Advertisement

ILMU

Inggris: science; dari bahasa Latin scientia (pengetahuan)—scire (mengetahui). Sinonim yang paling akurat dalam bahasa Yunani adalah episteme.

Advertisement

1. Kata tabu (pengetahuan) secara umum menandakan suatu pengetahuan tertentu. Dalam arti sempit, pengetahuan bersifat pasti. Berbeda dengan iman, pengetahuan didasarkan atas pengalaman dan pemahaman sendiri.

2. Berbeda dengan pengetahuan, ilmu tidak pernah mengartikan kepingan pengetahuan satu putusan tersendiri; sebaliknya, ilmu menandakan seluruh kesatuan ide yang mengacu ke obyek (atau alam obyek) yang sama dan saling berkaitan secara logis. Karena itu, koherensi sistematik adalah hakikat ilmu. Prinsip- prinsip obyek dan hubungan-hubungannya yang pokok tercermin dalam kaitan-kaitan logis yang dapat dilihat dengan jelas. Bahwa prinsip-prinsip metafisis obyek menyingkapkan dirinya sendiri kepada kita dalam prosedur ilmu secara lamban, didasarkan pada sifat khusus intelek kita yang tidak dicirikan oleh visi rohani terhadap reaiitas tetapi oleh berpikir.

3. Ilmu tidak memerlukan kepastian lengkap berkenaan dengan masing-masing penalaran perorangan, sebab ilmu dapat memuat di dalam dirinya sendiri hipotesis-hipotesis dan teori-teori yang belum sepenuhnya dimantapkan.

4. Di lain pihak, seringkali berkaitan dengan konsep ilmu (pengetahuan ilmiah) adalah ide bahwa metode-metode yang berhasil dan hasil-hasil yang terbukti pada dasarnya harus terbuka kepada semua pencari ilmu. Kendati demikian, rupanya baik un- tuk tidak memasukkan persyaratan ini dalam definisi ilmu, karena obyektivitas ilmu dan kesamaan hakiki daya persyaratan ini pada umumnya terjamin.

5. Ciri hakiki lainnya dari ilmu ialah metodologi, sebab, kaitan logis yang dicari ilmu tidak dicapai dengan penggabungan tidak teratur dan tidak terarah dari banyak pengamatan dan ide yang terpisah-pisah. Sebaliknya, ilmu menuntut pengamatan dan berpikir metodis, tertata rapi. Alat bantu metodologis yang penting adalah terminology ilmiah. Yang disebut belakangan ini mencoba konsep-konsep ilmu.

6. Kesatuan setiap ilmu bersumber di dalam kesatuan obyeknya. Teori skolastik mengenai ilmu membuat petnbedaan antara obyek material dan obyek formal. Yang terdahulu adalah obyek konkret yang disimak ilmu. Sedangkan yang belakangan adalah aspek khusus atau sudut pandang terhadap obyek material. Yang mencirikan setiap ilmu adalah obyek formalnya. Sementara obyek material yang saina dapat dikaji oleh banyak ilmu lain. Pembagian obyek studi mengantar ke spesialisasi ilmu yang terus-menerus bertambah. Gerakan ini diiringi bahaya pandangan sempit atas bidang penelitian yang terbatas. Sementara penangkapan yang luas terhadap saling keterkaitan seluruh reaiitas lenyap dari pandangan.

Advertisement