Advertisement

PRAANDAIAN

Inggris: presupposition; dari Latin prae (sebelum) sub (di bawah), dan ponere (meletakkan).

Advertisement

Beberapa Pengertian

1. Suatu asumsi implisit atau eksplisit yang dibuat dalam kegiatan menyimak sesuatu atau dalam proses kesimpulan.

2. Apa yang harus diandaikan supaya sampai pada kesimpular. yang diinginkan.

3. Prakiraan. Apa yang dapat diandaikan secara masuk akal padi pemeriksaan keadaan sekitar atau fakta-fakta.

Praandaian (presuposisi) dalam arti sempit (praandaian logis) secara harfiah merupakan suatu “posisi” (pendapat) yans diambil “sebelum” adanya proses berpikir yang akan berlangsung di sini dan sekarang. Presuposisi merupakan proposisi (pernyataan! yang digunakan dalam demonstrasi (pembuktian) sebagai suati premis, tanpa terbukti sendiri (paling tidak untuk sementara! Bagaimana pun juga, presuposisi/praandaian seringkah dipahami dalam arti yang luas. Dengan demikian, presuposisi diterapkan pada setiap keyakinan, sikap mental atau bahkan situasi eksternal yang secara historis dan psikologis mempengaruhi penciptaan ide-ide baru, keyakinan-keyakinan dan gerakan-gerakan intelek¬tual baru. Karena, hal yang baru tidak pernah mulai seakan-akan dalam suatu vakuum atau tanpa anteseden mutlak.

Berkaitan dengan itu, tuntutan bagi suatu permulaan tanpa praandaian, bagi suatu ilmu yang tanpa praandaian, dapat memiliki arti ganda. Dalam arti sempit, ini berarti bahwa ilmu harus membentuk masing-masing satu dari prinsip-prinsipnya dan seharusnya tidak menerima segala sesuatu yang lak teruji. Tentunya ini tidak berarti bahwa ilmu hums “membuktikan setiap prinsip (lihat Prinsip alasan yang mencukupi). Tetap mereka yang menuntut tidak-adanya-pra-andaian” dalam art “cita-cita ilmu yang liberal”, memiliki suatu pemahaman yanj berbeda atas kata “praandaian”. Mereka mengatakan bahwa ilmi tidak boleh mendapat pengaruh dari arah apa pun juga yanj bukan arah dari hakikat intelektual. Di atas semuanya, merek; menghendaki untuk melepaskan ilmu dari pengaruh imar religius mana pun juga. Pandangan ini bersandar pada evaluas pemikiran dan riset yang berat sebelah sebagai sesuatu yang ada demi kepentingannya sendiri (Rasionalisme). Pandangan in gagal melihat bahwa ilmu dapat berhasil hanya kalau ilmu iti melestarikan kesadaran akan peranan parsial dan peranan yang melayani yang diperankannya dalam seluruh kehidupan manusi  kehidupan yang terarah kepada tujuan-tujuan abadi.

Dewasa ini terdapat bahaya lebih besar sehingga, dalam pengertian filsafat kehidupan irasional atau dalam pengertian pragmatisme, para pemikir melupakan pernyataan yang sungguh-sungguh, yang ada di belakang tuntutan bagi “tidak-adanya-praandaian” (presuppositionlessness) dalam ilmu. Karena didesak untuk membuat keputusan sehari-hari, maka tentunya manusia tidak dapat menunggu sampai ilmu memberikannya kepastian resmi tentang segala sesuatu. Dia harus mendasarkan dirinya secara berulangkali pada kepastian-kepastian pra-ilmiah, serta alamiah, meskipun kepastian-kepastian ini tidak sama sekali buta. Adalah sangat tepat bahwa ilmu yang nyata, kalau ia mau menghindari perangkap relativisme, tidak dapat didirikan atas landasan perasaan sentimental, tetapi ia harus menuntut suatu pendasaran dalam objek itu sendiri. Tentunya, ilmu khusus tidak dapat melepaskan dasar itu tanpa beberapa praandaian logis. Tugas filsafatlah, khususnya metafisika dan teori pengetahuan, untuk memeriksa dasar terakhir yang diandaikan setiap ilmu. Hanya metafisika dapat maju tanpa praandaian- praandaian ini, dan itu pun hanya dalam arti “tidak-adanya- praandaian” (presuppositionlessness) logis. Meskipun begitu, demi alasan-alasan metodologis, seringkah dianjurkan (bahkan dalam hal penyelidikan partikular) untuk membatasi jumlah praandaian sedapat mungkin.

Advertisement