Advertisement

Positivisme Moral

Positivisme Moral menegaskan bahwa nilai-nilai didasarkan pada kebudayaan dan perkembangannya sesuai dengan variasi-variasi waktu dan tempat. Karena itu kebaikan atau nilai moral kegiatan manusia tidak terikat secara niscaya dan secara tidak berubah dengan hakikat pribadi manusia, tetapi sama sekali tunduk kepada semua variasi yang mungkin. Akibatnya, hukum moral juga bukan tidak dapat berubah. Hal yang sama harus dikatakan tentang putusan-nilai yang tercermin dalam semangat orang dan kebudayaan-kebudayaan yang berbeda (relativisme moral).

Advertisement

Bukti utama bagi positivisme moral adalah kesaksian sejarah. Setiap bangsa dan setiap kebudayaan mengembangkan nilai-nilai moralnya sendiri dan nilai-nilai ini sering ditemukan bertentangan. Apa yang sebelumnya diperbolehkan seakan pada suatu generasi kemudian menjadi lebih kurang mendapat penghargaan dari ma¬nusia atau malah bersifat tidak sopan. Selanjutnya, prinsip dasar evolusi bekerja di sini: Tidak ada teori moral yang sempurna, lengkap, yang seakan-akan jatuh dari langit. Prinsip-prinsip moral yang dapat ditetapkan atas dasar pengalaman (empirisme moral) berkembang dari bentuk-bentuk primitif, misalnya, seperti bahasa dan aspek-aspek lain kebudayaan manusia (evolusionisme moral). Positivisme moral teonom yang dikembangkan Ockham dan lain-lain mengasalkan nilai moral bukan dari hakikat manusia yang tidak berubah, tetapi dari kehendak bebas Allah, yang karenanya, dalam tata benda-benda lainnya yang dapat dimengerti, dapat mengijinkan tindakan-tindakan yang dalam tata dewasa ini bersifat imoral, misalnya, berbohong. Kemudian Ockham menghilangkan cinta Allah dari positivisme moralnya.

Keberatan terhadap Positivisme

1. Terhadap positivisme pada umumnya. Keterbatasan-keter¬batasan filosofis dari positivisme dan kesulitan-kesulitan intrinsik yang terkandung dalam rumusan-rumusannya, telah menimbulkan suatu reaksi yang semakin berkembang terhadap positivisme logis. Bahkan reaksi itu terdapat di antara para filsuf yang berorientasi empiris. Ketidakmampuan logisnya untuk memberikan suatu status realistik kepada beberapa entitas yang nama- namanya tidak merupakan suatu bagian yang tepat dari bahasa observasional, mengharuskan adanya penjelasan tentang elektron-elektron, gen-gen, dan sebagainya, sebagai bangun-bangun teoritis yang bermakna ketimbang entitas-entitas yang real.

Ide bahwa laporan-laporan pengamatan semata-mata menyatakan hal tertentu dari pengalaman langsung, bersandar pada suatu realisme naif yang cepat atau lambat merusakkan analisis linguistik maupun analisis fenomenologis. Pembedaan-pembedaan tajam yang didalilkan antara pernyataan-pernyataan analitik dan faktual, proposisi-proposisi a priori dan a posteriori, pernyataan-pernyataan yang niscaya dan kontigen, dan istilah-istilah teoritis dan observasional, tidak cocok dengan penggunaan aktual bahasa biasa dan bahasa ilmiah. Namun demikian, dikotomi-dikotomi tajam ini memainkan peranan hakiki sebagai penyangkalan terhadap teologi dan metafisika.

Bagaimanapun juga, positivisme sungguh-sungguh meriipunyai andil dalam menekankan peranan struktur logis dalam penjelasan ilmiah dan arti penting dari konfirmasi empiris dalam penerimaan hukum-hukum dan teori-teori ilmiah. Ia juga mengangkat pertanyaan-pertanyaan dan merumuskan masalah-masalah yang harus dijawab oleh uraian-uraian yang lebih memadai dari penjelasan ilmiah.

2. Terhadap positivisme moral. Perlu diajukan kritik terhadap pendapat-pendapat di atas. Perbedaan yang jelas dari kebaikan dan kejahatan tidak pernah dapat dicapai melalui pengalaman eksternal semata-mata, karena pengalaman inderawi mengatakan kepada manusia hanya apa yang ada dan bukan apa yang seharusnya ada. Pengetahuan trans-empiris metafisik sudah bekerja dalam suatu pribadi ketika, sebagai seorang pemuda, dia mulai membuat putusan-nilai moral dan mengenal hukum moral. Pengetahuan ini merupakan konsepsi tentang pribadi manusia sebagai roh yang terbatas dalam materi yang pada dasarnya terbuka bagi semua yang ada.

Etnologi memperlihatkan bahwa terdapat suatu kesepakatan dasar tertentu di antara semua bangsa di bumi menyangkut syarat-syarat pokok dari hukum moral. Kekeliruan-kekeliruan dalam hal ini, kadang-kadang kekeliruan yang sangat dasariah, disebabkan penerapan salah prinsip-prinsip utama moralitas dalam hal-hal kongkrit. Juga terdapat variasi-variasi yang dibenarkan dalam syarat-syarat moral yang lebih khusus, misalnya, dalam sikap-sikap yang berbeda terhadap kesopanan berpakaian, dalam aturan tentang etiket atau perilaku yang baik, dan sebagainya. Dalam membuktikan Ockham salah, harus dikatakan bahwa kehendak Allah tidak merupakan tingkah yang berubah- ubah karena kehendak Allah identik dengan kebijaksanaan dari kehendak suci Allah yang tidak berubah.

Advertisement