Advertisement

PRAGMATISME

Inggris: pragmatism.

Advertisement

Aliran yang tersebar luas dalam filsafat modern. Pragmatisme merupakan inti filsafat pragmatik dan menentukan nilai pengetahuan berdasarkan kegunaan praktisnya. Kegunaan praktis bukan pengakuan kebenaran objektif dengan kriterium praktik, tetapi apa yang memenuhi kepentingan-kepentingan subjektif individu.

Beberapa Pandangan Dasar

1. Pengetahuan berasal dari pengalaman, metode-metode eksperimental dan usaha-usaha praktis. Pragmatisme kritis terhadap spekulasi metafisik dalam meraih kebenaran.

2. Pengetahuan harus digunakan untuk memecahkan masalah- masalah setiap hari, masalah-masalah praktis membantu kita beradaptasi dengan lingkungan kita. Pemikiran harus berhubungan dengan praktek dan aksi.

3. Kebenaran dan arti gagasan-gagasan harus dikaitkan dengan konsekuensi-konsekuensinya (hasil, penggunaan). Gagasan-gagasan merupakan pedoman bagi aksi positif dan bagi rekonstruksi kreatif atas pengalaman dalam berhadapan dan penyesuaian dengan pengalaman-pengalaman baru.

4. Kebenaran adalah apa yang bernilai praktis dalam pengalaman hidup kita. Ia bertindak sebagai instrumen, atau sasaran, a) dalam pencapaian tujuan-tujuan kita dan b) dalam kemampuan kita untuk meramalkan dan menyusun masa depan bagi penggunaan kita.

5. Kebenaran itu berubah, bersifat tentatif, dan asimtotis.

6. Arti gagasan (teori, konsep, keyakinan) sama dengan a) kegunaan praktis yang dapat diberikan oleh gagasan itu dan b) konsekuensi yang berasal dari gagasan itu.

Dalam menjelaskan realitas, pragmatisme mengambil pendirian “empirisme radikal”, yang berkaitan erat dengan empirio- kritisisme. Dalam pragmatisme, realitas objektif diidentikkan dengan “pengalaman”. Dan pembagian pengetahuan ke dalam subjek dan objek hanya dilakukan di dalam pengalaman.

Dalam logika, pragmatisme sampai pada irasionalisme: Hal ini nampak jelas dalam karya-karya James, dan secara tersirat dalam karya-karya Dewey. Pragmatisme menganggap hukum-hukum dan bentuk-bentuk logika sebagai fiksi-fiksi yang ber-guna.

Dalam etika, pragmatisme menganut meliorisme. Yaitu, pandangan tentang peningkatan secara bertingkat dari tatanan yang ada. Sementara dalam sosiologi, ia melebar dari “kultus individu” (James) dan pembelaan terhadap demokrasi (Dewey) sampai kegiatan meningkatkan pertahanan terhadap rasisme dan fasisme (F.C.S. Shiller).

Sejarah Perkembangan

Suatu gerakan filsafat abad ke-19 dan ke-20, yang menekankan interpretasi ide-ide melalui konsekuensi-konsekuensinya.

1. Istilah ini diangkat dari Kant oleh C.S. Peirce. Kant membe¬dakan yang praktis — yang berkaitan dengan kehendak dan tindakan — dari yang pragmatik — yang bertalian dengan akibat-akibat. Peirce mengasalkan teori makna dari ide ini. Kriteria makna adalah prinsip pragmatik: “Simaklah apa akibat-akibat yang mungkin mempunyai sangkut-paut praktis yang dapat dibayangkan, maka kita membayangkan objek yang akan dimiliki oleh konsepsi kita. Nah, konsepsi kita tentang akibat-akibat ini merupakan keseluruhan konsepsi kita tentang objek itu”. Dia menjadikan teori ini sentral filsafatnya.

2. William James menyatakan prinsip itu secara lebih luas: “Makna proposisi selalu dapat lahir dari suatu akibat tertentu dalam pengalaman tertentu kita pada masa mendatang, entah pasif atau aktif”. Dalam penerapan James, jelaslah bahwa kriteria itu diterapkan pada kebenaran maupun makna, yang sanggup setidaknya untuk menghapuskan beberapa hipotesis.

3. Royce menamakan sistemnya, dalam tahap-tahap terakhir, Pragmatisme Absolut.

4. Di Italia, Giovanni Panini mengangkat “teori koridor” pragmatisme, yang mengabadikan prinsip toleransi yang mengatakan bahwa para filsuf dapat menganut teori-teori yang bertolak belakang yang, meskipun begitu, semuanya lulus tes kriteria pragmatisme.

5. Le Roy di Perancis memberikan penafsiran pragmatik baik terhadap doktrin ilmiah maupun religius.

6. F.C.S. Schiller membeberkan suatu pragmatisme versi Inggris, yang lebih dekat kepada pandangan James daripada Peirce, dan mungkin lebih relativistik dibandingkan dengan pragmatisme William James. Menurut Schiller realitas dan kebenaran merupakan rekaan manusia, setidaknya sebagian.

7. G.H. Mead menekankan keunggulan pemikiran dalam konteks biologis dan sosial dan sekarang.

8. John Dewey, yang menuntut rekonstruksi dalam filsafat, mengubah Pragmatisme menjadi Instrumentalisme, dan kebenaran menjadi “warranted assertability”, seraya mengembangkan teori penelitian menyeluruh, berdasarkan kriteria penyesuaian praktis dan teoritis.

9- C.I. Lewis menggambarkan pandangannya sendiri sebagai Pragmatisme Konseptualistik, atas dasar bahwa pikiran memasok kategori, konsep, dan prinsip penataan pengalaman.

10. Ernest Nagel dipengaruhi baik oleh Peirce maupun Dewey. Pandangan Peirce atas penelitian sebagai koreksi-diri, dan Instrumentalisme Dewey, sangat erat kaitannya dengan naturalisme pragmatik yang dianutnya.

11. W V Quine, yang menolak pembedaan analitik-sintetik, berkata bahwa skema konseptual ilmu dapat disesuaikan dengan pengalaman yang berbeda-beda dengan banyak cara. Dan satu-satunya tuntutan ialah bahwa skema itu harus disesuaikan secara pragmatis.

Incoming search terms:

  • pengertian pragmatisme
  • arti pragmatisme
  • pragmatis
  • pengertian pragmatis

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian pragmatisme
  • arti pragmatisme
  • pragmatis
  • pengertian pragmatis