PENGERTIAN – ARTI POSITIVISME

7 views

POSITIVISME

Inggris: positivism’, dari bahasa Latin positivus, poriere yang berarti meletakkan.

Pengertian

Positivisme sekarang merupakan suatu istilah umum untuk posisi filosofis yang menekankan aspek faktual pengetahuan, khususnya pengetahuan ilmiah. Dan umumnya positivisme berupaya menjabarkan pernyataan-pernyataan faktual pada suatu landasan pencerapan (sensasi). Atau, dengan kata lain, positivisme merupakan suatu aliran filsafat yang menyatakan ilmu-ilmu alam (empiris) sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak nilai kognitif dari studi filosofis atau metafisik.

Positivisme dan Aliran Lain

Positivisme tampil sebagai jawaban terhadap ketidakmampuan filsafat spekulatif (misalnya, Idealisme Jerman Klasik) untuk memecahkan masalah filosofis yang muncul sebagai suatu akibat dari perkembangan ilmu. Kaum positivis menolak spekulasi teoritis sebagai suatu sarana untuk memperoleh pengetahuan. Positivisme menyatakan salah dan tak bermakna semua masalah, konsep dan proposisi dari filsafat tradisional tentang ada, substansi, sebab, dan sebagainya, yang tidak dapat dipecahkan atau diverifikasi oleh pengalaman yang berkaitan dengan suatu tingkat yang tinggi dari alam abstrak. Ia menyatakan dirinya sebagai suatu filsafat non-metafisik, yang sama sekali baru, yang dibentuk berdasarkan ilmu-ilmu empiris dan menyediakan metodologi bagi ilmu-ilmu tersebut.

Pada hakikatnya, positivisme merupakan empirisme, yang dalam segi-segi tertentu sampai kepada kesimpulan logis ekstrim: karena pengetahuan apa saja merupakan pengetahuan empiris dalam satu atau lain bentuk, maka tidak ada spekulasi dapat menjadi pengetahuan. Positivisme tidak luput dari nasib filsafat tradisional. Karena, proposisi-proposisinya sendiri (penolakan spekulasi, fenomenalisme, dan sebagainya) beralih menjadi tidak dapat diverifikasi dengan pengalaman dan, akibatnya bersifat metafisik.

Aliran filsafat ini ditandai dengan pendewaan ilmu dan metode ilmiah. Pada versi-versi awalnya, metode-metode ilmiah dianggap berpotensi tidak saja memperbarui filsafat, tetapi juga masyarakat. Versi-versi yang kemudian berpusat pada pembaruan filsafat.

1. Istilah ini diperkenalkan oleh Saint-Simon. Menurutnya, implikasi-implikasi filsafat positif mencakup, pembaruan-pembaruan politik, pendidikan, dan agama.

2. Comte, yang mempopulerkan dan mensistematisir penggunaan istilah “positivisme” dan istilah “filsafat positif”, adalah mahasiswa dan rekan kerja Saint-Simon selama tujuh tahun. Comte mengutarakan bahwa masyarakat berkembang dari tahap teologis, lewat tahap metafisis ke tahap ilmiah, di mana filsafat positif dominan.

3. Istilah “filsafat positif” dipakai pula oleh Schelling. Ia menggunakannya untuk membedakan tahap akhir filsafatnya dari tahap sebelumnya, yang menurutnya sebagian besar negatif dan kritis. Karena tahap akhir ini mengakui kesahihan filosofis dalam pengalaman keagamaan dan mitologi, penggunaan Schelling terhadap istilah ini berbeda sekali dari penggunaan Saint-Simon dan Comte, yang hampir merupakan lawan kutubnya. Dan sekalipun Schelling menggunakan istilah ini pertama kali dalam kuliah maupun manuskripnya, namun materi dari tahap pemikirannya ini diterbitkan secara anumerta.

4. Taine, bersama dengan Littre, merupakan corong positivisme Comtian dalam paruh kedua abad ke-19-

5. Sejumlah jenis penggunaan lainnya dapat disebutkan. Vaihinger, yang bekerja berdasarkan doktrin Kant tentang ide-ide regulatif, menamakan pandangannya sendiri Positivisme Idealistik. Namun begitu, pandangannya biasanya disebut Fiksionalisme.

6. Korn menerapkan ide positivisme di Argentina. Dalam pengalaman Argentina setelah kemerdekaan ia menemukan bentuk asli positivisme.

7. Petzoldt, yang dipengaruhi oleh ajaran Avenarius tentang pengalaman, seraya menekankan ketergantungan fungsional, menamakan posisinya Positivisme Relativistik.

8. Positivisme berkembang luar biasa di tangan kaum Positivis Logis Lingkungan Wina. Pengaruh kelompok ini, yang salah satu wakilnya adalah Schlick, sedemiki.in hebat sehingga sekarang ini Positivisme biasanya menunjuk pada Positivisme Logis.

9. Ayer, yang memikirkan kriteria verifiabilitas makna, yang didukung oleh kaum positivis, melalui s< lilinlah revisi, merupakan pendukung Positivisme Logis Inggris yang paling teguh.

10. Bergmann, positivis lulusan Lingkung.hi Wina, mengetengahkan bahwa semua positivis entah matciiiilis atau fenomenalis.

Tiga Tahap

Secara historis, terdapat tiga tahap dalam pnkembangan positivis¬me.

1. Para pendukung positivisme pertama ialah Comte, E. Littre, dan R Laffitte (Perancis), J.S. Mill dan Spencer (Inggris). Di samping masalah-masalah tentang teori pengetahuan (Comte) dan Logika (Mill), tempat utama dalam positivisme pertama diberikan pada sosiologi.

2. Munculnya tahap kedua dalam positivism empirio-positivisme berawal pada tahun 1870-1890-an dan berpautan dengan Mach dan Avenarius. Keduanya meninggalkan pengetahuan formal tentang objek-objek nyata objckul, yang merupakan suatu ciri positivisme awal. Dalam Mat hisine, masalah-masalah pengenalan ditafsirkan dari sudut pandang psikologisme ekstrim, yang bergabung dengan subjektivisme.

3. Kebangkitan dan pembentukan positivisme terakhir, atau neopositivisme berkaitan dengan kegiatan Lingkaran Wina (O. Neurath, Carnap, Schlick, Frank dan lain-lain) dan kegiatan dari Masyarakat Filsafat Ilmiah Berlin (Reichenbach dan lain-lain). Kedua kelompok ini menggabungkan sejumlah aliran: atomisme logis, positivisme logis, serta semantika (dekat dengan aliran-aliran ini ialah operasionalisme dan pragmatisme). Tempat utama dalam positivisme tahap ketiga diambil oleh masalah-masalah filosofis tentang bahasa, logika simbolis, struktur penyelidikan ilmiah, dan lain-lain. Setelah meninggalkan psikologisme, para pendukung positivisme terakhir ini mengambil jalan damai antara logika ilmu dengan matematika, serta jalan formalisasi masalah-masalah epistemologis.

Incoming search terms:

  • apa yang dengab positivisme
  • pengertian positifisme

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *