Advertisement

PRIBADI

Inggris: person-, dalam bahasa Latin persona (topeng, kedok aktor; karakter yang diperankan)

Advertisement

Beberapa Pengertian

1. Sesuatu yang diterima sebagai asal ciri-ciri mental maupun ciri-ciri jasmani.

2. Kesatuan tindakan jasmani dan mental dalam aktivitas.

3. Bentuk jasmani, atau penampilan lahiriah manusia.

4. Diri yang real dan sejati dari manusia.

Pribadi dan Individu

Pribadi adalah nama untuk individu dalam tatanan rohani. Ia merupakan sesuatu yang individual, dianugerahi dengan kodrat rohani yang tak dapat dikomunikasikan. Sesuatu yang berdiri sendiri. Dalam dunia yang kelihatan ini, hanya manusia sajalah sebagai pribadi. Pribadi ditandakan dengan nama dirinya sendiri dan tampil sebagai subjek dari semua pernyataan dan sebagai pembawa semua atribut. Misalnya: Achmad seorang manusia, ia seorang artis, ia sehat, dan sebagainya. Dalam bahasa Latin dipakai kata suppositurn yang berarti ditempatkan di bawah dan dalam bahasa Yunani hypostase yang berarti berdiri di bawah. Maksudnya, pribadi merupakan nama yang mendukung semua pernyataan dan sifat-sifat yang diterapkan pada seseorang. Hanya kemampuan untuk sadar-diri (bersifat rohani) dan penentuan diri termasuk secara hakiki dalam ide pribadi. Tidak perlu perwujudan aktual dari kemampuan ini. Jadi, seorang anak yang belum lahir juga seorang pribadi.

Manusia selalu sadar akan harkat pribadi yang tiada taranya. Pribadi mempunyai nasib dan tujuan unik mutlak yang mengungguli dan mengatasi kepentingan spesies atau masyarakat. Keunggulan ini menampakkan diri teristimewa dalam kebebasan pribadi. Dengan kebebasan itu ia menentukan jalannya tanpa terikat kepada hukum kelompok (spesies) dengan keharusan yang tak terelakkan. Hal itu tampak dalam imortalitas pribadi yang dengannya ia mengejar kesempurnaan yang terbuka kepadanya saja. Karena itu, seorang pribadi hendaknya jangan pernah digunakan sebagai barang, semata-mata sebagai alat untuk suatu tujuan. Demi memelihara harkat pribadi, seorang pribadi harus juga memberikan sumbangan kepada masyarakat, ia dapat diminta untuk berkorban, bahkan mempersembahkan hidupnya sendiri.

Beberapa Pandangan

1. Dalam sejarah, agama Kristen mempertahankan martabat pribadi manusia yang tidak boleh diperkosa. Agama Kristen mempertahankan harkat dan martabat pribadi seseorang dengan menekankan kodrat rohaninya dengan kebebasan dan keabadiannya. Sebaliknya, terpengaruh oleh Budhisme, Schopenhauer melihat dalam individu, penderitaan yang mendasar yang menuntut keselamatan, pembebasan. Kebebasan diperoleh kalau ia melebur dalam semua.

2. Meneruskan perkembangan sejak Parmenides sampai Plato dalam pola yang ekstrim, Hegel cenderung meredusir pribadi sebagai momen yang dilewati menuju kepada Ide Mutlak. Inilah dasar dari kecenderungan kolektivistis dari materialisme dialektis. Sementara di satu pihak pribadi dikorbankan demi kelompok, tetapi di pihak lain, kelompok mencair tanpa bekas. Pribadi ditempatkan sendirian dan tanpa bantuan dari luar dan demikian jalan terbuka karena pengaruh-pengaruh konseptualisme, kepada individualisme. Dalam filsafat Nietzsche kita menemukan garis kolektivistis maupun individualistis, tergantung apakah kita memperhatikan massa atau manusia super, dalam filsafatnya.

3. Ortega membedakan pengertian “pribadi” (persona, personeidad) “diri” atau “aku” dengan “kepribadian” atau “personalitas” (personalidad). Kepribadian adalah pola perilaku seseorang di dalam dunia. Pribadi (persona) adalah akar struktural dari kepribadian itu. Suatu inti identitas yang “terletak di bawah” (suppositum) pelbagai fakta pengalaman yang berbeda-beda bahkan sering tidak berhubungan satu sama lain Hidup manusia akan menjadi hidup ontetik atau hidup sejati apabila kepribadian sesuai dengan pribadi (persona). Hidup manusia akan menjadi semu atau tidak otentik manakala kepribadian mengabaikan pribadi (persona). Ini terjadi misalnya bila seseorang secara teoritis menolak pendapat bahwa manusia itu persona atau bila orang secara praktis membiarkan diri terseret arus “massa”, ikut-ikutan atau membiarkan kebebasannya dirampas. Hemat Ortega, hidup tidak otentik tidak hanya mengabaikan keakuan manusia, melainkan juga menggoyahkan sendi-sendi kehidupan bersama manusia dalam masyarakat.

Untuk memahami pengertian “persona” (“pribadi) dalam filsafat Ortega y Gasset, ada delapan kategori yang satu sama lain berkaitan. Pertama, persona tidak bisa diobjektivasi secara tuntas karena selalu berkembang dan bertumbuh. Kedua, persona bukan sesuatu yang selesai, bukan dalam pengertian Aristoteles sebagai potensi yang sudah ada yang harus terus menerus dijadikan aktual. Melainkan, persona adalah sang Aku yang oleh keterlibatannya dalam sejarahnya sendiri menciptakan potensi-potensinya yang baru. Ketiga, persona tak terselami sampai ke dasar-dasarnya, bukan karena jauhnya, melainkan justru karena keintimannya dengan kita. Seperti keintiman dua orang yang sedang bercinta juga sulit diselami dan dijelaskan bahkan oleh orang yang terlibat itu. Keempat, persona tidak bisa ditunjuk dengan nomor-nomor dan hanya bisa terungkap manakala orang menceritakan otobiografinya kepada orang lain. Kelima, persona sulit dikuantifikasi secara fisik-matematis. Dengan ini Ortega menyentuh bidang filsafat ilmu pengetahuan, khususnya ilmu pengetahuan kemanusiaan. Menurut Ortega ilmu modern gagal memahami manusia sebagai persona (pribadi) dan gagal pula memahami hubungan antar-pribadi. Ini semua disebabkan adanya kecenderungan fisik-matematis. Penalaran fisik-matematis untuk memahami manusia ditolak oleh Ortega. Ia mengusulkan “rasio-vital” atau penalaran vital yang juga disebutnya penalaran naratif, seperti bila orang menceritakan otobiografinya untuk memahami manusia sebagai pribadi (persona). Keenam, persona tidak memiliki eksterioritas tetapi mengungkapkan diri dalam kedirian orang lain secara serta merta. Ketujuh, persona pun tak bisa didekati dengan teori kemungkinan atau probabilitas karena persona ditandai oleh kebebasan. Kedelapan, hadirnya sang diri bagi orang lain tidak pernah netral, tetapi selalu efektif, selalu menggugah orang lain itu bukan saja terhadap satu atau beberapa fungsi saja melainkan secara menyeluruh.

Dari uraian di atas sudah tampak sekilas anggapan Ortega mengenai manusia sebagai pribadi. Pribadi sebagai inti identitas dan akar kepribadian serta prinsip pemersatu dari dunia lingkungan yang tanpa hadirnya persona akan tetap tinggal seonggok fakta yang berkeping-keping tanpa kebertautan satu sama lain. Manusia sebagai pribadi hanya bisa dimengerti “dari dalam”. Manusia tidak mungkin dipahami hanya dengan pendekatan “dari luar”. Pendekatan “dari luar” seperti pengukuran kuantitatif dari penalaran fisik-matematis yang perlu dalam ilmu alam sebagaimana diperlihatkan Galileo Galilei tidak lagi memadai untuk memahami manusia sebagai pribadi. Untuk mengerti manusia sebagai pribadi harus dipergunakan penalaran vital yang tak lain adalah penalaran naratif. Hidup sendiri harus dibiarkan mengungkapkan dirinya “dari dalam” melalui pengungkapan riwayat hidup.

4. Filsafat eksistensial mempertahankan pribadi. Penganut aliran ini menekankan segi tindakan pribadi. Seorang pribadi menemukan keotentikan atau eksistensianya dalam mengadakan eksistensinya, dalam bertindak. Dia akan mengembangkan dirinya sesuai dengan hukum yang tertulis dalam hatinya dan dengan bebas.

Incoming search terms:

  • pengertian pribadi
  • pribadi adalah
  • arti pribadi
  • definisi pribadi
  • APA ITU PRIBADI
  • apa yang dimaksud dengan pribadi
  • pengertian pribadi dan kepribadian
  • apa yang dimaksud pribadi
  • arti kata pribadi
  • pribadi artinya

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian pribadi
  • pribadi adalah
  • arti pribadi
  • definisi pribadi
  • APA ITU PRIBADI
  • apa yang dimaksud dengan pribadi
  • pengertian pribadi dan kepribadian
  • apa yang dimaksud pribadi
  • arti kata pribadi
  • pribadi artinya