Advertisement

Kekeliruan Relevansi adalah contoh ignoratio elenchi (penalaran yang tidak relevan).

8. Argumentum ad Baculum (Argumen dengan tongkat): kekeliruan yang dliakukan bila seseorang menggunakan kekuatan, kekuasaan, atau ancaman guna mendapatkan persetujuan atas kesimpulan yang dibuatnya. Contoh: “Aku gubernur di provinsi ini, dan DPRD mendukungku; kalian harus pergi dari daerah ini.”

Advertisement

9. Argumentum ad Hominem (Argumen tunjuk langsung orang): Kekeliruan yang diiakukan bila seseorang mengarahkan argumennya kepada orang dan bukan kepada pokok masalah. Kekeliruan genetik, yang tidak mempedulikan proses asal-usulnya, merupakan cara lain dari Argumentum ad Hominem. Contoh: “Kasus penganiayaan yang dicatat LSM itu centu tidak beaar; LSM kan hanya asal bicara.”

10. Argumenturn ad Mtsericordtam (Argumen minta kerahiman): Kekeliruan yang dilakukan ketika dimintakan kerahiman se-seorang guna menerima kesimpulan dan bukan bukti. Contoh: “Jika terpilih, Karto akan memerintah negara ini dengan baik dan efisien. Dia telah mengorbankan segala-galanya dalam perang kemerdekaan; dan telah dipenjarakan selama se- belas tahun. Jadi, ia pantas menduduki jabatan itu.”

11. Argumentum ad Verecundiam (Ipse Dixit), yaitu argumen berdasarkan otoritas: Kekeliruan yang dilakukan dengan meng- andalkan perasaan hormat orang banyak terhadap orang ternama untuk mendapatkan persetu)uan mereka terhadap suatu kesimpulan. Contoh “Pil-pil ini pasti aman dan efek- tif menyembuhkan. Pil-pil ini telah mendapat dukungar dan Nona Bela Asmara, bintang film cantik itu.”

12. Argumen Sebab Palsu Versi yang lebih sempit disebut Post hoc ergo propter hoc (sesudah ini, maka karena ini.) Contoh: “Kaum Demokrat adalah partai perang, karena kebanyakan perang terjadi setelah mereka terpilih menduduki tampuk kekuasaan negara” Argumen Sebab Palsu ini merupakan kekeliruan yang terjadi ketika seseorang mencoba secara tidak tepat membangun suatu kaitan sebab-akibat. Contoh: ‘Terdapat lebih banyak gereja di New York City daripada di kota lain mana pun di dunia; dan lebih banyak kejahatan dilakukan di New York daripada di tempat lain mana pun. Ini menjelaskan bahwa untuk memberantas kejahatan kita harus mengha- puskan gereja.”

13. Kekeliruan Pertanyaan Kompleks: Kekeliruan yang dilakukan ketika tidak diketahui bahwa jawaban kepada suatu pertanyaan tertentu mengandaikan suatu jawaban sebelumnya kepada pertanyaan sebelumnya. Contoh: “Sudahkah Anda meninggalkan cara-cara yang jahat?”

14. Argumentum ad Ignorantiam (Argumen berdasarkan ketidaktahuan): Kekeliruan yang dilakukan ketika seseorang mengemukakan bahwa sesuatu benar berdasarkan tidak adanya bukti bahwa yang dinyatakan itu salah; atau sesuatu salah berdasarkan tidak adanya bukti benar. Contoh: “Penyembuhan oleh iman pasti ampuh. Tak ada yang mampu mem- buktikan bahwa itu tidak ampuh.”

15. Kekeliruan Hitam-Putih. Kekeliruan ini dilakukan ketika kita diberitahu untuk memilih antara dua alternatif, dan tidak dipedulikan adanya alternatif-alternatif lainnya. Ditegaskan bahwa kita harus memilih antara hitam dan putih, padahal sebenarnya ada banyak nuansa abu-abu yang mungkin juga dipilih. Contoh: “Bagi siapa saja dan semua yang merasa dirinya lebih mencintai komunisme daripada Pancasila, biarlah mereka beli tiket ke Rusia dan jangan kembali lagi. Atau kita Pancasilais sejati atau kita Komunis.”

16. Kekeliruan Generaltsasi Tergesa-gesa. Kekeliruan yang dilakukan ketika kita menarik kesimpulan induktif dari evidensi yang tidak kuat, atau sampel yang terlalu kecil Contoh: “Dia tidak akan memutar kaset Dangdut yang diperolehnya. Selama ini dia tidak memutar kaset Dangdut.”

17. Kekeliruan Analogi Palsu. Kekeliruan yang dilakukan ketika argumen bertolak dari analogi ke kesimpulan yang harus diikuti kekeliruan semakin kentara bila semakin banyak perbedaan antara kasus-kasus yang diperbandingkan. Contoh: “Mobil ambulans dan polisi dapat lewat waktu lampu merah, jika sedang tergesa-gesa. Saya seharusnya bisa begitu kalau saya buru-buru.”

18. Kekeliruan Hipotesis Kompleks. Kekeliruan yang dilakukan ketika dari dua hipotesis diangkat yang lebih kompleks, padahal yang kurang kompleks memadai untuk menjelaskan semua fakta. Contoh: “Tahun ini saya tidak menerima kartu ulang Tahun dari Nyonya Aminah. Pasti dia sudah ke luar negeri karena ada masalah dengan Kantor Pajak.”

19. Kekeliruan Argumen Spekulatif: Kekeliruan yang terjadi dengan mengangkat sebuah hipotesis yang berlawanan dengan fakta, dan kemudian mengatakan benar apa yang menjadi kesimpulannya. Contoh: “Jika Florence Nightingale tidak merintis Palang Merah, tentu banyak korban bencana yang terlantar sekarang ini.”

20. Kekeliruan Argumen Sirkular (Petitio Principii): Kekelirusi yang diJakukan ketika seseorang mengandaikan di antar premis-premisnya yang seharusnya dibuktikan. MisalnyS tiga orang pencuri bertengkar mengenai pembagian tujul permata hasil curiaanya. Salah seorang memberikan du kepada yang di sebelah kanannya, dan dua Iagi kepad yang di sebelah kirinya. Katanya, “saya dapat tiga.” Yanj di sebelah kanannya bertanya: “Kenapa Anda dapat tiga? “Karena saya pemimpin.” “Oh ya, tetapi bagaimana And: menjadi pemimpin?” “Karena saya punya tiga permata.”

21. Kekeliruan Dikma Palsu: Kekeliruan yang terjadi bila terdapa alternatif ketiga yang dapat diangkat, atau bila konsekuensi konsekuensi, konon, berasal dari alternatif-alternatif yang sebenarnya tidak diikuti. Simak misalnya alur penalara’ yang kabarnya diberikan oleh jenderal pengikut Muhamm;” yang membakar perpustakaan di Aleksandria. “Jika buku buku ini hanya mengulang apa yang ada dalam Quran maka buku-buku ini dangkal. Jika buku-buku ini menyatakan sesuatu yang lain daripada Quran, maka buku-buku ini merusak. Tetapi entah buku-buku ini mengulangi Quran atau menyatakan sesuatu yang lain daripada Quran; maki buku-buku ini atau dangkal, atau merusak.”

22. Kekeliruan Contradictio in Adjecto Kekeliruan yang dilakuksf bila sebuah kata sifat tidak konsisten dengan kata bed* yang diterangkannya. llngkapan “bujur sangkar bulat” mer:- pakan contoh yang paling gamblang mengenai kekeliruan ini. Contoh-contoh yang lebih halus tergantung pada konteb Merupakan keharusan membangun arti istilah-istilah dalam konteks untuk mengetahui apakah suatu contoh penalarin yang spesifik melakukan kekeliruan ini atau tidak.

23. Kekeliruan Term Tengah: Kekeliruan yang dilakukan bila nalaran kita tidak lebih daripada menghubungkan dua it dengan ide ketiga, bila klaim kesimpulan kita juga mer hubungkannya satu sama lain. Ini merupakan kekeliruii silogisme. Term mayor dan minor tidak dihubungkan dengan term tengah, tetapi satu sama lain. Kendati orang dapat sesat oleh kekeliruan ini, cacatnya dapat ditangkap seen intuitif dalam contoh berikut: “Semua anjing pemamah biak. Semua kucing pemamah biak. Maka, semua kucing adalah anjing.”

24. Kekeliruan Quaterma Terminorum (Kekeliruan Empat Term). Setiap silogisme diandaikan punya tiga term. Ketika term tengah ambigu (mendua), kadang term itu diartikan secara berbeda dalam premis mayor dan premis minor. Bila ini terjadi, muncul ekuivokasi dalam term tengah. Akibatnya, meskipun kelihatannya tiga term, tetapi sebenarnya empat. Contoh: “Akhir suatu hal adalah kesempurnannya. Kematian adalah akhir kehidupan. Maka, kematian adalah kesempurna- an kehidupan.”

25. Kekeliruan Term Mayor: Kekeliruan yang dilakukan bila da¬lam suatu silogisme term mayor berhubungan dengan term minor atas cara yang melampaui hubungan-hubungan term- term ini yang dibangun oleh premis-premisnya. Contoh: “Semua anggota Kongres adalah tokoh politik. Tidak ada gubernur yang adalah anggota Kongres. Maka, tidak ada gubernur yang adalah tokoh politik.”

26. Kekeliruan Term Minor-. Kekeliruan yang dilakukan bila dalam sebuah silogisme term minor dihubungkan dengan term mayor atas cara yang melampaui hubungan-hubungan term- term ini yang dibangun oleh premis-premisnya. Contoh: “Semua pencinta persaudaraan adalah pencinta minuman keras. Semua pencinta persaudaraan adalah mahasiswa. Maka, semua mahasiswa adalah pencinta minuman keras.”

27. Kekeliruan Afirmast Konsekuen: Kekeliruan yang dilakukan bila dalam suatu silogisme hipotetis, kita mengafirmasi konsekuen, dan atas dasar afirmasi ini, mengafirmasi anteseden. Contoh: (anteseden) (konsekuen) Jika hujan, jalan akan basah. Jalan basah. Jadi, sudah hujan.

28. Kekeliruan Negasi Anteseden-. Kekeliruan yang dilakukan bila dalam sebuah silogisme hipotetis, kita menegasi anteseden, dan atas dasar negasi ini, juga menegasi konsekuen. Contoh: (Anteseden) (Konsekuen) Jika hujan, jalan akan basah. Tidak hujan. Jadi, jalan tidak basah.

29. Kekeliruan Stlogisme Alternatif: aftrmasi dan negasi. Silogisme alternatif dibangun at as pengertian yang lemah dari entah at ait. Pengertian ini ialah bahwa setidaknya salah satu al ternatif mesti diterima, dan mungkin dua-duanya, atau be tapapun banyaknya alternatif-alternatif. Dengan pengertiat ini, jelaslah bahwa kita tidak dapat niengafirmasi: entah f atau B. Dan B. Maka, bukan A. Contoh: “Entah buna atau kembang kol. Saya suka buncis. Maka, saya tidak bis’ punya kembang kol.”

30. Kekeliruan Silogisme Disjungtif: negasi dan aftrmasi. Silogism’ disjungtif menggunakan pengertian yang lebih kuat dar entah-atau. Artinya, saling meniadakan. Bila maksud premis- premis mau menyatakan: Bukan A maupun B, jelaslat bahwa kita tidak bisa berkata “Bukan A. Maka B.” Contoh kita mungkin memilih buncis atau kembang kol waka makan malam. Tentu tidak dapat dikatakan: “Atau buna’ atau kembang kol. Saya tidak peduli buncis. Maka, sajl mesti makan kembang kol.”

Incoming search terms:

  • kekeliruan relevansi
  • 2 jenis kekeliruan relevansi
  • contoh relevansi
  • 13 jenis kekeliruan relevansi
  • contoh kasus kekeliruan relevansi argumentum ad hominem
  • contoh kekeliruan relevansi
  • jelaskan contoh kekeliruan relevansi jenis stroumen
  • contoh kekeliruan relevansi jenis straumen
  • contoh contoh kekeliruan relevansi
  • kasus kekeliruan relevansi

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • kekeliruan relevansi
  • 2 jenis kekeliruan relevansi
  • contoh relevansi
  • 13 jenis kekeliruan relevansi
  • contoh kasus kekeliruan relevansi argumentum ad hominem
  • contoh kekeliruan relevansi
  • jelaskan contoh kekeliruan relevansi jenis stroumen
  • contoh kekeliruan relevansi jenis straumen
  • contoh contoh kekeliruan relevansi
  • kasus kekeliruan relevansi