Advertisement

Filsafat Cina

Filsafat Cina memiliki sejarah yang panjang. Asal-usulnya mulai pada awal masa seribu tahun pertama sebelum Masehi. Pada awal abad ke-8 sampai dengan abad ke-5 sebelum Masehi, filsafat Cina mempunyai ajaran tentang “sumber-sumber utama”, lima anasir alam: air, api, kayu, logam, dan bumi. Pemikir-pemikir Cina kuno mengajarkan bahwa gabungan lima unsur tersebut menciptakan seluruh keberagaman fenomena dan hal-hal. Ada juga sistem lain untuk menyingkapkan sumber-sumber utama dunia nyata. Yi King (Buku tentang Perubahan) menyebut delapan sumber utama seperti itu, yang interaksinya membentuk situasi-situasi realitas yang berbeda. Pada saat yang sama, terbentuklah doktrin tentang kekuatan-kekuatan yang (aktif) dan yin (pasif) yang berlawanan dan saling terkait. Aksi dari kekuatan-kekuatan ini dipandang sebagai sebab gerakan dan perubahan dalam alam. Kekuatan- kekuatan itu merupakan simbol dari cahaya dan kegelapan, hal yang positif dan negatif, unsur jantan dan betina dalam alam.

Advertisement

Filsafat Cina kuno terus berkembang dari abad ke-5 sampai dengan abad ke-3 sebelum Masehi. Dalam periode inilah aliran-aliran filosofis Cina muncul: Taoisme, Confucianime, Mo Ti dan para pengikutnya. Banyak pemikir Cina kuno berupaya memecahkan masalah hubungan logis antara konsep (“nama”) dan realitas. Mo Ti, Hsun Tzu dan lain mempertahankan bahwa konsep merupakan refleksi atas gejala dan hal-hal yang obyektif. Kungsun Lun memberikan suatu penjelasan idealis atas masalah itu. Dia terkenal karena pernyacaan-pernyataannya yang menyerupai aporia-aporia (paradoks-paradoks) dari Zeno dan karena abstraksi mutlak atas konsep dan pemisahannya dari realitas. Ajarannya tentang “nama-nama” banyak kesamaan dengan teori tentang “ide-ide” dari Plato. Teori etis dan politik dari Confucius dan Meng Tzu, pernyataan anggota lain dari aliran Legalis tentang negara dan hukum menjadi tersebar luas. Itulah Jaman Emas dari filsafat Cina.

Filsafat alam bergelut dengan konsep-konsep berikut. Pertama, konsep tien (langit); oleh beberapa orang dipandang sebagai alam (Hsun Chi), sementara yang lain memandangnya sebagai kekuatan tertinggi, yang memiliki maksud tertentu (Confucius, Meng Tzu). Kedua, konsep tao, jalan (hukum alam dan yang absolut). Ketiga, konsep te, manifestasi, kualitas. Ke-empat, konsep ch’i, materi pertama atau utama. Kelima, konsep tentang “unsur-unsur” alam.

Dalam bidang etika dan moral, perhatian terutama dicurahkan pada pengajaran tentang hakikat manusia. Pandangan Confucius memacu timbulnya konsepsi Meng Tzu tentang kebaikan bawaan dari kodrat manusiawi dan konsepsi Hsun Chi mengenai kejahatan bawaan kodrat manusia. Teori Yang Chu tentang individualisme dan teori Mo Tzu tentang altruisme dikenal luas. Doktrin Lima Anasir, tentang kutub yin dan yang tetap merupakan dasar dari banyak sistem filsafat alam dan kosmologi antara abad ketiga sebelum Masehi dan abad ketiga Masehi. Konsep ch’i ditafsirkan secara materialistik dalam sistem Wang Chung yang diperdebatkan secara mendalam. Hubungan yang-ada dengan yang-tiada menjadi masalah sentral pergumulan antara materialisme dan idealisme dalam abad-abad pertama masa itu.

Budhisme mulai menyebar di Cina dalam abad pertama. Bersama dengan Confucianisme dan Taoisme, Budhisme menjadi suatu kecendrungan yang menyolok dalam pemikiran Cina. Abad kelima sampai dengan abad kesepuluh ditandai oleh mistisisme Budhis. Pergumulan di sekitar ajaran Budhisme tentang tidak realnya dunia berkembang selama periode itu. Banyak filsuf mempunyai minat yang besar akan masalah hubungan antara hakikat dan tampakan, yang-ada dan yang- tiada, tubuh dan jiwa.

Filsafat yang berkembang di Cina dalam abad kesepuluh sampai abad ketigabelas merupakan suatu akibat dari perubahan sosio-ekonomis yang mendalam. Perkembangan lebih lanjut dari Confucianisme tampil sebagai suatu reaksi terhadap Budhis- me dan Taoisme. Masalah ontologi, filsafat alam dan kosmogoni disajikan secara luas di dalamnya. Masalah sentral adalah hubungan antara unsur ideal li (hukum, prinsip) dan unsur material ch’i (materi pertama, utama).

Kaum neo-Confucian awal mendekati beberapa masalah dari sudut pandangan materialisme. Chu Hsi sangat berperaa dalam mengembangkan dan membuat generalisasi konstruksi neo-Confucian. Seraya menguji keterkaitan timbal balik dari li dan ch’i, Chu Hsi pada akhxrnya sampai memandang li sebagai bersifat primer dan ch’i sebagai bersifat sekunder. Masalah hubungan antara li dan ch’i dikembangkan lebih lanjut dalam abad ke-17 dan ke-18. Hubungan itu dipecahkan secara ma- terialistik oleh Tai Chen.

Incoming search terms:

  • arti filsafat china
  • pengertian filsafat tionghoa
  • pengertian cina
  • defenisi filsafat cina
  • pengertian filsafat cina
  • filsafat china
  • pengertian filsafat china
  • definisi china
  • defenisi filsafat tionghoa
  • arti nama menurut filsafat cina

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • arti filsafat china
  • pengertian filsafat tionghoa
  • pengertian cina
  • defenisi filsafat cina
  • pengertian filsafat cina
  • filsafat china
  • pengertian filsafat china
  • definisi china
  • defenisi filsafat tionghoa
  • arti nama menurut filsafat cina