SOSIOLOGI

Inggris: sociology, dari Latin socio (berserikat) dan logos (pengetahuan). Istilah ini diangkat untuk mengacu studi bentuk, lembaga, fungsi, dan keterkaitan kelompok manusia.

Pandangan Beberapa Filsuf

1. Istilah ini diperkenalkan oleh Comte untuk menunjukkan sebuah ilmu baru, yang paling lengkap dan menyeluruh dari semua ilmu lain, yang bergulat dengan fenomena sosial. Karakter yang dia harapkan dari disiplin ini dapat diketahui dari istilah “fisika sosial”, nama awal yang dia berikan untuk subjek itu.

2. Perhatian Marx terhadap peranan kias-kias dalam masyarakat, dan hubungan ekonomi dengan kebudayaan membuatnya diabadikan sebagai salah seorang tokoh awal dalam perkembangan sosiologi.

3. Herbert Spencer memperlakukan masyarakat sebagai suatu entitas, dengan memperkenalkan analogi organismik ke dalam karakterisasi kodratnya. Comte menerapkan pertama kali analogi yang bersangkutan pada masyarakat. Spengler mem¬perkuatnya.

4. Sumner menganggap “folkways” (adat istiadat) sebagai konsepsi sosiologis pokok. Adat istiadat menjadi kebiasaan (hal- hal moral), dengan mengumpulkan sanksi dalam perjalanan waktu.

5. Pareto memperkenalkan istilah “residu” dan derivasi untuk mengacu unsur-unsur masyarakat yang baru dan yang selalu kembali lagi.

6. Durkheim menekankan peranan “fakta sosial” untuk melahirkan “representasi kolektif” dan “hati nurani kolektif dalam masyarakat.

7. Max Weber mempelajari masyarakat lewat pengkonstruksian “tipe-tipe ideal”.

8. Ferdinand Toennies membedakan antara asosiasi dan komunitas. Asosiasi lahir dari “kehendak rasional” dan komunitas dari kehendak yang lebih dalam dan hakiki.

9. Neurath memakai pendekatan positivistik fisikalisme dalam “sosiologi empiris”-nya.

10. Sorokin memperkenalkan kembali suatu yang absolut, seraya mengetengahkan bahwa masyarakat dibentuk sebagiannya oleh penempatannya terhadap yang absolut, yang mesti diakuinya dalam suatu bentuk.

11. Talcott Parsons berkeyakinan bahwa sosiologi bertugas menganalisis pelembagaan pola-pola orientasi nilai.