kemudian telah mempergunakan teknik- teknik analitis, dengan akibat-akibat yang sangat tidak seimbang untuk menjelaskan arti dan makna posisi-posisi filosofis awal.

Incoming search terms:

  • filsafat analitik
  • pengertian analitis
  • analitis
  • pengertian filsafat analitik
  • Filsafat analitis
  • apa arti analitik
  • arti analitis
  • filsafat analisis
  • analitis adalah
  • analitis formal berpusat pada bahasa

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • filsafat analitik
  • pengertian analitis
  • analitis
  • pengertian filsafat analitik
  • Filsafat analitis
  • apa arti analitik
  • arti analitis
  • filsafat analisis
  • analitis adalah
  • analitis formal berpusat pada bahasa