PENGERTIAN – ARTI RASIONALISME

144 views

RASIONALISME

Inggris rationalism, dari Latin ratio (akal). Prinsip bahwa akal harus diberi peranan utama dalam penjelasan. Penerapan prinsip ini mempunyai banyak konsekuensi yang berbeda-beda.

Secara umum, rasionalisme adalah pendekatan filosofis yang menekankan akal budi (rasio) sebagai sumber utama pengetahuan, mendahului atau unggul atas, dan bebas (terlepas) dari pengamatan indrawi. Beberapa ajaran pokok:

1. Dengan proses pemikiran abstrak kita dapat mencapai kebenaran fundamental, yang tidak dapat disangkal a) tentang apa yang ada dan mengenai strukturnya, dan b) tentang alam semesta pada umumnya.

2. Realitas dapat diketahui atau beberapa kebenaran tentang realitas dapat diketahui secara tidak tergantung dari pengamatan, pengalaman, dan penggunaan metode empiris.

3. Pikiran mampu mengetahui beberapa kebenaran tentang realitas yang mendahului pengalaman apa pun juga (tetapi yang bukan kebenaran analitis). Kebenaran-kebenaran ini adalah gagasan bawaan dan secara isomorfis cocok dengan realitas.

4. Akalbudi adalah sumber utama pengetahuan, dan ilmu pengetahuan pada dasarnya adalah suatu sistem deduktif yang dapat dipahami secara rasional yang hanya secara tidak langsung berhubungan dengan pengalaman indrawi ini.

5. Kebenaran tidak diuji dengan prosedur verifikasi-indrawi, tetapi dengan kriteria seperti: konsistensi logis.

6. Terdapat metode (cara) rasional (deduktif, logis, matematis, inferensial) yang dapat diterapkan pada materi soal pokok apa saja dan yang dapat memberikan kita penjelasan yang memadai.

7. Kepastian mutlak mengenai hal-hal adalah ideal pengetahuan dan sebagian dapat dicapai dengan pikiran murni. Kepastiat (dan keniscayaan) mutlak adalah ciri pokok baik dari realitas maupun dari semua pengetahuan yang benar.

8. Hanya kebenaran-kebenaran niscaya dan benar pada dirinya sendiri, yang timbul dari akal budi saja, yang dikenal sebagai benar, nyata, dan pasti; semua yang lain tunduk kepada ke keliruan, kesesatan, ilusi, dan ketidakpastian.

9. Alam semesta (realitas) mengikuti hukum-hukum dan rasionalitas (bentuk) logika. Ia adalah suatu sistem yang dirancang secara rasional (logis) yang aturannya cocok dengan logika.

10. Begitu logika dikuasai, segala sesuatu dalam alam semest dapat dianggap dideduksi dari prinsip-prinsip atau hukum hukumnya. Berbeda dari aliran pemikiran seperti: Empirisme Positivisme-logis; Intuisionisme; Relasionisme.

Pandangan dalam Sejarah Filsafat

1. Parmenides menganggap mungkin, berdasarkan prinsip ini mengidentikkan yang rasional dengan yang real, sambil meng uraikan realitas dalam konteks yang jauh dari pengalaman in drawi. Plato, yang membayangkan dialektika sebagai mulai berlangsung, dan berakhir di dalam ide-ide, pada dasarnya se orang Rasionalis juga.

2. Istilah ini biasa digunakan dalam ungkapan “Rasionalis Kontinental”, untuk menunjuk filsuf-filsuf abad ke-17, Descartes Spinoza, dan Leibniz.

3. Pada abad ke-18 para filsuf Pencerahan baik di Perancis mau pun Jerman dianggap Rasionalis. Namun dalam penggunaai ini, arti istilah itu telah berubah dalam tingkat tertentu. D sini Rasionalis berarti mengikuti pengetahuan baru dan bukai cara-cara lama.

4. Dalam abad ke-19, sebagian besar karena pengaruh Hege Rasionalisme kemudian dikaitkan dengan Idealisme filosofi!

Hegel mengidentikkan yang rasional dan yang real atas cara yang mirip dengan Parmenides. Teori Koherensi tentang kebenaran tumbuh subur di kalangan kaum Idealis abad ke-19, pengikut Hegel. Dalam teori ini, tanda-tanda kesatuan sistem acis, dan bukan korespondensi dengan fakta belaka, menjadi tes kebenaran.

5. Dalam teologi penerapan prinsip ini menyediakan arti-arti tambahan: a) Terkadang istilah itu menunjuk pada pendekatan keyakinan religius, di mana akal menggantikan iman. b) Adakalanya disamakan dengan Modernisme, entah dalam bentuk Protestan (studi kritis teks Alkitab) atau Katolik (penyandaran pada akal secara berlebihan).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *