Advertisement

LONERGANISME

Inggris: disebut Lonerganism.

Advertisement

Lonerganisme merupakan pendekatan filosofis yang dikembangkan oleh Bernard J.F. Lonergan. Lonerganisme dapat dilukiskan sebagai suatu pendirian filosofis yang menuntut dari filsuf suatu self- ant tent ion (perhatian-diri) dalam dimensi-dimensi ilmiah. Dimensi-dimensi ilmiah dari usaha untuk mencapai self-attention paling baik dapat ditunjukkan dengan memperhatikan fakta bahwa prosedur yang diperlukan dapat ditentukan secara akurat sebagai metode empiris umum (generalized empirical method). Dalam metode empiris, subjek sang ilmuwan memberikan perhatian pada data mengenai hal-hal khusus, tanaman-tanaman misalnya. Si ilmuwan bertolak melalui eksperimen dan insight (pemahaman) menuju suatu pemahaman yang sudah dirumuskan tentang data tersebut. Ia mengadakan percobaan dengan tujuan memverifikasikan data tersebut. Prosedur metode empiris merupakan suatu proses spiral. Ia bergerak dari data melalui insight (pemahaman) menuju teori yang terverifikasikan (verified) yang lebih memadai.

Sedangkan dalam metode empiris umum, subyek memperlakukan kegiatan-kegiatannya sendiri yang dilakukan secara sadar sebagai data. Kegiatan-kegiatan ini berpusat pada kegiatan pemahaman. Si subjek berangkat dari eksperimen-eksperimen tentang insight (pemahaman) melalui insight tentang insight dan akhirnya tiba pada suatu perumusan yang lebih memadai tentang apa yang dipahami. Eksperimen-eksperimen tentang atensi demi insight atau pemahaman harus mencakup seluruh bidang di mana pemahaman beroperasi jikalau usaha itu mau menghasilkan sudut pandangan yang memadai. Karena itu, self-attention perlu dimasukkan bukan hanya dalam prosedur-prosedur elementer seperti pemecahan problem-problem geometri, melainkan juga dalam bidang kompleks pemahaman antarpribadi. Dalam bidang pemahaman antar-pribadi kita dapat meringkaskan kaidah pokok dialog dengan ungkapan be understanding (“pemahaman”).

Tetapi seseorang dapat mempertanyakan kemungkinan metode empiris umum. Karena, bukankah penelitian empiris dibatasi oleh keterarahan akal pada fantasma (data inderawi). Demikian pula insight adalah insight tentang fantasma. Dan, sejauh itu, insight tentang fantasma juga dapat menjadi data bagi penyelidikan empiris.

Selanjutnya, seseorang mungkin mengakui kemungkinan metode empiris umttm. Tetapi ia gagal mengakui dimensi-dimensi upaya tersebut. Kita kembali kepada analogi yang sudah diusulkan di atas. Metode empiris umum yang memperhatikan dan menggambarkan aneka jenis insight tidak lebih berhasil daripada biologi yang memperhatikan dan menggambarkan pelbagai jenis tumbuhan (tanaman). Dalam kedua hal ini seseorang baru berada pada awal. Namun di dalam kedua awal tersebut terdapat perbedaan nyata, Pemula dalam biologi bagi dirinya sendiri jelas demikian. Sebab, ada suatu ilmu biologi yang sangat maju yang tersedia dalam kebudayaan dan terhampar di hadapannya suatu pemahaman habitual yang diproyeksi. Sedangkan pemula dalam metode empiris umum tidak mempunyai evidensi hasil-hasil self-appropriation (apropriasi- diri) yang bersifat ilmiah dalam kebudayaan. Dan karenannya ia jarang menghargai dimensi-dimensi proyek pribadi. Maka, misalnya, pemula yang juga merupakan ahli fisika, dengan prinsip self- anttention yang metodologis, membuka kemungkinan pengorien- tasian kembali di dalam konteks horizon pribadi yang lebih luas dari self-possesion (pemilikan diri) yang bersifat kognitif. Pembicaraan kontemporer mengenai arti fisika biasanya terletak di luar horizon itu. Paling-paling pembicaraan itu merupakan deskripsi tentang insight-insight dan metode fisika. Dan kata “deskriptif” digunakan bagi tahap-tahap prosedur ilmiah yang mendahului eksplanasi (penjelasan) atau teori. Pembicaraan itu hanya berguna untuk membentangkan suatu kompleks problem metodologis fudamental mengenai realitas, tentang teori kuantum, tentang fisika statistis. Hanya pembicaraan yang diperantarai oleh self-possession (pemilikan- diri) kognitif dapat memecahkan permasalahan semacam ini secara memadai. Di sini seyogyanya dicatat perbedaan antara ilmu-ilmu seperti fisika atau biologi dengan ilmu-ilmu kemanusiaan. Tidak seperti fisika, suatu ilmu manusia secara intrinsik memberikan kontribusi kepada metode emperis umum. Karena objek ilmu manusia mempunyai pemahaman. Dan menghilangkan pemahaman terhadap pemahaman dari ilmu itu sama dengan memindahkan bagian sentral data kepada bidang deskripsi semata-mata. Karena itu, supaya memadai, ilmu manusia menuntut agar konteks self- appropriation (apropriasi-diri) itu diperluas sehingga mencakup ho¬rizon teologi dan iman.

Self-possesion (pemilikan diri) ilmiah bukan hanya menjembatani tranformasi ilmu melainkan juga kehidupan manusia. la bukan hanya menengahi transformasi pembicaraan para ahli fisika melainkan juga pembicaraan sosiabilitas yang merupakan suatu bentuk permainan manusia. Tetapi penengahan semacam ini mungkin hanya sejauh metode empiris umum itu menjadi suatu usaha bersama (communal undertaking). Dari sudut sejarah kiranya Aristoteles, Agustinus dan Aquinas – ketiganya memanfaatkan pemahaman introspektif. Tetapi tak seorang pun dari mereka mengangkat pemahaman instropektif pada tingkat teknik ilmiah yang dapat di- sediakan oleh kebudayaan. Selama abad lampau dalam filsafat subjek diri kian lama kian menjadi pusat perhatian pemikir. Namun lagi-lagi perhatian ini tidak dimekarkan menjadi suatu teknik ilmiah. Perhatian itu cenderung tetap bersifat estetis, dramatis. Sebaliknya, tehnik metode emperis umum, justru karena menjadi sangat intelektualis, mengalihkan pembicaraan filsuf kepada horizon (cakrawala) baru dan menjembatni (menengahi) suatu pembebasan yang estetis dan yang dramatis di dalam suatu kesadaran yang justru lebih differentiated (khas, unik, sudah mengalami diferensiasi). Sementara peralihan pembicaraan dan pembebasan jiwa dan diferensi kesadaran itu sebagian besar terletak di masa depan, struktur generik perlihan itu dapat diidentifikasikan dan unsur-unsur dasar tetap dari peralihan itu dapat dirumuskan. Struktur generik peralihan itu merupakan peralihan dari pemilikan kognitif dan afektif terhadap objek oleh subjek kepada suatu pemilikan diri (self-possesion) subjek. Karena itu self-possession (pemilikan diri) merupakan apa yang primer dalam subjek-subjek kekal pemahaman diri merupakan yang sekunder dalam subjek manusia. Dari sudut pandangan lain dapatlah dicatat bahwa peralihan itu berhubungan dengan dua jenis intelijibilitas yang berbeda. Pertama, ada intelijibilitas yang semata-mata dapat dimengerti (intelligible). Kedua ada intelijibilitas yang tidak saja dapat diinengerti tetapi juga intelijen. Apa yang semata-mata dapat dimengerti pada permulaannya secara alamiah termasuk keheranan manusia (human  wonder). Hanya yang kedua membuat keheranan subjek terpusat pada yang intelijibel (yang dapat dimengerti) yang juga intelijen – intelijensi subyek sendiri. Prosesi (procession) planet-planet merupakan objek penelitian yang tidak begitu sulit untuk dipahami dibanding- kan prosesi kata batin (procession of the inner word).

Pada pokoknya self-possession (pemilikan diri) dapat dicapai/dikejar secara memadai. Dengan perantaraan jawaban semacam ini bersama dengan usaha yang bersifat self-attentive (yang memperhatikan diri sendiri) arti pernyataan itu disingkapkan secara tematis kepada penanya. Pertanyaan ini mempunyai tujuan yang tidak terbatas dan beroperasi secara rapi. Struktur kognisi operatif yang rangkap tiga diwujudkan secara mendasar melalui self-appropnation (apropriasi-diri) terhadap struktur generik prosedur iJmu empiris. Yakni dari contoh-contoh ke teori, lalu dari teori ke verifikasi. Di pihak subjek terdapat suatu keheranan akan dua cara penyelidikan konsep dan penyelidikan putusan yang bersifat komplementer yang sepadan dengan orientasi data. Jelas yang sangat penting bagi apropriasi terhadap struktur itu adalah penghargaan terhadap cara di mana pemahaman langsung menjembatani konsepsi dan pemahaman reflektif menengahi putusan dan komitmen. Namun komitmen merupakan tahap keempat dari kesadaran. Dan ia tidak dapat kita bicarakan di sini. Begitu banyak pembicaraan filosofis kontemporer melupakan mediasi (penengahan) ini sehingga intelijibilitas dari emanasi yang intelijibel dari konsep dan putusan tidak dimasukan sebagai objek penelitian. Namun implisit di da- lam semua pembicaraan semacam ini adalah asumsi performatif yang implisit itu mendasari dialektika isi dan pelaksanaan. Inilah yang dapat membuat setiap pemikir sanggup untuk beralih kepada suatu horizon self-possession (pemilikan diri) kognitif.

Dialektika ini dapat diilustrasikan dalam kaitan dengan posisi dasar Lonerganisme tentang objektivitas dan tentang yang real. Yang real adalah apa yang dapat dicapai oleh pemahaman yang tepat. Sejaub posisi ini disanggah isi sanggahan itu bertentangan dengan argumen intelijen si penyanggah. Dialog tentang sanggahan (penyangkalan) mengandaikan bahwa pemahaman yang tepat adalah apa yang pada kenyataannya (sebenarnya) relevan. Yang menjacti pusat padangan kaum Lonerganis ialah kenyataan bahwa masalali penting adalah bukan apakah saya tahu melainkan apa yang ber- langsung manakala saya tahu. Juga ini bukan soal gerakan ke luar dari subjek, melainkan soal memahami dengan tepat gerakan dari pertanyaan murni kepada pengetahuan objektif tentang subjek atau objek.

Selafijutnya struktur ini mempunyai kompleksitas menyangkut suatu padangan dunia. Metode emperis umum secara isomorfis mendasari metafisika subjek, suatu struktur yang-ada yang heuristik integral, yang sebanding dan transenden. Metafisika itu mengandung afirmasi terhadap enam unsur pokok yang terdapat dalam yang-ada yang sebanding. Afirmasi ini menentukan suatu pembangkitan kembali, dengan pendekatan kognitif, konsep-konsep Aquinas; yaitu materi, forma dan esse. Dikatakan enam karena struktur kegiatan pengenalan beriapis tiga dan dua jenis what-in- sigt (insight-tentang-apa) serta insight yang berhubungan dengan gagasan tentang thing (benda, hal). What-insight menghasilkan ko- relasi-korelasi. Namun metafisika itu mempunyai suatu kompleksitas. Ia mempertimbangkan kumpulan peristiwa-peristiwa yang koinsidental, ilmu statistis, tingkatan genera dan species, perkembangan dan dialektika. Dengan demikian subjek mampu melihat suatu dunia yang mempunyai bentuk heuristik. Bentuk heuristik itu adalah probabilitas yang berurutan. Namun subjek dengan padangan semacam ini terhadap dunia, andaikata dari sudut psi- kologis ia utuh, sungguh-sungguh terbuka kepada pertanyaan- pertanyaan lebih daJam menyangkut fakta-fakta konkret sejarah. Pertanyaan yang tidak habis-habisnya melihat arti dunia sebagai religius.

Secara konkret, Lonergisme muncul dalam konteks teologis. Dari satu sisi orang dapat melacak pengaruh Newman dan Aquinas atas Lonergan. Dan dari pihak lain seseorang dapat menelusuri perlunya kebangkitan kembali metodologi teologi dalam konteks iman Lonergan. Dalam konteks yang lebih itu self-appropriation (apropriasi-diri) menjadi apropriasi subjek yang penuh-Iman (setia); konversi intelektual yang berkesinambungan melalui dialektika menjadi konversi religius yang terus menerus; teologi menjadi suatu refleksi atas konversi pribadi yang tetap tidak sempurna; ketidaktahuan (nescience) otentik menjadi pencairan (permohonan) yang penuh penyesalan akan simbiose rahmat dengan alam, melalui simbiose ini Allah menjadikan manusia baik memahami secara self-possessive maupun secara self -transcendent.

Advertisement