SENSUS

Inggris: sense. Dari Latin sensus, sentire (merasa, menerima).

Beberapa Pengertian

1. Indra. Indra dipakai dalam arti subyektif maupun dalam arti objektif. Dalam yang pertama, kita menemukan banyak indra yang merupakan kemampuan pengenalan manusia dan binatang. Kemampuan ini langsung atau secara intuitif memahami tampakan-tampakan dunia jasmani. Kendati pada dasarnya indra- indra itu merupakan bagian jiwa, akan tetapi kemampuan indra secara niscaya terikat pada organ-organ jasmani (Pengetahuan Indrawi).

Terdapat perbedaan antara indra eksternal dan indra internal. Yang pertama menghasilkan pencerapan-pencerapan pertama dari kesan-kesan yang sudah diterima. Sedangkan, yang belakangan “menafsirkan” lebih lanjut bahan pencerapan/sensasi. Gagasan “sensibilitas” diperoleh dari sumber ini. “Sensibilitas” mengacu kepada totalitas semua kemampuan indrawi  tidak hanya dalam tata pengetahuan tetapi juga dalam tata keinginan.

Kemampuan-kemampuan dalam tata keinginan ini disebut “indrawi” karena kemampuan-kemampuan tersebut seluruhnya tergantung pada indra. Kalau sensibilitas, yang dipahami dalam arti sempit, hanya mengacu pada dorongan-dorongan indrawi dan pada akhirnya hanya pada kemampuan, dari sudut pandangan filosofis sensibilitas tidak begitu penting artinya.

2. Arti “sensus” yang diberikan sejauh ini diterapkan juga, secara luas, pada kehidupan roh. Melalui indra-indranya manusia dapat menangkap warna, bunyi, dan sebagainya. Karena itu, bila seorang pribadi terbuka kepada, atau menangkap, sesuatu, kita juga dapat mengatakan: Dia mempunyai “sensus” untuk itu (misalnya, untuk musik, untuk atletik, untuk agama). Di sini “sensus” berarti kemampuan untuk menerima atau kemampuan untuk terbuka kepada yang lain.

3. Sumber kemampuan-kemampuan ini adalah sensibilitas manusia yang merupakan medium (perantara) rohani. Sensibilitas sebagai medium spiritual ini memungkinkan manusia terbuka kepada, dan berhubungan dengan segala sesuatu. Selanjutnya, pemikiran dan kehendak manusia tergantung pada medium ini. Dalam hal ini “sensus” berarti daya atau kemampuan untuk mengetahui. Untuk jelasnya kita ambil contoh dalam bahasa Inggris: to sense something. Di sini berarti: mengetahui sesuatu.

4. Secara objektif, “sensus” menunjukkan kemampuan manusia untuk meraih makna, yakni apa yang berkaitan dengan pengertian manusia, dan menjadikan sesuatu yang ada dapat masuk akal.

5. Keterarahan kepada suatu tujuan merupakan makna sesuatu, sejauh ia memungkinkan kita memahami “sesuatu” itu dengan hakikatnya yang istimewa atau paling sedikit dalam kehadiran aktualnya. Dengan demikian, kita berbicara tentang makna kehidupan, sejarah, kejahatan, aktivitas atau peristiwa, organisasi-organisasi. “Makna/arti formal” yang lebih statis berkaitan dengan watak dinamis yang utama dari makna atau arti teleo- logis. Kita menyebut struktur bagian bermakna kalau struktur bagian itu mendukung keseluruhan. Demikian pula, kita menyebut struktur keseluruhan bermakna, kalau keseluruhan itu sesuai dengan tujuannya (misalnya, struktur mata). Hal yang sama-sama dinamis dan statis adalah struktur makna atau arti. Struktur makna atau arti ini terungkap dalam aktivitas-aktivitas dan ciptaan-ciptaan roh oleh ilmu-ilmu manusia dan dapat masuk akal berdasarkan nilai-nilai yang bertujuan menentukan struktur-struktur makna atau arti tersebut. Makna atau arti teleologis selalu menuntut agar tujuan dapat dicapai dan masuk akal dalam dirinya sendiri. Sebab kalau tidak, pengejaran tujuan sia-sia (tidak bermakna).

6. Berhubungan dengan makna objektif ialah makna semantik. Yaitu, referensi dari suatu tanda yang menunjuk pada apa yang ditandakan atau pada artinya (bandingkan arti dari suatu jabatan tangan). Yang sangat penting ialah arti yang termasuk perkataan dan kalimat-kalimat kita.

Incoming search terms:

  • arti kata sensus

Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • arti kata sensus