Advertisement

PUTUSAN

Inggris: judgement, judge dari Latin judex, jus (hak, hukum), dicere (mengatakan).

Advertisement

Pengertian

Putusan merupakan kegiatan sentral pengetahuan manusia yang dipelajari filsafat demi nilai logis dan metafisisnya. Studi atau ilmu logika meneliti putusan itu sebagai suatu bentuk-pikiran menurut struktur esensialnya dan ciri niscayanya. Karena itu putusan itu sendiri berbeda dari konsep tunggal dan inferensi. Konsep memberikan pengetahuan, baru dalam tahap awal saja. Karena ia hanya menangkap isi-isi ide tanpa menghubungkannya dengan eksistensi dan tanpa mengungkapkan isi-isi ide itu dalam eksis¬tensinya melalui sebuah afirmasi. Namun, putusan membawa pengetahuan kepada aktualisasinya yang penuh. Karena ia menghubungkan isi-isi ide dengan eksistensi dan mengungkapkan isi-isi ide itu dalam eksistensinya melalui sebuah afirmasi. Di lain pihak, inferensi tidak memberikan kesempurnaan lebih jauh bagi afirmasi sebagaimana adanya, melainkan peningkatan dari satu afirmasi ke afirmasi lainnya.

Sebuah hipotesis juga merupakan sebuah putusan, dan secara objektif bisa benar dan bisa salah, meskipun belum dibuktikan atau tidak dibuktikan. Hukum-hukum ilmu adalah putusan-putusan. Kebenarannya sudah dibuktikan. Gagasan-gagasan yang tidak dapat dicirikan sebagai benar atau salah belum (tidak) merupakan putusan-putusan (misalnya pertanyaan-pertanyaan, perintah- perintah, permohonan-permohonan).

 

Struktur Putusan

Struktur putusan yang lebih tepat dapat dijelaskan dalam hal proposisi. Karena tugas proposisi ialah menjadi ungkapan linguistik atau tanda indrawi dari putusan. Proposisi menghubungkan sebuah predikat dengan sebuah subjek dengan kopula “adalah” (“is”). Berbeda dengan konsep majemuk (misalnya, manusia fana), esensi proposisi dan karenanya juga esensi putusan, terletak dalam kopula itu. Kopula itu tidak sepenuhnya efektif kalau ia hanya menetapkan (memapankan) hubungan predikat dengan subjek. Kopula akan efektif sepenuhnya bila ia mengungkapkan hubungan predikat yang terkait, dengan eksistensi dan karenanya mengafirmasikan eksistensi. Misalnya, “Manusia adalah fana.”

 

Kebenaran dan Putusan

Untuk menjamin kebenaran proposisi dan putusan, sebagian filsuf mengandaikan operasi dari proposisi-proposisi sebagai proposisi. Pro- posisi-proposisi semacam ini tidak berada di luar realitas melainkan sungguh-sungguh berdiri dengan cara tertentu. Pandangan ini, yang merefleksikan teori Plato tentang ide-ide, tidak mutlak atau niscaya. Karena kebenaran putusan itu dijamin sepenuhnya oleh fakta bahwa isi ide yang diungkapkan itu, ada dalam realitas. Juga, bentuk pernyataan hanya menggambarkan cara (berlandaskan realitas yang ada) manusia harus membentuk realitas itu agar menangkapnya dalam pikiran.

 

Atribut dan pembagian putusan

Kualitas putusan terletak dalam kopula sejauh kualitas itu meng-hubungkan predikat dengan subjek atau melepaskan predikat dari subjek, entah sebagai afirmasi (pengakuan) atau negasi (pe-nyangkalan). Afirmasi ditandai dengan “is” dan negasi, “is not.” Dengan demikian kita memiliki putusan-putusan afirmatif dan putusan-putusan negatif.

Demikian pula, modalitas putusan termasuk kopula, di mana modalitas itu juga mengungkapkan bentuk “is” dan “is not.” Karena itu terdapat tiga macam putusan. Pertama, putusan-putusan apodiktik. Putusan-putusan semacam ini menyatakan sesuatu sebagai mutlak perlu atau mutlak mustahil. Kedua, putusan-putusan aser- tatori. Putusan-putusan jenis ini hanya mengatakan “is” atau “is not” tanpa menentukan mode (modus). Dan ketiga, putusan-putusan problematis. Putusan-putusan seperti ini mengungkapkan kemungkinan dan bahkan kemungkinan dari non-eksistensi.

Menurut luasnya subjek, terdapat kuantitas yang berbeda dari putusan. Dengan demikian, kita dapat membuat pembedaan antara putusan universal, partikular, singular dan tidak tertentu (indefinite). Dalam putusan tidak tertentu, luasnya subjek tetap tidak tertentukan.

Menyangkut hubungan predikat dengan subjek, putusan afirmatif selalu menetapkan (posit) identitas dari keduanya setidak-tidaknya identitas material. Disebabkan identitas ini, predikat sebenarnya termasuk subjek. Misalnya, “Petrus ada di rumah.” Namun identitas formal bisa ada sekian rupa sehingga predikat pada hakikatnya terkandung dalam subyek. Nah, putusan-putusan semacam ini disebut putusan-putusan identitas. Namun putusan-putusan ini sama sekali tidak identik dengan putusan-putusan tautologis. Dalam putusan-putusan terakhir ini predikat semata-mata mengulangi apa yang telah dinyatakan subjek. Pun pula putusan-putusan identitas pada dasarnya tidak bersifat analitis. Sebaliknya, putusan-putusan identitas juga dapat menjadi putusan-putusan sintetis. Misalnya, “Setiap eksisten kontingen menuntut suatu sebab.” Putusan-putusan dapat dibagi ke dalam putusan tunggal dan putusan jamak. Putusan-putusan tunggal merupakan putusan-putusan yang di dalam batas-batas sistem logis tidak dapat direduksikan pada putusan-putusan lain. Putusan-putusan jamak dibuat dari putusan-putusan tunggal dengan pelbagai hubungan rangkaian logis. Misalnya, konjungsi “dan” , “jikalau … maka” ( IMPLIKASI). Kebenaran atau kesalahan putusan-putusan jamak merupakan fungsi kebenaran atau fungsi kesalahan putusan-putusan tunggal Dengan mengetahui nilai putusan-putusan tunggal, maka kita dapat menentukan nilai (kebenaran atau kesalahan) putusan-pu-tusan jamak. Putusan-putusan majemuk berdiri sejajar dengar putusan-putusan tunggal. Sementara putusan-putusan kategoris tunggal menyatakan sesuatu secara mutlak, maka putusan-putusan kondisional menambahkan sebuah syarat pada proposisi yang lebil maju. Contoh: putusan kategoris: “Saya akan belajar.” Contoh putusan kondisional: “Saya akan belajar, kalau saya mempunya waktu.”

Putusan-putusan disjungtif membangun situasi atau/atau. Misalnya “Saya akan belajar atau bermain.” Di lain pihak, putusan-putusai konjungtif menyangkal bahwa dua pernyataan dapat benar sekaligu (pada saat bersamaan). Misalnya, “Saya tidak dapat belajar dan bermain pada saat yang sama.” Putusan-putusan kopulatif menghu bungkan, dalam proposisi yang sama, beberapa subyek atau (dan beberapa predikat. Misalnya, “Saya dan temanku sedang belajar Saya sedang belajar dan mencari uang pada saat yang bersamaan. Di antara beberapa putusan terdapat sebuah ekuivalensi, kalai kebenarannya (atau kesalahannya) sama-sama tersirat.

Advertisement