PENGERTIAN – ARTI POSITIVISME LOGIS

7 views

POSITIVISME LOGIS

Sejarah Munculnya

Positivisme logis (juga neo-positivisme, Lingkungan Wina) menyajikan suatu fusi dari tradisi empiris yang berasal dari Hume, Mill, dan Math, dengan logika simbolis sebagaimana ditafsirkan oleh L. Wittgenstein. Menurut teori ini, semua kalimat yang bermakna harus bersifat analitik maupun bersifat sintetik. Kalimat- kalimat analitik itu bisa betul (tautologi) dan bisa salah (kontradiksi) semata-mata karena bentuk logisnya dan tidak mengandung informasi faktual. Kalimat-kalimat sintetik, atau empiris, merupakan laporan tentang pengamatan indera atau pun generalisasi yang didasarkan pada pengamatan empiris. Kalimat-kalimat sintetik bermakna sejauh dapat diverifikasi. Pernyataan metafisik dan teologis tidak cocok dengan kedua kategori di atas dan dihilangkan karena merupakan pernyataan semu yang tak bermakna.

Rumusan asli ini (dari M. Schlick, R. Carnap, O. Neurath, dan lain-lain) lambat laun mengalami serangkaian modifikasi saat kekurangan-kekurangannya menjadi semakin jelas. Verifikasi, sebagai kriterium keberartian, secara berturut-turut dimodifikasi ke dalam verifikasi prinsip, konfirmabilitas, dan akhirnya desakan bahwa evidensi empiris harus memainkan suatu peranan yang berarti dalam penerimaan suatu pernyataan ilmiah. Pada saat yang sama basis faktual diperluas dari pencerapan-pencerapan ke laporan- laporan pengamatan, ke bahasa empiris.

Positivisme dewasa ini menjelaskan pengetahuan ilmiah berkenaan dengan tiga komponen: bahasa teoritis, bahasa observasional, dan kaidah-kaidah korespondensi yang mengaitkan keduanya. Te¬kanan positivistik menggarisbawahi penegasannya bahwa hanya bahasa observasional yang menyatakan informasi faktual, sementara pernyataan-pernyataan dalam bahasa teoritis tidak mempunyai arti faktual sampai pernyataan-pernyataan itu diterjemahkan ke dalam bahasa observasional dengan kaidah-kaidah korespondensi.

Kendati positivisme logis dikembangkan sebagai suatu basis interpretatif bagi ilmu-ilmu alam, ia sudah diperluas ke ilmu-ilmu manusia. Dalam psikologi ia menemukan pertalian alami dalam behaviourisme dan operasionalisme. Dalam etika (Ayer, Stevenson) ia berupaya menjelaskan makna dari pernyataan-pernyataan yang menyatakan kewajiban moral sehubungan dengan konotasi emotifnya. Dalam yurisprudensi, ketentuan-ketentuan dan larangan- larangan yang ditetapkan oleh suatu komunitas dilihat sebagai basis terakhir dari hukum. Dengan demikian ditolak pandangan akan hukum kodrat atau norma-norma trans-empiris, misalnya, imperatif kategoris Kant.

Pengertian

Positivisme Logis merupakan aliran pemikiran yang membatasi pikiran pada segala hal yang dapat dibuktikan dengan pengamatan atau pada analisis definisi dan relasi antara istilah-istilah. Tugas pertama dipersiapkan untuk ilmu dan yang kedua khusus untuk filsafat. Menurut Positivisme Logis, filsafat ilmu murni mungkin hanya sebagai suatu analisis logis tentang bahasa ilmu. Fungsi analisis ini, di satu pihak, mengurangi “metafisika” (yaitu, filsafat dalam arti tradisional), dan di lain pihak, meneliti struktur logis pengetahuan ilmiah. Penelitian ini bertujuan menentukan isi konsep-konsep dan pernyataan-pernyataan ilmiah yang dapat diverifikasi secara empiris.

Tujuan akhir diadakannya penelitian ini ialah untuk meng-organisasikan kembali pengetahuan ilmiah di dalam suatu sistem. Sistem ini dikenal sebagai “kesatuan ilmu”, yang akan menghilangkan perbedaan-perbedaan antara ilmu-ilmu yang terpisah — fisika, biologi, psikologi, sosiologi, dan seterusnya. Logika dan matematika dianggap sebagai ilmu-ilmu formal. Keduanya tidak dianggap sebagai pengetahuan tentang dunia, melainkan sebagai suatu koleksi pernyataan “analitis” yang merumuskan aturan-aturan transformasi formal yang disepakati.

Beberapa Ajaran Pokok

Beberapa ajaran pokok positivisme logis dapat dirinci sebagai berikut:

1. Penerimaan prinsip verifiabilitas, yang merupakan kriteria untuk menentukan bahwa suatu pernyataan mempunyai arti kognitif. Arti kognitif suatu pernyataan (sebagaimana dipertentangkan dengan aspek emotif atau aspek lain dari arti) tergantung pada apakah pernyataan itu dapat diverifikasi atau tidak. Suatu pernyataan berarti/bermakna kalau dan hanya kalau, paling sedikit pada prinsipnya, secara empiris dapat diverifikasi. Suatu pengalaman inderawi dasariah (pengetahuan positif) harus dicapai sebelum suatu pernyataan dapat memiliki arti kognitif.

2. Semua pernyataan dalam matematika dan logika bersifat analitis (tautologi) dan benar per definisi. Pernyataan-pernyataan itu secara niscaya merupakan pernyataan benar yang berguna dalam menyelenggarakan pernyataan yang berarti/bermakna secara kognitif. Konsep-konsep matematika dan logika tidak diverifikasi tetapi merupakan kesepakatan definisional yang diterapkan pada realitas.

3. Metode ilmiah merupakan sumber pengetahuan satu-satunya yang tepat tentang realitas. (Ada upaya untuk menyusun suatu sistem yang menyeluruh dari semua ilmu pengetahuan di bawah suatu metodologi logiko-matematik-eksperiensial.)

4. Filsafat merupakan analisis dan klarifikasi makna dengan logika dan metode ilmiah. (Beberapa ahli positivisme logis berupaya untuk menghilangkan semua filsafat yang tidak tersusun sebagaimana ilmu-ilmu logiko-matematik.)

5. Bahasa pada hakikatnya merupakan suatu kalkulus. Dengan formalisasi bahasa dapat ditangani sebagai suatu kalkulus a) dalam memecahkan masalah-masalah filosofis (atau memperlihatkan yang mana dari masalah-masalah itu merupakan hal semu), dan b) dalam menjelaskan dasar-dasar ilmu. Kaum positivis dan empiris logis telah melakukan usaha untuk menyusun bahasa artifisial, serta secara formal sempurna bagi filsafat agar memperoleh dayaguna, ketepatan, dan kelengkapan ilmu- ilmu fisika.

6. Pernyataan-pernyataan metafisik tidak bermakna. Pernyataan- pernyataan itu tidak dapat diverifikasi secara empiris dan bukan tautologi yang berguna. Tidak ada cara yang mungkin untuk menentukan kebenarannya (atau kesalahannya) dengan mengacu pada pengalaman. Tidak ada pengalaman yang mungkin yang pernah dapat mendukung pertanyaan-pernyataan me¬tafisik seperti: “Yang Tiada itu sendiri tiada” (The Nothing itself nothings — Das Nichts selbst nichtet, Martin Heidegger), “Yang Mutlak mengatasi Waktu”, “Allah adalah Sempurna”, “Ada Murni tidak mempunyai ciri”. Pernyataan-pernyataan metafisik adalah pernyataan semu. Metafisika berisi ucapan-ucapan yang tak bermakna.

7. Dalam bentuk positivisme ekstrim: pernyataan-pernyataan tentang eksistensi dunia luar dan pikiran luar yang bebas dari pikiran kita sendiri, dianggap tidak bermakna karena tidak ada cara empiris untuk mengadakan verifikasi terhadapnya.

8. Penerimaan terhadap suatu teori emotif dalam aksiologi. Nilai- nilai tidak ada secara tidak tergantung pada kemampuan manusia untuk menetapkan nilai-nilai. Nilai-nilai tidak merupakan objek-objek di dunia, tidak dapat ditemukan dengan percobaan, tidak dapat diperiksa, atau dialami sebagaimana kita mengalami atau mengadakan verifikasi terhadap eksistensi objek-objek. Nilai-nilai tidak absolut. Pernyataan mengenainya bukan pernyataan empiris. “Pembunuhan jahat”, “Aborsi salah”, “Kau jangan mencuri”, “Arca itu indah”, semuanya merupakan pernyataan yang sama sekali tidak mengandung isi empiris atau deskriptif. Pernyataan-pernyataan jenis itu hanya menyatakan sikap, pilihan, perasaan, keyakinan, persyaratan tentang pembunuhan, aborsi, pencurian, keindahan. Pernyataan itu tidak secara langsung mengkomunikasikan fakta-fakta atau informasi atau pengetahuan kognitif, dan hanya menunjukkan hal-hal seperti: persetujuan kita, ketidaksetujuan kita, penerimaan, tidak adanya penerimaan, keterikatan atau ketidakterikatan kita untuk hal-hal tertentu.

Peranan A. Comte

Peranan A. Comte (1798— 1857) sangat penting dalam aliran positivistis. Istilah “positivisme” ia populerkan. Ia menjelaskan perkembangan pemikiran manusia dalam kerangka tiga tahap. Pertama, tahap teologis. Di sini, peristiwa-peristiwa dalam alam dijelaskan dengan istilah-istilah kehendak atau tingkah dewa-dewi. Kedua, tahap metafisik. Di sini, peristiwa-peristiwa tersebut dijelaskan melalui hukum-hukum umum tentang alam. Dan ketiga, tahap positif. Di sini, peristiwa-peristiwa tersebut dijelaskan secara ilmiah.

Upaya-upaya kaum positivis untuk mentransformasikan positivis¬me menjadi semacam “agama baru”, cenderung mendiskreditkan pandangan-pandangannya. Tetapi tekanan pada fakta-fakta, identi¬fikasi atas fakta-fakta dengan pengamatan-pengamatan indera, dan upaya untuk menjelaskan hukum-hukum umum dengan induksi berdasarkan fakta, diterima dan, dengan cara-cara berbeda, di- perluas oleh J.S. MUI (1806- 1873), E Mach (1838-1916), K. Pierson (1857- 1936) dan P. Bridgeman (1882- 1961).

 

Beberapa Ajaran Pokok Comte

1. Hukum Tiga Tahap (The Law of Three Stages). Sejarah pemikiran dapat dilihat sebagai evolusi yang tak terhindarkan, yang terdiri dari tiga tahap utama:

a) tahap teologis: selama tahap ini yang dominan adalah penjelasan-penjelasan antropomorfis dan animistis mengenai realitas yang berkaitan dengan kehendak (ego, roh, jiwa) yang memiliki dorongan, hasrat, kebutuhan;

b) tahap metafisik: selama tahap ini kehendak dari tahap pertama didepersonalisasi, dijadikan abstraksi dan diperbendakan sebagai entitas seperti: kekuatan, sebab, esensi; dan

c) tahap positif: dalam tahap ini bentuk pengetahuan tertinggi dicapai dengan melukiskan hubungan-hubungan di antara gejala-gejala dengan peristilahan seperti: suksesi, keserupaan, koeksistensi. Tahap positif dicirikan, dalam penjelasannya, dengan matematika, logika, pengamatan, percobaan, kontrol.

Setiap tahap perkembangan pikiran ini mempunyai korelasi sosial, ekonomi dan kultural yang berkaitan. Tahap teologis pada hakikatnya otoriter dan militeristik. Tahap metafisik pada prinsipnya bersifat legal dan amat terkait dengan institusi keagamaan. Sedangkan tahap positif merupakan tahap yang ditandai oleh kegiatan teknologis dan industrial. Sebagaimana tahap-tahap ini berubah demikian juga segi-segi korelasinya.

2. Kemajuan, penyempurnaan lingkaran evolusioner Tiga Tahap, tidak dapat dielakkan.

3. Ilmu-ilmu merupakan kesatuan menyeluruh, tetapi dalam tahap- tahap yang berbeda dari perkembangan itu. Ilmu-ilmu itu juga terkait dalam suatu tata ketergantungan yang hierarkis; misalnya, astronomi harus berkembang sebelum fisika dapat menjadi suatu cabang ilmu pengetahuan dengan haknya sendiri; biologi harus mencapai suatu titik kecanggihan tertentu sebelum ilmu kimia dapat memulai perkembangannya.

4. Realitas dapat dimengerti berkat konsep dasar seperti: kesatuan organis, tata, kemajuan, suksesi, keserupaan, relasi, kegunaan, realitas, gerakan, pengarahan.

5. Bentuk tertinggi agama dalam evolusinya ialah agama kemanusiaan atau rasio universal (sama sekali tanpa kaitan dengar Allah).

Incoming search terms:

  • pengertian logis
  • positivisme logis
  • pengertian positivisme logis
  • aliran positivisme logis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *