Advertisement

PSIKOLOGISME

Inggris: psychologistn.

Advertisement

Beberapa Pengertian

1. Arti nonpeyoratif: a) Semua konsep dan masalah filosofis dapat direduksi pada suatu bentuk analisis psikologis, b) Serma, bidang filsafat dapat dijelaskan atas dasar prinsip-prinsip psikologis, dan bidang-bidang seperti etika dapat dilihat sebadai tidak lebih daripada psikologi terapan, c) Ciri-ciri esensial dari analisis psikologis: aa) introspeksi (mawas diri) dan bb) observasi.

2. Arti peyoratif: Psikologisme merupakan kesalahan pengandaian bahwa konsep-konsep dan masalah-masalah filosofis dapat direduksi pada, dan dipecahkan oleh, analisis psikologis. Kegagalan untuk membedakan antara uraian psikologis mengenai asal usul pengetahuan kita dalam suatu aktivitas pemikiran dengan struktur psikologis, kualitas, dan kejujuran isi pengetahuan itu.

 

Pengertian Terkait

Psikologisme memberikan prioritas mutlak di antara semua ilmu pada psikologi. Dengan cara tertentu psikologisme menuntut menggantikan logika dan teori pengetahuan. Karena bagi psikologisme sebab-sebab rohani yang menghasilkan putusan, sekaligus merupakan norma-norma kebenaran. Pemikiran yang terjadi secara normal, yaitu menurut hukum sebab-sebab psikologis, adalah benar. Tergantung pada bagaimana norma ini dipahami, dibuatlah pembedaan antara bermacam-macam bentuk psikologisme. Bagi antropologisme norma tersebut terdapat dalam hakikat spesifik dari manusia sehingga terdapat satu norma umum kebenaran bagi semua orang dan hanya bagi mereka. Bentuk-bentuk lain dari psikologisme membatasi norma tersebut, bahkan lebih. Menurut psikologisme tipologis (Dilthey, Leisegang), tipe-tipe pemikiran yang berbeda niscaya menuju ke pandangan-pandangan dunia yang berbeda. Menurut historisisme, tingkat mutakhir dari perkembangan budaya memberikan pengaruh yang menentukan pada norma kebenaran. Suatu generalitas tertentu dari kebenaran dinyatakan entah karena suatu “jiwa budaya” (Otto Spengler) bagi level kebudayaan yang sama, entah pula karena suatu “jiwa ras” (Biologisme) bagi ras yang sama, atau pun karena kondisi-kondisi ekonomi (Marxisme). Relativisme kebenaran merupakan suatu unsur umum dalam semua bentuk psikologisme.

Pada dasarnya penolakan terhadap psikologisme mengalir secara logis dari penolakan terhadap relativisme. Berkaitan dengan kombinasi psikologi dengan logika dan epistemologi, tentu saja dapat dikatakan bahwa ilmu-ilmu ini sesungguhnya berkaitan dengan objek yang sama: yaitu, dengan pengetahuan, tetapi dari sudut pandangan yang pada dasarnya berbeda. Psikologi bergumul dengan sesuatu yang terjadi dalam subjek; dengan syarat-syarat bagi asal usul dan eksistensinya subjek; dan hanya dengan isi sejauh subjek memberikan suatu pengaruh pada asal usulnya. Namun logika mengabstraksi dari semua itu. Logika hanya berupaya dengan konsep-konsep dan hubungan-hubungan satu sama lain, dengan ketepatan dan keabsahan berpikir. Epistemologi mempelajari kebenaran pengetahuan. Yaitu, apakah kebenaran itu terbentuk menurut tuntutan objek tertentu atau tidak. Dengan demikian terbentuklah suatu norma yang independen dari hakikat subjek tersebut. Bahkan kesimpulan-kesimpulan yang tidak tepat secara logis dan putusan-putusan yang salah secara objektif sesuai dengan hukum-hukum psikologis. Dengan demikian norma kebenaran, hukum-hukum logis dan hukum-hukum psikologis semuanya merupakan kenyataan-kenyataan yang berbeda.

Advertisement