Advertisement

HINDUISME

Sistem keagamaan asli India. Hinduisme tidak mempunyai pendiri. la tercermin sendiri dalam sejarah kebudayaan dan kondisi-kondisi sosial bangsa India, mulai dari saat bertumbuhnya peradaban di Lembah Indus hingga kini (kurang lebih 1500 SM — sekarang). Pelbagai tingkat wawasan keagamaan, mulai dari magi hingga idealisme etis hadir bersama dalam kitab-kitab suci dan praktek- praktek Hindu.

Advertisement

Kadang-kadang dikatakan bahwa Hinduisme adalah suatu Dharma (perbuatan baik), dan bukan sebuah agama. Perilaku dan keyakinan di sini bercampur baur. Macam-macam tingkah laku dan keyakinan sama-sama ada dalam Hinduisme. Inkonsistensi-inkonsistensi yang ada mungkin dapat diredam oleh intuisi Hindu, bahwa Yang Satu menyatakan dirinya sendiri dan dinyacakan dengan banyak cara. Kesepakatan tentang politeisme yang jelas dan kabur dalam pemikiran Hindu menghilang. Alasannya, ada macam-macam cara untuk sampai kepada Sang Ada Tertinggi. Dewa-dewi tidak lain merupakan macam-macam nama untuk Allah yang Esa dan aneka rupa jalan menuju tujuan yang sama.

Oleh karena itu, Trimurti atau Tritunggal (Brahma — Sang Pencipta; Vishnu — Sang Pemelihara; dan Shiva — Sang Perusak). Dalam mitologi Hindu kemudian juga konsisten dengan sebuah monoteisme yang ketat. Bagaimanapun juga, Hinduisme merupakan pertumbuhan alamiah yang ditandai oleh kekayaan tetapi bukan suatu doktrin yang terbentuk ke dalam koherensi logis.

1. Kitab-kitab Suci Hinduisme disebut Veda (pengetahuan). Terdiri atas tiga bagian: a) Samhita (kumpulan) meliputi Rigveda: kumpulan lagu-lagu pujian bagi para dewata; Sama-veda: melodi-melodi yang bertalian dengan lagu-lagu pujian tadi; Yajurveda rumusan-rumusan kurban; dan Atharva-veda: rumusan-rumusan magis (mantera); b) Brahmana-. teks-teks yang berurusan dengan ritus dan kurban, makna dan nilainya; c) Upanishad’. pada liakikatnya diskursus (uraian, sistem) filosofis, dan sumber pertama bagi pemahaman filsafat Hindu.

2. Ramayana dan Mahabbarata. Dalam proses pembentukan selama mileneum pertama SM, kompilasinya barangkali terjadi sekitar tahun 200 M. Mahabbarata mengisahkan keluarga Kuru dan Pandava, dari satu keluarga yang sama. Ramayana mengisahkan cerita tentang sang raja yang baik Rama, yang isterinya di culik oleh Raja Srilanka, dan kemudian diselamatkan. Kerangka kisah-kisah ini dimanfaatkan untuk memberikan suatu latar bagi banyak ajaran moral dan religius, termasuk doktrin tentang penjelmaan ilahi.

Mahabbarata memuat Bhagavad-Gita (Nyanyian Tuhan). Ini merupakan diskusi antara Krishna dan Arjuna panglima perang (dari keluarga Pandawa) di medan tempur Kurukshetra, beberapa saat menjelang pecahnya pertempuran. Menghadapi pertempuran itu, Arjuna bingung, tidak tahu harus berbuat apa dan bagaimana. Problem etika individual dan etika sosial dibicarakan: nilai kewajiban dan kegiatan dipuji oleh Krishna, dan imortalitas (kebakaan) jiwa dipertahankan.

3. Tetapi sistem nilai Hindu tidak sesederhana itu. Ideal kehidupan manusia menuntut suatu suksesi tahap-tahap, yang masing- masing pada gilirannya harus dikuasai. Tahap-tahap ini ialah:

a) disiplin dan pendidikan. Di sini tekanannya pada pengetahuan dan disiplin, satu dari tiga jalan menuju Allah;

b) hidup sebagai kepala rumah tangga dan pekerja yang aktif; praktis ini yang paling penting dari keempat tahap, sebab pada tahap inilah disediakan bekal untuk pemeliharaan struktur sosial; pada tahap ini orang menjalani hidup perkawinan, sambil memikul tanggung jawab sosial, termasuk kewajiban mem- bantu atau melayani sesama manusia;

c) masa penarikan diri dari dunia dengan tujuan melepaskan ikatan sosial, yang mengarah kepada tahap yang keempat;

d) hidup sebagai pertapa. Pada tahap 3 dan 4 ideal yang dikejar ialah “renunsiasi” (penolakan, pembuangan). Bagi agama Hindu, “renunsiasi” merupakan sarana yang memungkinkan kemantapan hidup ditinggalkan. Oleh karena itu, renunsiasi menggambarkan baik kebebasan maupun kepenuhan.

4. Sistem kasta di India, sama seperti aspek lain kebudayaan, tercermin dalam dan ditunjang oleh kitab-kitab sucinya, kendati tidak terang-terangan. Sistem itu memuat empat kasta: Brahmana (para imam dan guru agama); Kshatriya (para raja dan tentara); Vaisa (pedagang dan tukang, dan Iain-Iain pekerja tangan); dan Sudra (para petani dan buruh). Tetapi kasta-kasta tersebut tak pernah berdiri sendiri sepenuhnya. Para pengikut devosi (bhakti) condong anti-kasta.

5. Dari sekian banyak jalan menuju Allah yang dikenal dalam Hinduisme, terdapat tiga jalan utama yang memiliki tradisi yang panjang. Ketiga jalan itu ialah jalan karya atau karma, jalan meditasi dan pengetahuan atau jnana, serta jalan devosi atau bhakti.

a) Pada awalnya, dan bagi orang-orang yang mengikuti jalan karya (karma), hidup manusia amat bcrgantung pada dewa- dewi, yang baik-buruknya ditentukan oleh pelaksanaan kurban secara tepat. Cara biasa pelaksanaan kurban ialah melemparkan persembahan ke dalam api kurban. Berbuat kurban terbuka kepada pelbagai interpretasi, mulai dari merayu para dewata sampai dengan renunsiasi pribadi. Demikian pula jalan karya, walau bagaimanapun, dapat ditafsirkan setara ritualistik, atau dalam arti etis. Dan kedua arti sekarang pasti termuat, walaupun yang kedua berkembang kemudian.

b) Jalan pengetahuan dapat dikaickan dengan Upanishad, (lahir kira-kira 800 SM), dan tujuannya adalah pencerahan pribadi. Upanishad secara tersirat bersifat monoteistik. Pesannya ialah bahwa Sang Ada Tertinggi yang meresapi dan berdiam di dalam segala sesuaru, atau Brahman, identik dengan sang diri individual, atau Atman. Melalui siklus kelahiran orang bergerak menuju perwujudan identitas Atman dan Brahman, yang kita realisir dalam Ada (Sat), Kesadaran (Chit), dan kesukaan (Ananda). Doktrin etis dari tulisan-tulisan ini (Upanishad) mempersamakan penderitaan dan keterbatasan dengan ketidaktahuan. Iluminasi menyingkirkan rintangan- rintangan ini. Dan identitas Atman-Brahman yang mendalam melahirkan suatu kesatuan keberadaan moral.

c) Bhakti (jalan devosi) mulai dengan Veda. Tecapi Bhakti lambat laun semakin kuat, dan mencapai puncak perkembangannya pada Abad Pertengahan. Bhakti semula sebuah gerakan anti kasta yang mati-matian ditolak oleh kaum Brahmana. Di dalam Bhakti, keharusan ritus dan kurban dikurangi; kehangatan cinta dan pemujaan menggantikari pengetahuan; Allah personal menggantikan prinsip Brahman Pada akhirnya, Bhakti tiba pada mistisisme.

6. Sekitar tahun 200 M telah berkembang enam sistem filsafat Sistem-sistem itu dapat diuraikan dalam tiga bagian karena persamaan internalnya: Nyaya-Vaiseshika, Sankhya-Yoga, dan Purva Mimamsa-Vedanta.

a) Nyaya-Vaiseshika sama-sama mengakui empat sumber pengetahuan (persepsi, penalaran, analogi, kesaksian terpercaya); menerima persebaban termasuk persebaban ganda, empat macam unsur atomis (tanah, udara, api, dan air), dan sembilan substansi (empat atom dan ruang, waktu, ether, pikiran, dan jiwa). Allah menciptakan dunia dengan membentuk sembilan substansi menjadi suatu alam raya yang teratur. Pandangan Nyaya semula dibentangkan oleh Gautama (bukan sang Budha) pada abad ke-3 SM. Kanada menerbitkan Vaiseshika Sutra kira-kira pada saat yang sama.

b) Pasangan Sankhya-Yoga, sebagai kosmologi, berkaitan dengan disiplin mental. Sistem Sankhya mempunyai dua kategori pokok: purusha (atau roh kekal) dan prakriti (atau dasar tata alam), termasuk semua pontensialitas alam, baik psikis maupun fisis. Dunia keluar dari prakriti dengan bantuan purusha. Proses sebab-akibat ditekankan, dan juga praeksistensi akibat dalam sebab. Evolusi berkembang dari materi ke roh, dari prakriti ke purusha. Dalam evolusi bermain peran penting tiga kualitas amat khusus: sattva (terang, kemurnian, keharmonisan) mendorong evolusi prakriti; rajas (energi, nafsu, gairah) memberikan daya pendorong semua kegiatan; dan tamas (kelembaman, kegelapan) menyediakan prinsip resistensi. Evolusi spiritual bertolak dari akal budi ke perasaan-diri, perasaan-ego, lima organ kognitif, lima organ penggerak, pikiran yang terasah.

Kelahiran kembali bertalian dengan ketidaktahuan; pengetahuan tentang perbedaan antara prakriti dan purusha mengarah kepada hidup tanpa pamrih; dan pada waktu mati dibebaskan dari roda kelahiran kembali.

Pada awalnya para pemikir Sankhya menganut pandangan agnostik, sebagaimana dalam karya Kapila Sankhya- pravacana Sutra. Tetapi kemudian mereka mengakui eksistensi Allah.

Yoga memandang Allah sebagai prinsip pembimbing evolusi, yang secara berkala meleburkan kosmos dan memulai lagi proses evolusi. Yoga beranggapan bahwa disiplin mental dalam hubungan dengan kebiasaan konsentrasi harus ditambahkan kepada pengetahuan diskursif tentang hakikat semua hal guna mendapatkan pembebasan. Ke sanalah tujuan latihan-latihan yoga.

c) Pasangan Purva Mimamsa-Vedanta berhubungan erat dengan kitab-kitab suci Hindu. Sistem Purva-Mimamsa berurusan dengan interpretasi yang tepat terhadap Veda, yang dianggap sebagi otoritas mutlak untuk tingkah laku. Sumbangan fllosofis utama ialah karya Jaimini Purva-Mimamsa Sutra, kira-kira th 400 SM.

Sistem Vedanta bersandar pada doktrin Upanishad tentang Brahman. Teks-teks pokok adalah Upanishad, Bhagavad Gita, dan Brahma Sutra (oleh pendirinya Badarayana). Gandapada, salah seorang guru pertama mazhab itu, menganggap seluruh dunia ini sebagai maya (ilusi) dan Brahman sebagai satu-satunya realitas. Dalam bentuk yang kurang ekstrem, Shankara memandang dunia sebagai tampakan yang realitasnya adalah Brahman. Dari semua sistem yang paling berpengaruh adalah filsafat Vedanta.

Incoming search terms:

  • pengertian hinduisme
  • hinduisme
  • hinduisme adalah
  • pengertian konsep hinduisme
  • apakah yang dimaksud hinduisme
  • arti hinduisme
  • apa yang dimaksud hinduisme
  • apa yang dimaksud konsep hinduisme
  • konsep hinduisme
  • apa yang dimaksud dengan konsep hinduisme

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian hinduisme
  • hinduisme
  • hinduisme adalah
  • pengertian konsep hinduisme
  • apakah yang dimaksud hinduisme
  • arti hinduisme
  • apa yang dimaksud hinduisme
  • apa yang dimaksud konsep hinduisme
  • konsep hinduisme
  • apa yang dimaksud dengan konsep hinduisme