SEJARAH

Inggris: history, dari bahasa Yunani bistoria, yang berarti informasi atau pencarian.

Beberapa Pengertian

1. Dalam arti luas sejarah adalah setiap peristiwa (kejadian). Karena itu, kita berbicara mengenai sejarah bumi atau sejarah alam.

2. Dalam arti sempit sejarah harus dibedakan dari setiap peristiwa alam yang dapat dijelaskan berdasarkan sebab-sebab efisiennya dan dengan demikian hanya merupakan salah satu contoh dari suatu hukum. Dalam arti sempit ini sejarah merupakan suatu peristiwa manusiawi yang mempunyai akarnya dalam realisasi- diri dengan kebebasan dan keputusan daya rohani.

Penelitian Sejarah

Ungkapan “penelitian sejarah” perlu untuk membedakan jenis riset yang menggeluti peristiwa-peristiwa yang sudah berlalu secara berurutan atau menurut waktu dari jenis penelitian ilmiah yang memperlakukan data dan hukum-hukum pengaturannya bukan menurut urutan waktu. Terdapat suatu posisi antara sejarah sebagai penelitian rangkaian urutan peristiwa-peristiwa dan ilmu teoretis sebagai penelitian hukum-hukum pengatur. Mereka yang menduduki posisi ini mengklaim menemukan hukum-hukum, yang sering dilihat sebagai tahap-tahap perkembangan, dalam peristiwa-peristiwa sejarah.

Pandangan Beberapa Filsuf

A. Sejarah Pada Umumnya

1. Aristoteles membedakan sejarah dari puisi dan filsafat. Menurutnya, sejarah bergelut dengan yang partikular, sedangkan puisi dan filsafat dengan yang universal sejarah dengan apa yang aktual sudah terjadi, sedangkan puisi dan filsafat dengan apa yang ada atau mungkin ada.

2. Francis Bacon membagi sejarah ke dalam yang natural, sipil, eklesiastikal, dan literer yang pertama menggumuli bagian dunia yang bukan manusia. Sejarah dibedakan dari disiplin-disiplin lain oleh materi pokoknya: sejarah mempelajari apa yang berkisar dalam waktu dan tempat, dengan menggunakan ingatan sebagai instrumen esensial.

3. Vico-lah filsuf pertama yang menandaskan bahwa sejarah adalah disiplin ilmu pertama dari manusia. Dia menyatakan bahwa manusia dapat mengerti hanya apa yang sudah dibuatnya sendiri. Karena manusia telah menciptakan sejarah, sejarah mesti merupakan sentral pengertiannya.

4. Herder, dengan mengandaikan untuk pertama kalinya individualitas tiap zaman dan kebudayaan, mencanangkan metode genetik analisis historis.

5. Hegel menjadikan sejarah lebih sentral lagi, dengan memandang sejarah sebagai tempat kegiatan akal ilahi beroperasi dan dapat diamati.

6. Schelling menggunakan periodisitas, yang menemukan tiga tahap dalam gerakan sejarah.

7. Carlyle menampilkan teori “manusia agung” tentang sejarah, seraya menafsirkan yang terdepan dari semua manusia agung sebagai faktor penentu dalam perubahan sejarah.

8. Dilthey berpendapat bahwa sejarawan dibatasi oleh perspektif-perspektif zamannya. Sudut pandangan ini, yang dikenal dengan nama Historisisme, menolak kemungkinan sejarah objektif.

9. Ritschl dan Troeltsch bergulat dengan problem relasi antara sejarah dan iman keagamaan. Mereka membela pandangan bahwa Kristianitas muncul dari sejarah, tetapi tidak tergantung padanya.

10. Windelband menerapkan istilah “ideografik” pada sejarah sebagai salah satu ilmu kebudayaan. Ini adalah ilmu- ilmu tentang “forma individual”.

11. Max Weber dan Edward Spranger berpendapat bahwa “tipe ideal” dapat diekstrapolasikan dari sejarah, dan menjadi basis studi dalam ilmu-ilmu sosial.

12. Rudolf Otto, seorang neo-Kantian dari Mazhab Goettingen, menggunakan sejarah untuk memperoleh konsep- konsep yang diperlukan dalam bidang Filsafat Agamanya, yang lalu dia kembangkan secara sistemamtis. Para anggota Mazhab Goettingen sering mengangkat pendekatan sejarah macam ini.

13. Croce memandang filsafat dan sejarah sebagi unsur-unsur yang tak terpisahkan dalam perkembangan kehidupan roh. Dalam praktik, ini berarti memandang filsafat dalam konteks sejarah dan bukan sebaliknya.

14. Collingwood memberikan perspektif sejarah suatu tempat istimewa di antara banyak bidang pengalaman manusia, seraya mengakui bahwa masing-masing memuat suatu aspek kebenaran.

Sejarah Filsafat.

Beberapa filsuf memandang sejarah filsafat sebagi problem khusus.

15. Hegel menganggap pola dialektis tesis-antitesis-sintesis sebagai penanda kemajuan sistem-sistem filsafat dalam sejarah filsafat.

16. Victor Cousin mengklasifikasikan semua sistem filsafat sebagai mewakili satu dari empat tipe: sensualisme, idealisme, skeptisisme, atau mistisisme.

17. Brentano berkeyakinan bahwa filsafat melintasi tahap- tahap praktikalitas, skeptisisme, dan mistisisme di antara periode-periodenya yang penuh daya kehidupan.

18. S.C. Pepper mengetengahkan bahwa semua sistem metafisika dapat dicirikan sebagi contoh-contoh Formisme, Mekanisme, Organisme, atau Kontekstualisme.

19. R P McKeon menemukan suatu siklus yang selalu kembali dalam sejarah filsafat. Filsafat berputar-putar sekeliling epistemologi, bila sistem-sistem metafisis berlipat ganda, dan kemudian sekeliling studi bahasa tatkala epistemologi- pistemologi juga berlipat ganda.

C. Kita membedakan antara studi Sejarah dan studi Filsafat Sejarah, dengan alasan bahwa yang disebut terakhir menemukan dalam sejarah pola-pola atau hukum-hukum tertentu.

20. Atas dasar itu, versi waktu kuno sebagai sesuatu yang bergerak dalam siklus-siklus raksasa yang dianut baik di Timur maupun di Barat, yang mengarah pada kemunduran dan kelahiran kembali masyarakat-masyarakat manusia dicirikan sebagai filsafat sejarah. Di Timur siklus itu terdiri dari kelahiran alam semesta dari Allah, dan peleburannya kembali. Bangsa Yunani menganut pandangan dunia, termasuk masyarakat manusia, yang melintasi periode-periode kelahiran dan kemunduran. Wakil modern pandangan siklis ini adalah Nietzsche dengan doktrinnya tentang rekurensi eternal.

21. Tradisi Judeo-Kristen mengubah periodisasi waktu dari siklus ke progresi atau dari siklus ke konsep busur. Dalam Agustinus zaman-zaman menampilkan kejatuhan dan kebangkitan kembali yang ditandai firdaus, pengusiran, periode hukum, dan Kedatangan Kedua.

22. Joachim menemukan tiga periode dalam sejarah: Zaman Hukum, Zaman Injil, dan Zaman Roh.

23. Sekitar abad ke-18 progresi telah disekularisasikan dan digambarkan sebagai gerak maju dari kebinatangan primitif menuju utopia. Para filsuf Perancis mendorong popularitas ideal ini. Condorcet, misalnya, mendapati 10 (sepuluh) tahap kemajuan manusia. Masyarakat yang sekarang berada dalam tahap terakhir.

24. Vico menganut perspektif ganda. Masyarakat-masyarakat manusia bergerak melalui tiga tahap: dari zaman dewata melalui zaman para pahlawan ke zaman manusia. Sementara itu, di balik layar, berlangsung sejarah ideal yang dikendalikan penyelenggara ilahi.

25. Auguste Comte memperkenalkan tiga tahap dalam pandangannya tentang kemajuan manusia. Masyarakat bergerak dari tahap teologis lewat tahap metafisis ke tahap ilmiah. Pada tahap terakhir ini, apa pun problem yang dihadapi manusia akan melahirkan penelitian ilmiah.

26. Hegel menyusuri kemajuan manusia melalui suatu dialektika yang sarat dengan kesukaran, seraya menonjolkan oposisi-oposisi dan penyelesaiannya, saat Sang Absolut merealisir hakikatnya dalam sejarah dunia.

27. Marx dan Engels, dengan menjungkir-balikkan Hegel, mengembangkan suatu Materialisme Dialektis, yang bergerak menuju tujuan ideal melalui pertentangan-pertentangan kelas, dan penyelesaiannya. Tujuan ideal, suatu masyarakat tanpa kelas, tak dapat ditawar-tawar. Manusia berfungsi hanya untuk mempercepat kedatangannya.

28. Spengler kembali ke konsep siklis, sebagaimana diterapkan pada masyarakat-masyarakat individual. Dengan menyangkal kemungkinan sejarah universal (suatu ide kumulatif), ia menyatakan bahwa tiap masyarakat mesti dikaji dalam kerangkanya sendiri. Namun begitu, masyarakat dapat dibandingkan secara struktural. Maksudnya, tiap masyarakat melintasi suatu siklus yang ditandai kelahiran, pertumbuhan, usia lanjut, dan kematian; dan sejarah tiap masyarakat terdiri atas tahap kebudayaan dan peradaban.

29. Toynbee mengangkat pandangan Spengler, bahwa unit analisis adalah masyarakat individual, seraya memodifikasi tema inevitabiiitas kemerosotan. Dia mengembangka kategori-kategori internal analisis: tantangan dan jawabai penarikan dan kemunculan kembali, minoritas kreatf dan mayoritas transmitif.

Peranan Manusia

Sejarah dalam arti sempit menyingkapkan dirinya sendiri sebagi suatu cara kerja yang khas insani (sejarah sebagai tempat da arah kehidupan manusia). Sejarah termasuk kodrat manusia. Manusia hidup dalam sejarah dan membuat sejarah. Segala sesuat yang dikerjakan oleh manusia, ia kerjakan sebagai suatu makhluk historis.

Agar suatu peristiwa menjadi historis, kejadian itu harus dihubungkan dengan manusia, dan bukan hanya dengan individu-individu sebagai individu melainkan dengan keluarga manusia. Alas annya, individu tidak secara langsung menjadi anggota umat m;- nusia melainkan hanya sebagai anggota suku, suku bangsa ata) bangsa. Dalam kenyataan faktual, suatu peristiwa historis selalj terjadi karena pribadi-pribadi perorangan, tetapi pada hakikatnya tetap berhubungan dengan komunitas.

Selanjutnya, penelitian sejarah (ilmu sejarah) dan pelaksanaannya (misalnya sejarah perang saudara) juga disebut sejarah. Menuru cara penyajian, suatu pembedaan dibuat antara sejarah naratif, interpretatif dan genetis.